12. Aku dan Sera

250 11 6
                                        

“Kenangan?”

Aku menoleh pada Sera, gadis berambut panjang yang menjadi teman sebangkuku setahun belakangan ini. Ditengah-tengah jam istirahat, saat semua anak lain berkeliaran entah kemana aku memilih untuk duduk di dalam kelas sambil menikmati onigiri buatanku sendiri.

Dan hari ini, Sera menemaniku. Padahal biasanya ia selalu punya kegiatan di eskulnya. Ada apa ya?

Kugigit onigiriku sedikit, sambil mengunyah aku mencoba memikirkan apa alasan terlogis kenapa cewek ini tiba-tiba datang dan menyerangku dengan pertanyaan aneh.

“He... kok dicuekin, jawab dong!”

“Kalau aku menjawabnya, apa itu akan bermanfaat untukmu?”

Sera sedikit terkejut mendengarnya, namun sepertinya kegigihannya belum juga pudar.
“Saat ini aku sedang ikut lomba menulis cerpen, dan temanya kenangan.”

“Lalu kenapa kamu tidak menggunakan kenanganmu sendiri? Kamu juga punya kan?”

“Ya punya sih, cuman gimana ya.”

“Nggak seru?” cetusku.

“Bukan nggak seru! Hmph,” Sera menggembungkan pipi.

“Lalu, kenapa kamu bertanya padaku?”

Dalam kurun waktu sepersekian detik, raut wajah kesalnya berubah 180 derajat menjadi penuh antusiasme.

“Biasanya cowok-cowok pendiam tuh punya rahasia, menurut novel-novel yang kubaca sih biasanya spesies cowok yang kayak gitu dulunya anak yang periang terus karena suatu hal mereka pun jadi berubah gitu.”

Heee...

“Kamu kan anaknya jarang ngomong dikelas, terus auramu itu rada-rada misterius juga jadi bikin aku penasaran. Siapa tahu kenangan masa lalumu itu bisa kujadikan referensi buat nulis.”

Yah, kalau difikir-fikir ucapan Sera ada benarnya juga.

Aku ini memang rada pendiam, bukannya aku ini sombong atau pengen sok keren. Tapi pada dasarnya saja aku tidak terlalu suka banyak bicara, karena pepatah “mulutmu harimaumu” itu sudah mendekap di otakku sejak kecil. Selain itu, aku juga ingin menghindari pertikaian yang tidak diperlukan hanya karena gurauan atau sekedar salah ucap yang membuat seseorang tersinggung.

Menjadi cowok pendiam itu punya efek samping, yah aku sudah tahu akan hal itu sejak pertama kali menginjakkan kaki di sekolah ini.

Tidak punya banyak teman.

Dikelasku saat ini, hanya ada beberapa orang yang berani berbicara denganku. Mungkin karena faktor wajahku yang rada-rada mirip anak yakuza, ataukah kepribadianku yang memang sulit didekati. Entahlah, tapi setidaknya berkat itu hidupku di kelas ini tidak terlalu merepotkan.

Salah satunya ya Sera ini, gadis supel dan periang plus berisik. Harus kuakui gadis ini memang manis, beberapa cowok dikelasku juga berkata demikian. Entah apa yang difikirkannya saat berbicara dengan orang sepertiku, relasi yang ada diantara kami berdua cukuplah sederhana.

Kami berteman, kami saling membantu, kami saling membutuhkan.

Seperti yang dilakukan anak-anak SMA pada umumnya.

Meskipun kadang, gadis ini membuatku salah tingkah.

“Kalau begitu,” aku tersenyum kecil, merencanakan sesuatu. “Bagaimana kalau kita tukaran?”

Sera cuma menatapku, keheranan.

“Ya, tukaran. Aku bakal cerita kenanganku, kamu cerita kenanganmu juga gimana?” sambungku.

Sera berfikir sejenak, “Kurasa tidak ada salahnya.”

Sera melepas gelang di tangan kirinya, kemudian diletakkan diatas meja.

“Gelang?”

“Gelang ini adalah tanda persahabatanku.”

“Hee... aku tak menduga benda semacam itu juga ada.” Anggukku, “Jadi, benda itu bisa bikin kita terbang?”

Prak!

