Aku masuk ke gudang lamaku yang ada di sebelah rumahku. Sejak gudangku sudah dipindah ke tempat lain, sudah jarang sekali aku pergi ke gudang sana.
Lagipula, sekarang aku sedang kuliah sambil kerja sampingan, bahkan aku juga tidak tinggal lagi di rumah orang tuaku. Aku harus nge-kos di suatu tempat untuk ini. Entah ada angin dan hujan apa yang membuatku kembali masuk ke gudang ini. Yah … sebenarnya, ada tugas kuliah dan aku merasa bisa mendapat inspirasi kalau berada disini.
Aku mengusap-ngusap sebuah kasur tua untuk di duduki, debu berterbangan kemana-mana, aku terbatuk sesekali, "tempat ini perlu dibersihkan…." Gumamku sambil menggeleng pelan.
Mataku menangkap sebuah kotak antik di sudut ruangan, aku mengernyitkan dahi, kotak apa itu? Dan lagi-lagi, kotak itu berdebu. Ya semua barang yang ada di gudang ini memang sudah jarang dipakai, jangankan dipakai, bahkan pintu gudang ini sangat jarang dibuka.
Perlahan aku membuka kotak itu, di dalam kotak itu ada sebuah buku tua, "apa ini?"
Aku meniup debu yang menutupi tulisan di buku itu dan sekarang tulisan itu terbaca, "Album kenangan…"
"Eh? Sejak kapan aku punya album kenangan?" Aku berusaha mengingat-ngingat tapi nihil tak ada hasil, aku mencoba membukanya, mungkin aku akan mengingatnya ketika sudah melihat isinya.
"Dari foto ini sepertinya ketika aku masih SD, tapi kenapa aku tidak mengingat apapun?" Aku mengernyitkan dahi sambil kembali berpikir keras. "Apa karena sudah sama lama ya?"
Aku membalik halaman itu, sepertinya ini memang milikku. Banyak foto-foto masa kecil yang ada disana. Tapi aku tidak mengingat satupun kejadian yang terjadi disana.
Dalam satu kedipan mata, latar tempatku duduk tiba-tiba berubah. Aku mengerjap melihat ke sekitar dengan perasaan bingung, "astaga, aku dimana?"
Aku berjalan di sekitar, banyak murid-murid yang berhamburan ke sebuah tempat. Mungkin itu sebuah sekolah.
Di gerbang tertulis nama sekolah itu, "sekolah cahaya purnama…"
"Eh, ini kan nama sekolah lamaku. Kok aku bisa disini ya?" Aku bingung sendiri melihat semua keanehan ini, aku mencari orang hendak bertanya tentang hal ini.
"E-e… permisi?" Panggilku pada seorang pemuda yang lewat, namun tanganku menembus tubuhnya. "Eh?"
"Nikmati waktumu…." Ujar sebuah suara yang menggema di telingaku. Aku menengok ke kiri dan kanan, entah suara siapa yang berbicara.
Kringg … kringgg … kringggg….
Bel sekolah itu berbunyi, semua murid mulai mempercepat langkah mereka dan masuk ke dalam kelas. Pemandangannya berubah dengan cepat, sekarang ini aku sudah berada du sebuah ruang kelas, namun disini aku tak bisa berbuat apapun selain menonton.
Pelajaran berlangsung, guru mengajar, aku merasa mengenal wajah guru ini tapi entah mengapa tak terlintas siapa dia di ingatanku. Pelajarannya sangat mudah, aku sedang berada di kelas 4 atau 5 SD. Namun aku ikut menyimak pelajaran karena bosan.
Masa-masa sekolah memang lebih menyenangkan ya dari kuliah? Kuliah lebih sibuk dan merepotkan. Itu sih menurutku ya. Tapi kata mamaku, kurang lebih itu sama saja.
Bel sekolah kembali berbunyi, waktunya istirahat, bisa dikatakan ini waktu yang paling disukai oleh semua murid, bahkan mungkin guru juga.
Seorang perempuan yang duduk paling depan menangkap perhatianku, saat ini ia sedang berbicara dengan temannya. Bisa dikatakan wajah perempuan itu mirip dengan wajahku, namanya pun sama, Lilyana. Apakah mungkin…?
Aku kembali melihat nametag gadis yang ada di sampingnya itu, Kaori. Nama khas jejepangan sekali ya?
"Tolong belikan aku makanan di kantin ya?" Pinta Kaori pada Lilyana, "pakai uangmu dulu." Lilyana mengangguk, "oke!"
Dengan senyuman, gadis itu berangkat ke kantin, aku mengikuti gadis itu. Mengapa dia mau membelikan orang itu makanan?
