Satu hari sebelum hari kelulusan, aku melarikan diri dari rapat terakhir kelas. Pembahasan yang kurang penting mengenai acara perpisahan kelas itu membuatku ingin keluar dari sana, dan menghirup udara musim semi. Jujur saja, aku bukan tipe orang yang mudah berbaur dengan obrolan panjang.
Dengan seragam yang sedikit berantakan dan tanpa diperhatikan, aku berjalan mengendap keluar kelas lewat pintu belakang. Di koridor, banyak murid kelas 3 yang berkeliaran kesana-kemari bersama temannya menuju ruang klub. Membuka pintu, menyapa penghuni ruangan, lalu tenggelam dalam obrolan tidak penting.
Aku melambatkan langkah begitu sampai di selasar penghubung dua gedung. Kakiku melewati segerombolan gadis beraroma parfum stroberi yang sedang bergosip. Samar-samar aku dapat mengerti ucapan mereka.
"Seharusnya kamu berangkat bersama Okei-kun saja, Kirei-chan."
"Ahahaha, itu tidak mungkin."
"Kenapa tidak? Kupikir kalian akan menjadi pasangan serasi."
Tanpa sepengetahuanku, perasaanku bergetar. Aku berusaha menganggap mereka sebagai gadis-gadis SMA biasa.
Saat sedang berpikir, ponselku bergetar. Aku mendapat pesan dari Shikami-sensei. Guru sejarah itu menyuruhku pergi ke ruang guru. Tanpa memikirkan darimana dia mendapat nomor ponselku, aku melangkahkan kaki menjauhi selasar dan pergi ke ruang guru.
Sepertinya Shikami-sensei memang sudah tahu kalau aku sedang tidak ada kerjaan. Tanpa rasa bersalah dan merasa terbebani, beliau menyuruhku menyimpan kardus berisi barang-barangnya yang sudah tidak terpakai ke Ruang Penyimpanan. Shikami-sensei sendiri sibuk dengan tugas penilaian akhir siswa.
Ruang Penyimpan terletak di sudut lantai dua Gedung Kelas Satu. Untung saja sebagian besar siswa kelas satu sudah meninggalkan sekolah. Sehingga aku tidak perlu repot-repot menyuruh mereka menyingkir.
Begitu sampai dan meletakkan kardus di tempat seharusnya, aku baru sadar ruangan ini adalah ruang kelas satu ku dulu. Setelah renovasi besar-besaran, ruang kelas ini beralih fungsi menjadi ruang penyimpanan.
Aku mengitari tempat itu sebentar. Kemudian, sebuah loker kecil berjajar yang sudah usang berhasil mengalihkan perhatianku. Saat kelas satu dulu, aku ingat pernah menggunakan salah satu loker ini. Kalau tidak salah nomor....
Loker nomor 19 mengeluarkan bunyi nyaring saat aku membukanya. Sama seperti luarnya, ruangan kecil di dalamnya pun berdebu. Ada satu benda yang aku temukan di sana.
"...."
Fairy Diary
Kenapa benda ini ada di sini?
Aku membuka buku usang itu dengan pelan dan bergetar. Sebuah foto hitam putih berlatarkan taman bermain menyambut rasa terkejutkku. Sebuah foto kelulusan empat orang siswa kelas 6 SD yang tersenyum menghadap kamera. Sebuah senyuman yang tidak bisa aku dapatkan sekarang.
..
Musim Semi, Kelas 4 SD
Aku, Kirei-chan, Okei-kun, dan Giru-kun.
Hari ini, Kirei-chan tidak masuk. Ibunya menyuruh kami untuk berangkat duluan. Katanya, Kirei-chan ada kunjungan ke Rumah Sakit Hanazawa. Kami tidak tahu apa yang terjadi pada anak itu. Sehingga kami pun berangkat ke sekolah dengan perasaan harap harap cemas.
Sepanjang pelajaran pertama, aku melihat Okei-kun tidak fokus mengerjakan essai pendeknya. Sementara kupikir, Giru-kun terlihat pura-pura tidak peduli. Di kepalaku, aku berusaha memikirkan segala cara untuk keluar dari tempat ini. Dan kesempatan itu muncul saat guru di kelas kami sedang sibuk menerima telepon di sudut depan ruang kelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cerpen 10 Days ✔
Short StoryAdalah sebuah project rutin grup kepenulisan FLC. Yaitu member akan membuat sebuah karya cerpen dalam jangka waktu 10 hari. Cover spektakuler dari salah satu mem kami : @Kuroyuki01