Oh, aku lupa kalau cuma gadis ini yang berani menabok kepalaku sekeras itu.

“Ngeselin banget sih,”

“Maaf, aku cuma ingin mencoba sedikit lebih humoris, tapi sepertinya kurang efektif.”

“Kalau mau ngelawak, setidaknya itu ekspresi nggak usah datar gitu dong.”

Ngomongnya gampang, implementasinya susah oi.

“Jadi, gelang persahabatan?”

“Ah,” Sera mengangguk antusias, “Dulu aku punya dua sahabat, kami sudah berteman sejak TK. Kemudian satu SD, dan saat SMP pun kami bertiga selalu bersama.”

Aku tetap diam, mendengarkan.

“Aku masih sangat mengingat mereka, Yu-chan yang otaknya sedikit koslet dan tomboy, juga Ame-chan yang doyan hujan-hujanan sesuai dengan namanya. Yah, aku sudah akrab dengan mereka bertahun-tahun.”

“Begitu.”

“Ah, aku masih ingat saat aku terpeleset dan hampir saja tenggelam di sungai. Namun hari itu Yu-chan dengan berani loncat kedalam sungai dan menyelamatkanku. Lalu, Ame-chan juga pernah menyelamatkanku dari anak laki-laki yang ingin mengerjaiku saat aku tengah membeli cemilan untuk adikku saat malam.”

“Terus, bagaimana caranya Ame-san ini menyelamatkanmu?” tanyaku.

“Dia pura-pura jadi hantu, terus ngomong ke mereka kalau dia adalah roh penjagaku.”

Hee... gila juga.

“Lalu?” lanjutku.

“Mereka semua lari terbirit-birit, yah wajahnya Ame memang sedikit pucat terus poninya panjang kedepan. Aku yakin kalau kamu ada disana, mungkin kamu juga akan lari.”

“Sepertinya mereka berdua teman yang baik ya.”

“Ya,” angguk Sera, kemudian mengambil kembali gelang itu. “Kami bertiga membuat gelang ini sebagai tanda, kalau kami tidak akan saling melupakan sampai bertemu kembali saat dewasa nanti.”

Mulutku bergeming, ekspresi sendu Sera membuatku tidak berpaling. Maksudku, ini pertama kalinya aku melihat seseorang berkilau-kilau seperti itu. Penuh kehangatan, diselimuti oleh harapan, siapapun yang melihat pasti tahu kalau saat ini ia sangat Bahagia.

“Rupanya kamu juga bisa tersenyum, Kenji.”

“Eh? Benarkah?”

Aku sama sekali tidak sadar.

“Ah” angguk Sera, “Andai saja kamu bisa tersenyum seperti itu setiap hari, mungkin cewek-cewek dikelas kita bakal klepek-klepek lho.” Ucap Sera kemudian tertawa jahil.

“Mana mungkin lah, ada-ada saja.”

“Tidak ada salahnya kan? Aku saja sampai tersanjung dibuatnya hihihi...”

Lanjut Sera, “Giliranku sudah, sekarang giliranmu Kenji-kun.” Ujar Sera tanpa melepaskan tatapan jahilnya.

“Huh, apa boleh buat.”

Aku sebenarnya tidak ingin menceritakan ini, tapi aku sudah terlanjur terlibat. Lagipula ini bukan hal yang bagus untuk diceritakan, tapi gadis ini sudah repot-repot menceritakan kenangannya.

Tidak ada pilihan lain.

Aku mengeluarkan selembar foto hitam putih, kuletakkan diatas meja. Terlihat disana pemandangan lingkungan perumahan dipenuhi masyarakat berlalu lalang. Diantara mereka, nampak tiga anak berlarian, sementara sepasang laki-laki dan perempuan dewasa menatap tingkah mereka sambil tersenyum geli.

“Ini, fotomu dan keluargamu kan?”

“Benar, dua anak ini adalah adik-adikku.” Aku menunjuk dua bocah yang berlari, lalu kemudian jemariku berpindah ke sepasang tadi. “Dan ini adalah ayah dan ibuku.”

Sera mengangguk-angguk.

“Foto ini diambil tiga tahun yang lalu, setiap momen-momen yang kulalui bersama dengan keluargaku—” aku tersangkut sedetik, melupakan sesuatu. “Bukan, setiap momen yang kulalui bersama seluruh penduduk yang ada di desaku dulu. Aku akan terus mengenang mereka.”

Tatapan Sera kini beralih dari foto itu kearahku, ia benar-benar serius mendengarkan.

“Saat adikku selalu merengek minta dibelikan ramen di kedai kakek Hideyoshi, atau saat aku dan teman-temanku lari terbirit-birit dikejar paman Masato pakai katana hanya karena memecahkan pot bunga di halamannya, saat melihat orang tuaku dan orang tua Yumei-chan yang tak henti-hentinya bersemangat saat membahas soal perjodohanku dengan Yumei yang baru kelas empat SD, saat mbak Akitsuki menyanderaku karena ulah teman-temanku yang memecahkan kaca jendela rumahnya, saat aku yang ketiduran karena menunggu umpanku dimakan ikan sampai sore hari, saat aku dan adik-adikku ketiduran dibawah pohon sakura sampai malam dan berakhir dijewer berjamaah, saat aku mandi keringat karena kare buatan ibu yang kelebihan cabai, juga saat aku membuat ayah kewalahan bermain shogi denganku...”

“Aku akan mengenang semua itu.”

“Wah seru juga yah, anak laki-laki memang kerjanya jahil mulu.” Sera kembali terkekeh.

“Tapi...” gumam Sera, “Bukannya kamu masih bisa pulang kampung lagi nantinya? Ya mungkin sekarang kamu sudah gede sih, tapi setidaknya kan kamu masih bisa ketemu dengan orangtua, teman-teman, dan penduduk di kampungmu itu kan?”

“Soal itu... aku ragu bisa melakukannya.”

“Kenapa?”

“Sera, kamu tahu sekarang tahun berapa?”

“1948?”

“Aku lahir di Nagasaki, tahun 1930.” Jawabku, “Foto itu kuambil tiga tahun yang lalu.”

“Tiga tahun... 1945...” Sera mulai tercengang, “Nagasaki...”

Kedua mata Sera terbelalak, mulutnya menganga seketika setelah mengucapkan kata-katanya barusan. Yah, aku sudah menduga reaksi itu.

“Kenji-kun, kamu...”

“Ah,” aku menutup mata, mencoba menolak fakta yang ingin kuucapkan. Namun takdir sudah tidak dapat diubah, semuanya sudah terjadi.

“Nagasaki dijatuhi bom atom, semuanya hancur tak bersisa.”

“Termasuk desaku, dan semua penduduknya.”

“Jadi selama ini...”

“Ah, aku adalah salah satu korban yang selamat dari tragedi hari itu—” aku menggeleng sekali, “Tidak, lebih tepatnya salah satu dari korban yang beruntung karena tidak berada di Nagasaki saat itu.”

Kedua bola mata Sera masih membulat, aku membuat gadis itu benar-benar shok.

“Saat itu,” lanjutku, “Aku tengah mengunjungi pamanku yang sekarang menjadi rumah tempatku tinggal, yah seumuranku dulu sama sekali tidak berminat mendengarkan radio yang membosankan iya kan? Saat aku ingin pulang, paman dan bibi sebenarnya sudah melarangku. Tapi aku tetap bersikeras, dan akhirnya mereka menyerah juga. Mereka memutuskan untuk mengantarku ke Nagasaki, sesampai disana...”

Aku mengeluarkan selembar foto lain, didalam sana nampaklah jejeran puing-puing sejauh mata memandang. Banyaknya puing-puing bekas menandakan kalau begitu banyaknya pemukiman yang hancur, dan korbannya pasti lebih banyak lagi.

“Yang aku lihat hanyalah sebuah desa yang sudah rata dengan tanah, tanpa satupun korban selamat.” Aku berusaha menahan air mataku agar tidak keluar, susah sekali tapi anehnya aku berhasil.

Lanjutku, “Bahkan aku juga tidak bisa memakamkan seluruh keluargaku dengan layak, lantaran tak ada satupun jasad mereka yang ditemukan. Semuanya sudah hilang, tak bersisa sama sekali.”

“Karena itulah, hanya lembar foto inilah yang membuatku ingat. Tentang semua kebahagiaan yang sudah kami lalui bersama, hanya ini.”

...

...

Hiks... Hiks...

“S... Sera?”

Kali ini, sepertinya sedikit melewati ekspetasiku, aku benar-benar tidak menduga kalau cewek yang menjadikan “senyum” dan “tawa” sebagai makanan sehari-harinya mendadak hujan air mata seperti ini.

“Sera! Ayolah kamu tidak perlu sampai menangis seperti itu, kalau anak-anak lain liat bisa-bisa mereka mengira aku ngapa-ngapain kamu lagi.”

“Habisnya... hiks... habisnya... aku tidak mengerti kenapa kamu masih bisa tersenyum setulus tadi setelah apa yang sudah kamu lalui... huaaa....” ia masih terus merengek, bahkan tangisnya makin keras. “Sudah kubilang kan tadi, hiks, kalau cowok pendiam itu pasti punya rahasia yang bikin orang tersentuh, sekarang lihat kan buktinya!”

“Ya, sejak SD kepribadianku memang sudah begini.” Bantahku, “Bahkan sebelum kejadian itupun, Kenji yang kau lihat sekarang ini masih sama seperti Kenji yang dulu tahu?”

“Tapi... tapi... hiks... kenapa kamu masih bisa—!”

Kuhentikan kalimat yang akan diucapkan Sera dengan menempelkan telunjuk ke bibirnya, aku mencoba tersenyum sebisa mungkin, kemudian mengusap air mata gadis itu pelan.

“Kalau kamu menangis seperti itu, aku nanti bisa ikutan nangis juga tau!” tuturku pelan, “Mukaku kalau nangis itu jelek banget, bisa bikin jangkrik ketawa tahu?”

“Pfft... kau benar!” Sera terkekeh, matanya masih bengkak namun ia berusaha menahan tawanya. Untuk pertama kalinya, aku sukses membuat lelucon dan membuat Sera tertawa. Meskipun situasinya sedang tidak pas, tapi entah mengapa ada kepuasan tersendiri bagiku.

“Ah, jadi berhentilah menangis” kuhentikan usapan tanganku darinya, kemudian sedikit mundur kebelakang. “Aku sudah menerima apa yang menjadi takdirku, tapi disaat yang sama aku tidak ingin mengenang mereka selamanya.”

Lanjutku, “Kau memberitahu kenanganmu yang indah, secara tidak langsung kamu membagikan kebahagiaanmu, itu sudah cukup.” aku kembali tersenyum.

“Dan kamu membagikan kesedihanmu padaku, secara tidak langsung saat ini aku juga sudah mengemban sedikit rasa sakit yang kamu miliki hingga hari ini.”

“Lho, bukannya itu tidak bagus?”

Sera menggeleng, “Itu bagus, dengan begitu aku bisa sedikit mengerti denganmu.”

Gadis itu kini tersenyum lebar, begitu polos dan lugu. Menampakkan giginya yang putih dan bersih.

“Kita sudah saling berbagi, bukannya hal itulah yang seharusnya dilakukan oleh teman?”

...

“Kau benar.”

Hubungan yang kumiliki dengan Sera memanglah sederhana. Kami saling membantu, kami saling membutuhkan, dan sekarang kami saling berbagi kenangan kami masing-masing.

Meskipun sederhana, namun rasanya ada kebahagiaan tersendiri yang tercuat dari dalam hatiku ini.

Padahal awalnya aku sangat tidak ingin menceritakan hal ini pada siapapun, namun begitu bercerita dengan Sera membuatku semakin berani untuk melihat kedepan, dan tidak terikat oleh masa lalu yang kelam.

“Sera, boleh aku minta satu hal?” aku hampir saja melupakan sesuatu, untung langsung teringat.

“Apa?”

“Kalau bisa, ceritaku tadi jangan kamu angkat jadi cerpen.”

“Lah kenapa? Bukannya bagus toh?”

“Jangan, nanti kalau aku terkenal gimana? Aku ini udah ganteng, kalau terkenal bisa-bisa mau ngobrol sama kamu susah kan?”

Prak! Sera menjitak kepalaku lagi, “Mimpimu ketinggian!”

Penulis
tikungan_lurus

Cerpen 10 Days ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang