Young-Hoon senyum waktu liat Sana yang lagi ngobrol sama Soo-Bin. Ternyata anaknya itu udah sadar.
Semalem Soo-Bin hampir sama kayak Sun-Woo, tapi ga separah itu. Tidurnya gelisah, badannya dingin. Jiwa vampirnya mulai muncul juga.
Sana ngeliatin Young-Hoon yang jalan ke arahnya. Ternyata Young-Hoon duduk di pinggir tempat tidur, di samping Soo-Bin untuk ngecek keadaannya.
"Masih ada yang sakit?" tanyanya sembari megangin kepala Soo-Bin.
Soo-Bin geleng pelan. Dia masih belum terbiasa dengan perhatian Young-Hoon. Kim Young-Hoon yang biasa dia liat sebagai sosok senior di agensi sekarang tau-tau punya hubungan yang lebih dari itu sama dia.
Young-Hoon tau apa yang anaknya ini pikirin. "Dari kapan ingetnya?" tanyanya kemudian.
Dia tau dari Je-No kalau Soo-Bin ga inget apa-apa waktu pertama kali diajak ngobrol. Bo-Min juga bilang gitu. Jadi asumsi Young-Hoon ya Soo-Bin ingatnya baru-baru ini.
"Beberapa hari belakangan aku mimpi aneh, Yah ...."
Soo-Bin merasa aneh sendiri manggil Young-Hoon dengan sebutan ayah, tapi Young-Hoon cuma senyum sembari dengerin.
"Tentang kehidupan vampir ... perang .... Awalnya semua buram, tapi lama-lama aku bisa ngenalin wajah orang-orang di mimpiku.
"Yang pertama aku liat ... Bunda. Aku pertama liat Bunda waktu kenalan sebagai trainee baru jadi aku merasa aneh dengan mimpi itu."
Sana yang duduk di kursi samping Soo-Bin ngusap kepala anaknya ini. "Aku juga kadang-kadang mimpi aneh. Soo-Bin yang nyapa aku lebih dulu, ceritain semua mimpinya.
"Awalnya aku ga percaya, tapi sewaktu Soo-Bin bawa Je-No dan jelasin semuanya, akhirnya aku mencoba percaya."
Young-Hoon ngangguk pelan, mulai ngerti dengan situasi mereka berdua.
"Kenapa ga coba bilang ke aku?" Young-Hoon ngusap tangan Sana dengan lembut.
Sana geleng pelan. "Kamu ... terlalu jauh. Kamu punya duniamu sendiri yang ga bisa sembarang orang masuki."
Kim Young-Hoon itu ... sulit digapai. Orang lain yang belum kenal dia entah kenapa segan sama dia, baik itu manusia atau vampir. Penggemarnya pun sebenernya bertanya-tanya kenapa aura Kim Young-Hoon bisa seperti itu.
"Setelah ini kalo ada apa-apa bilang aku, ya," Young-Hoon natap Sana, masih sambil genggam tangannya.
"Iya."
"Dan Soo-Bin juga kalo ada apa-apa sekarang panggil Ayah aja, ya? Atau minta tolong Je-No juga boleh."
Soo-Bin merasa nyaman sewaktu Young-Hoon ngusap kepalanya. Kondisi tubuhnya juga perlahan membaik.
"Iya, Yah."
"Ayo turun sarapan bareng yang lain. Nanti kamu dianter ke dorm sama manajerku," kata Young-Hoon ke Sana. "Soo-Bin selesai sarapan balik ke sini, ya, Ayah mau ngomong."
Soo-Bin agak lama mikir, tapi akhirnya ngangguk pelan.
Young-Hoon keluar lebih dulu, dia harus nelpon Chang-Min takutnya ada apa-apa di sana.
Dia menghilang di lorong lalu muncul di halaman, tepat di depan bunganya Hyun-Joon. Terlalu sibuk mikirin yang lain jadi lupa deh untuk benerin mawarnya.
Agak lama belum juga diangkat, apa Chang-Min masih tidur?
"Iya, Young-Hoon." Bukan suara Chang-Min, tapi Hoshi.
"Chang-Min mana, Kak?"
"Masih tidur. Dia baru tidur subuh tadi."
"Oh ... btw gue mau minta tolong anterin Sana ke dorm-nya lo bisa, Kak? Ga enak kalo minta Kak Seung-Cheol."
KAMU SEDANG MEMBACA
Thrilling Love (Book I) || The Boyz
FanfictionThe vampires finally found their partners, but will everything always be fine? The Boyz with other idols. bxb June 26 2019 - June 14 2020
