Rintihan air hujan, menambah suasana yang begitu suram malam itu. Gadis dengan tubuh mungilnya, memelukku begitu erat. Air matanya sudah tidak dapat dibendung. Hangatnya air mata, dipadukan dengan dinginnya air hujan, menyambut hangat tengkukku malam itu.
"Berjanjilah, untuk jadi sahabatku. Sampai kapan pun, Eli!" lirih gadis itu melepaskan pelukannya dariku.
Aku menatapnya kosong. Matanya yang sayu itu, terlihat berkedip dengan pelan. Lentiknya bulu mata, kini sudah berlinang air hujan.
"Kamu tau? Aku ini sungguh pelupa, bukan?"
Aku mengangguk pelan.
Dia melepaskan gelangnya dari tangannya. Lalu ia memaksa lenganku untuk mengambil gelang perak itu.
"Eli, aku punya dua gelang ini. Jadikanlah ini bukti, jika kamu bertemu denganku!"
Lagi-lagi aku mengangguk.
"Iya, kita akan menjadi sahabat selamanya. Pergilah! Ibumu sudah menunggumu sedari tadi!" Aku mendorong tubuhnya lembut, hingga ia berhasil melangkah perlahan meninggalkanku.
Dia pun perlahan berjalan menuju mobil yang sudah siap untuk melaju. Sesekali dia menatap diriku, tersenyum, sembari terus-menerus melambaikan tangan. Aku membalas senyumannya. Rasa sakit yang begitu mendalam, jelas terukir di wajahnya kala itu. Akhirnya, mobil itu pun melaju meninggalkan sisa heningnya malam, serata hujan gerimis yang membasahi kota.
"Eli, kemarilah!"
Sesosok pria paruh baya, ayahnya Kayla-sahabatku tadi, memanggilku. Dapat terlihat dengan jelas, hatinya begitu gundah, dan sangat sayu, karena dengan tega mengusir istri dan putri sulungnya demi wanita lain.
"Ada apa, Paman Anwar?"
Aku menghampiri Paman Anwar yang tengah terduduk lesu di depan rumahnya. Aku pun berinisiatif untuk duduk di sebelahnya.
"Kamu tahu, kan? Aku sangat menyayangi, Kayla?"
"Hmmm."
"Aku sudah berbicara dengan ibumu. Sekarang, kalian bebas pergi kemana pun. Aku sudah berikan kalian uang untuk membeli rumah baru, dan juga bekal hidup untuk satu tahun kedepan."
Aku mengerenyit heran. "Tapi, kenapa Paman?"
"Hanya dengan melihatmu dan ibumu, selalu mengingatkanku pada Kayla. Mengertilah! Jika sudah dewasa nanti, kau pasti akan mengerti."
"Baiklah, Paman. Mungkin besok kami akan pergi."
"Tapi, sebelumnya, bolehkah aku meminta sesuatu padamu?"
"Tentu saja. Aku mewakili ibuku dan juga kakakku, sungguh berterima kasih pada Paman. Kalau Paman tidak ada, mungkin kami sudah jadi gelandangan hari ini."
Paman Anwar mengangguk mantap. "Baiklah, meski aku sudah pisah dengan ibunya, Kayla tetaplah anakku. Aku cemas dengan hidupnya nanti. Berjanjilah padaku, setelah kau pergi dari sini, carilah Kayla! Jika sudah menemukannya, lindungilah dia meski nyawamu taruhannya. Sebagai imbalan, aku akan membiayai sekolahmu hingga kuliah nanti."
"Ya, Paman. Aku berjanji! Meski nyawaku taruhannya, aku akan memberikan semua yang aku punya pada Kayla."
Paman Anwar tersenyum. Ia menghampiriku lalu memelukku dengan lembut. "Kau sudah seperti anaku, seperti seorang kakak bagi Kayla, Eli."
🍂🍂🍂
11 tahun kemudian
Aku menatap pantulan bayang yang dihasilkan cermin, di depanku. Aku tersenyum, menampakan gigi gingsul dengan taring cukup panjang. Wajahku sungguh terlihat manis, dengan rambut sebahu, dan ikal di bagian bawahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cerpen 10 Days ✔
Short StoryAdalah sebuah project rutin grup kepenulisan FLC. Yaitu member akan membuat sebuah karya cerpen dalam jangka waktu 10 hari. Cover spektakuler dari salah satu mem kami : @Kuroyuki01