Beberapa menit kemudian, Lilyana, kembali ke kelas dengan dua buah roti yang ada di tangannya.
"Ini punya mu dan-" perkataannya dipotong oleh Kaori.
"Terima kasih, dua-dua punya ku kan?" Tanya Kaori dengan senyuman di wajahnya.
"I-iya," balas Lilyana sambil ikut tersenyum. Aku mengernyitkan dahi kesal, apa-apaan perempuan ini?!
"Kamu memang sahabat yang baik!" Ujar Kaori sambil tersenyum puas sambil mulai melahap roti strawberry nya.
"Terima kasih," balas Lilyana ikut senang. Apa dia tidak sadar sedang dimanfaatkan?
Waktu berjalan dengan cepat, menyingkat hari menjadi malam dan kembali pagi lagi. Keesokan harinya, kejadian yang serupa terjadi.
"Kerjain pr ku ya?" Pinta Kaori. Lilyana mengangguk, "tentu."
"Makasih!" Kaori memasang senyum.
Aku naik pitam, ingin sekali aku menjewer telinga perempuan yang bernama Kaori itu. Baru SD saja sudah melakukan hal seperti ini, apalagi nanti.
Hari berganti lagi, kejadian seperti ini terus terjadi, namun ada suatu hari dimana Lilyana akan pindah sekolah, itu adalah saat SMP, sama sepertiku. Aku mulai merasa bahwa Lilyana ini adalah diriku sendiri. Aku tersenyum, akhirnya diriku akan terbebas dari Kaori itu.
SMP Langit Biru, mungkin disini aku akan bebas pikirku tentang diriku sendiri. Oke, hal ini mulai terdengar aneh di pikiranku.
Namun, yang terjadi malah makin parah, kini, diriku dibully oleh 3 orang anak kaya, Klara, Margareth dan juga Elizabeth.
Kondisi ekonomi mereka sangat baik, sehingga tak banyak orang yang berani menentang mereka. Mirisnya diriku menganggap mereka semua sebagai teman, bahkan sahabat. Aku menepuk dahiku sendiri, apa yang dilakukan diriku di masa lalu?!
Keluarga Margareth adalah keluarga yang mendominasi di dunia sosial. Keluarga Elizabeth, di dunia ekonomi. Dan keluarga Klara di dunia politik. Tentu saja, orang tua mereka sangat berpengaruh di dunia ini.
"Kakiku lagi sakit, bantu aku ya?" Ujar Margareth, Elizabeth dan Klara mengikuti.
"Oke! Kamu istirahat aja ya, nanti aku yang bantu!" Ujar Lilyana sambil mengacungkan jempol.
Mengesalkan, ingatan lama ku mulai terbuka kembali, ternyata memang benar, gadis itu adalah diriku dimasa lalu. Mengetahui hal ini semakin membuatku kesal saja. Perlahan-lahan aku kembali teringat. Ini ingatanku dulu….
"Ingin kembali?" Sebuah suara itu kembali bergema lagi. Aku menggeleng, "biarkan aku melihat ini lebih lama lagi…."
"Ayo dong, bentar aja, kamu yang piket ya hari ini?" Ujar Elizabeth.
"T-tapi hari ini aku harus merawat ibuku…." Balas Lilyana dengan nada muram.
"Bentar aja kok, masa ga bisa? Kita ga temenan lagi aja ya?" Balas Elizabeth dengan nada angkuh.
"Oke deh…."
Elizabeth, Klara dan Margareth pulang tanpa piket kelas. "Ayo selesaikan ini dengan cepat…" gumam Lilyana sambil menyapu dengan cepat.
Aku menggigit bibirku, mengapa diriku saat itu sangat bodoh. Sebuah kesalahan kecil hampir membunuh ibuku saat itu. Untunglah aku masih diberkati saat itu dan sempat sampai tepat waktu.
"Aku ingin kembali," ujarku pada udara kosong disekitar. Ketika aku sudah membuka mataku lagi, aku sudah kembali duduk di gudang rumahku dengan album kenangan itu di pangkuanku.
"Naif nya diriku disaat itu…."
Aku membawa album kenangan itu dan membakarnya, "sungguh sangat naif…"
*End
Penulis: Fururun
KAMU SEDANG MEMBACA
Cerpen 10 Days ✔
Short StoryAdalah sebuah project rutin grup kepenulisan FLC. Yaitu member akan membuat sebuah karya cerpen dalam jangka waktu 10 hari. Cover spektakuler dari salah satu mem kami : @Kuroyuki01
