21. Back to That Time

508 10 0
                                        

Leze memangku dagunya dengan sebelah tangan. Dia menatap hujan yang mulai turun dari balik kaca jendelanya.

Leze kembali memerhatikan foto teman-teman SMA-nya yang ada di ponselnya. Dia menyesal tidak banyak menyimpan foto mereka.

Leze menggeser layar sentuhnya. Kali ini, wajah teman masa kecilnya—Lila—terpampang dengan senyum lebar.
Pandangannya menjadi sendu.

***

Kenapa aku harus di sini, batin Leze.

“Awali harimu dengan senyuman, Leze!” seru Lila sambil menyentuh kedua pipinya dengan jari telunjuknya.  Jarum yang dia pegang sudah terjatuh entah ke mana.

Teman di depannya cuma bisa menghela napas dan menempelkan kepalanya di meja. “Ah ... aku ingin tidur. Nanti malam juga ingin tidur. Selamanya tidur....”

“Hari ini kita ada reuni sama kakak kelas. Selain itu, p-e-s-t-a! Pesta Halloween! Bikin semangat, kan?” Lila berbinar-binar dan hampir menjatuhkan kostum di pangkuannya. Kostum untuk acara Halloween nanti malam.

Leze mendesah. Dia menutup wajahnya dengan tangannya. “Kenapa kita harus datang ke sekolah di akhir pekan? Pestanya kan malam. Kenapa ada Halloween, tapi gak ada hari tidur? Aku mau tidur, tidur, dan tidur....”

Lila menepuk kepala Leze. “Jangan mengeluh begitu! Kita harus mendekor dan menyiapkan kostum. Memangnya tidur itu gak capek?” Lila kembali berkutat dengan jarum dan kain putihnya.

Leze berpikir untuk menunjukkan kostumnya pada gadis penggila musik jadul itu supaya tidak diusik lagi. Dia pun meraba-raba tasnya, tanpa melihat.

Kepalanya masih berpangku pada meja. Laki-laki itu terlalu malas hanya untuk menggerakkan kepalanya.

Leze masih meraba isi tasnya, tapi jarinya tidak menyentuh benda berbahan dasar kain di sana. Dia pun kembali membuang napas.

Lila yang melihat itu, menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Mendesah terus cepat tua, lho.”

“Semua orang akan tua pada waktunya.”

“Keluar juga kata-kata bijak Leze.”

Setelah berkata itu, keduanya kembali bungkam. Tangan Lila masih bermain dengan jarum, sedangkan Leze mencoba ke alam mimpi.

“Lezeee! Tolong buatkan aku kostum terbaik sepanjang masa!” pinta seseorang yang sudah bersujud di lantai.

Leze dengan malas, memutar kepalanya ke sisi yang berlawanan. Dia melirik siapa orang itu, tapi hanya punggungnya yang dia dapati.

“Siapa?”

“Hayden, oi! Angkat kepalamu, dasar pemalas!” Tiba-tiba laki-laki bernama Hayden sudah menggebrak meja Leze.

Leze pun terpaksa mengangkat kepalanya.
Leze mengamati Hayden dengan dagu berpangku pada telapak tangannya.

Hayden berparas sangar, badan tegap, dan suaranya berat, terlihat seperti tokoh pemalak atau tukang perundung. Tetapi, Leze memiringkan kepalanya dengan mulut terbuka.

“Oi, tetangga sendiri masa lupa?! Ingatanmu benar-benar parah, Leze!” Hayden mendengus dan menyilangkan tangannya.

“Oh, Hayden! Sudahlah, masalah sepele diributin. Aku mau tidur.” Leze kembali menjatuhkan kepalanya ke atas meja, tapi tertahan oleh tangannya Hayden. “Apa lagi, Hay? Kalau kau mau minta saran tentang kisahmu dengan Adeline, nanti saja.”

Hayden langsung memerah, hingga ke telinganya. Dia mengibaskan tangannya, sehingga kepala Leze yang ditahannya terjatuh. Leze mengelus kepalanya yang kesakitan itu. “Kau gila ya?! Untung kepalaku keras!”

Cerpen 10 Days ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang