1. Spoiler (Part 1)

337 23 25
                                        

Subtema : Friendzone

Note: Percayalah, ini kali pertamanya aku pake nih alur :v

[1]

Jika saja Bayu masih memegang buket bunga itu, maka dia memiliki penyesalan dalam hidupnya karena telah membuang-buang keharuman dan keindahan sebuah bunga. Kenapa dia begitu bodoh? Kenapa Bayu menanyakan hal yang dia sendiri sudah tahu jawabannya?

Sesak. Padahal indra penciumannya masih bekerja dengan baik, tapi kenapa dia serasa tak menghirup oksigen sedikitpun? Dadanya sakit sekali. Telinganya berdengung. Langit turut mendukung suasana hati Bayu yang bagai toples retak. Ingin pecah.

“Bay? Lo nggak apa-apa?” Pelaku yang membuat Bayu lemas seperti itu, bertanya dengan polosnya.

Bayu memaksakan diri untuk tersenyum. “Nggak apa-apa kok.”

[0]

     Pagi itu, PBM di SMA Four-Leaf Clover ditiadakan karena semua guru mesti menghadari rapat tentang pemilihan Kepala Sekolah baru di ruang auditorium. Jadilah para pelajar bersorak gembira, merdeka akan free seharian. Lebih-lebih klub basket mulai latihan seenak jidat—setidaknya kegiatan mereka berguna.

     Kecuali kelas XI – 3 yang mulai “ribut”. Hanya karena kelas mereka kedap suara, mereka bisa leluasa berbuat onar, rusuh, kalang-kabut kek di hutan.

    “Pokoknya gue harus beli nih album Bang Sosro!” ucap salah satu penghuni kelas, bernama Zeniel. Dia bucin akan Mafu-mafu dan Soraru. Lihatlah, mainan rambutnya boneka Mafuteru. Gantungan tasnya MapuMapu sama Soraru. Terlalu bucin itu tidak baik. Terlalu bucin itu ada batasnya.

    “Bilangnya mudah, Nduk. Ngelakuinnya susah.” Celetuk seseorang.

     Mendengar celetukan yang terkesan mencemooh itu, Zeniel menoleh kesal ke samping. Dia hapal intonasi suara ini. “Aish! Lo kerjaannya ganggu gue mulu. Nggak bosan apa?”

     Bukannya menanggapi, cowok itu alias Bayu, menyambar mainan tas Zeniel. Boneka Mafuteru kesayangannya. Karena boneka itu mudah dilepas-pasang, maka tak sulit untuk menariknya dan memainkannya. Bayu menatap boneka mafuteru yang katanya boneka penghilang hujan tersebut.

    “Kayak bulu tangkis masa.”

    “Ish! Lo apa-apaan sih, Bay! Balikin gak?” Zeniel melotot.

    “Ambil sendiri.” Bayu mencibir.

     Dan terjadilan adegan kejar-kejaran di antara mereka berdua. Zeniel tergopoh-gopoh menjangkau Bayu yang mencuri bonekanya. Bayu cekatan menghindari jangkauan tangan Zeniel. Penduduk kelas hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka. Mereka merasa jadi nyamuk disana.

     Tak sengaja, kaki Zeniel terkait oleh kaki meja. Dia jatuh terpeleset.

     Refleks, Bayu mengerem kakinya dan langsung menangkap tubuh kecil Zeniel sebelum menyentuh lantai. Mereka berdua jatuh ke lantai dengan posisi Zeniel di atas. Tidak ada yang melihat kejadian itu.

     Sialnya, salah satu dari jantung mereka, sudah memasuki lomba meraton.

[2]

Bayu menghela napas panjang, menyiapkan hatinya. Entah jawaban apa yang dia dapatkan, Bayu akan mendengarnya beberapa menit lagi. Sebelah tangannya sudah memegang buket mawar merah yang dia beli pagi tadi sebelum berangkat ke taman bermain, tempat mereka berjanjian.

Rambut? Oke.

Bau badan? Harum kek padang bunga.

Pakaian? Sangat fashion!

Cerpen 10 Days ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang