2. I Miss The Beach

412 20 7
                                        

Desember 2004.

Bencana besar terjadi. Teriakan dari orang-orang terdengar begitu nyaring di telinga. Senua orang panik, berhamburan meninggalkan rumahnya untuk pergi mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.

Seorang gadis kecil, tengah berlari dengan jari-jari mungilnya membawa boneka kecil di tangannya. Ia terus berlari, mengikuti langkah kaki orang-orang dewasa yang kala itu mengungsi di Gunung yang jaraknya lebih tinggi dibandingkan Pantai.

Semua orang yang sudah berada di atas Gunung begitu berteriak histeris menyemangati orang-orang yang masih berusaha menyelamatkan diri dari amukan air laut.

Gadis itu berlari dengan dituntun sang Kakak laki-lakinya dengan langkah gusar. Nampak napas menggebu-gebu sudah sedari tadi keluar dengan bebas dari hidung dan mulut si gadis.

"Ami, ayo cepat! Nanti ombak keburu melahapmu!" seru Kakaknya itu sembari terus menarik, Ami adiknya.

"Aku sudah lelah, Kak. Kakak pergi duluan saja. Relakan Ami. Ikhlaskan Ami." Langkah sang adik nampak melemah, namun masih dalam tuntunan sang Kakak.

Genggaman Kakaknya lebih kuat lagi. Ia menarik adiknya untuk lebih cepat melangkah, mendaki gunung terjal yang dipenuhi ranting-ranting yang terbengkalai.

Bruk!

Ami tiba-tiba saja jatuh dalam genggaman Fathur, kakaknya.

"Ami!" teriak Fathur lalu mencoba membuat Ami kembali berdiri tegak.

Nahas, kakinya sudah terlilit rotan, sehingga ia tak mampu melepaskan diri. Beberapa kali pun Fathur menarik-narik Ami, ia tidak mampu melepaskan diri dari rotan.

Amukan air sudah nampak mulai mendekat pada Ami dan Fathur. Namun Fathur masih bersikeras untuk menyelamatkan adiknya itu.

"Tinggalkan Ami, Kak! Hiduplah dengan bahagia. Ami sudah rela dan ikhlas menyusul Ummi dan Abi yang sudah tenang di Surga, Kak!" Ami mencoba melepaskan tangan sang Kakak dari rotan dengan paksa.

"Tidak, Ami. Ini amanah dari Abi untuk selalu menjaga Ami." Fathur masih tidak mau menyerah, dia mencoba terus-menerus melepaskan kaki sang adik.

Tiba-tiba, seorang Pria dewasa nampak turun dari gunung.

"Fathur!" serunya.

Fathur dan Ami menoleh, menampakan sosok Pamannya dengan raut wajah sedih.

"Ayo ikut Paman, Fathur!" perintah sang Paman.

Dengan tenaga orang dewasa, Pamannya mampu menarik Fathur dari adiknya.

"Ikhlaskan saja Ami. Kamu harus tetap hidup," kata Pamanya mencoba memangku Fathur.

Fathur nampak bersikeras untuk turun. Ia begitu meronta-ronta di pangkuan Pamannya. Nahas, tenaga Pamanya lebih besar daripada tenaga amukan Fathur yang sudah mulai kelelahan.

"Paman cepat bawa Kakak, sebelum airnya naik!" teriak Ami pada Pamannya.

Pamannya nampak menatap Ami dengan sorot mata sendu. "Ami, maafkan kami. Tenanglah hidup di Surga sana dengan Abi dan Ummi kamu," ucap sang Paman lirih, kemudian kembali mendaki gunung.

"Ami!!!" teriak sang Kakak dengan tangis keras diselanya.

Ami mencoba tersenyum lebar. "Jaga diri Kakak baik-baik, jangan merepotkan saudara kita yang lain. Ami senang bisa memiliki Kakak, sebagai saudara Ami."

Air mulai naik, dan perlahan melahap tubuh sang gadis kecil, Ami. Fathur nampak menangis begitu keras tidak bisa menahan amarahnya. Ia terus meronta-ronta di pangkuan sang Paman. Dengan menahan pukulan kecil tanpa tenaga Fahtur, sang Paman mampu membawa Fathur ke tempat pengungsian.

Cerpen 10 Days ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang