[26]

4.3K 624 33
                                        

Begitu bulan baru naik ke tengah langit malam, hawa rumah ini langsung diselimuti dingin yang bisa aja nusuk manusia biasa yang bukan seorang partner.

Lorong lantai dua sepi, kayaknya udah pada masuk kamar semua.

Eits, tapi ada satu orang yang jalan membelah lorong yang cuma diterangi cahaya bulan itu.

Iya, Chang-Min.

Diem aja di kamar Young-Hoon bikin dia bosen. Jadilah dia keluar. Mungkin ke dapur untuk ngambil minum sama cemilan ga ada salahnya.

Dari lantai bawah kedengeran suara tivi. Chang-Min heran, bukannya semuanya pada di kamar ya biasanya.

"Hak-Nyeon? Ga di kamar?"

Chang-Min jalan nyamperin Hak-Nyeon yang duduk di sofa.

Hak-Nyeon noleh, senyum ke Chang-Min. "Sun-Woo tidur, nanti agak tengah malem biasanya baru bangun."

Dia cuma ngangguk denger jawaban Hak-Nyeon. Chang-Min jalan ke dapur, ngambil minum sama apel plus roti dari sana.

Dia duduk di samping Hak-Nyeon.

"Kak Young-Hoon ga ke sini kali, ya? Terus gimana? Ga apa-apa ga dapet darah dari gue?"

Chang-Min fokus liat tivi sambil buka bungkus rotinya. Hak-Nyeon ngeliatin Chang-Min makan.

"Kalian lagi berantem, ya?" tanyanya. Hak-Nyeon ga suka bertele-tele soalnya.

Chang-Min ga langsung jawab. Dia masih ngunyah, tapi sekarang nengok ke Hak-Nyeon.

"Gue cuma mau jujur aja sama dia, Nyeon. Gue sayang sama dia tapi cuma sebagai kakak.

"Waktu pertama dijadiin partner gue bahkan ga tau sama sekali. Gue berusaha terbiasa sama sistem kalian, gue berusaha terbiasa sama kelakuan dan sifat Kak Young-Hoon.

"Tapi kalo untuk cinta sama dia ... rasanya gue ga bisa, atau belum bisa, ya ga tau lah pokoknya saat ini gue cuma sayang sama dia karena gue partner-nya."

Mereka berdua ga pernah terlibat obrolan seserius ini.

Chang-Min cuma butuh seseorang yang ngerti dia tanpa judge apa pun. Karena perasaan ga bisa dipaksa.

Mau secinta apa pun Chang-Min di masa lalu ke Young-Hoon, tapi yang hidup di masa sekarang adalah Ji Chang-Min, bukan Trisa.

Chang-Min ga bisa pura-pura jadi Trisa karena emang faktanya dia ga inget sama sekali. Chang-Min cuma manusia biasa.

Hak-Nyeon ngerti banget perasaannya, karena awalnya Sun-Woo juga gitu ke dia. Ya bedanya Hak-Nyeon emang sejak awal sayang ke Sun-Woo sebagai adiknya aja. Cinta mereka sekarang tumbuh perlahan, dengan sendirinya.

"Gue cuma mau jujur, tapi kayaknya Kak Young-Hoon sakit hati, ya ...?"

Ada perasaan bersalah di diri Chang-Min, Hak-Nyeon tau itu.

"Lo mau nyusul Kak Young-Hoon, Kak?" tanya Hak-Nyeon.

"Dia di mana emang? Lo tau?"

Hak-Nyeon ngangguk. "Kalo ke sini lo suka liat satu mansion besar, kan? Kalo ke sini belok kiri, mansionnya belok kanan. Kalo dari arah sini nanti pertigaan lo ambil kiri, Kak. Kak Young-Hoon di situ."

Rotinya udah habis dimakan. Chang-Min senyum ke Hak-Nyeon. "Makasih, ya. Gue susul deh."

"Mau ditemenin, ga? Udah malem, Kak."

"Ga usah, nanti Sun-Woo bangun dia nyariin lo."

Chang-Min berdiri dan ngambil apelnya yang belum sempet dimakan sebelum akhirnya keluar rumah. Mobilnya yang diparkir sebelah mobil Sang-Yeon langsung melaju keluar gerbang.

Thrilling Love (Book I) || The BoyzCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang