Utopia yang tak terbatas (dulunya Athena), 12 Maret 2090
Kau terbangun dari lelap. Sendi dan tulangmu kaku. Semuanya kaku. Jadilah, Kau menggerak-gerakkan lengan kanan dan kirimu lalu meregangkan semua otot yang ada di tubuh mungilmu itu. Semoga pegalnya hilang, pikirmu. Semoga setidaknya tubuhku yang jelek ini bisa berubah menjadi lebih baik, pikirmu lagi.
Ah, Kau akhirnya menyadari bahwa jam dinding di kamarmu sudah berusaha berteriak untuk memperingatimu sedari tadi. Kau mulanya merasa panik, namun tidak berlangsung lama. Kau merutuki dirimu sendiri. Bodoh, dungu, pelupa, dan untaian-untaian serapah Kau lontarkan entah untuk siapa.
Ya, Kau baru sadar kalau Kau tidak perlu lagi bersiap-siap untuk pergi ke sekolah (dirimu saat ini sudah berkepala 3 jadi itu tidak mungkin lagi terjadi). Kau juga harusnya santai-santai saja karena Kau tidak perlu repot-repot berkemas untuk pergi ke bangunan dengan berjibun kubikel-kubikel di dalamnya.
Kenyataannya, Kau hanya seorang pengangguran yang bahkan tidak ingin diterima oleh masyarakat mana pun. Freelancer, ucapmu agar terasa keren saat ditanya oleh teman-temanmu sesama alumnus universitas ternama di Athena ketika ditanya perihal pekerjaanmu.
Tapi, bagaimana pun juga, Kau harus bangun sekarang. Pasti pusing kepalamu itu jika terlalu lama berbaring di atas dipanmu yang diimpor dari China beberapa tahun lalu. Karenanya, Kau langsung berdiri dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukamu yang disesaki oleh tanda tanya besar akan kehidupan.
Selesai. Kantukmu hilang namun Kau masih terlalu malas untuk setidaknya berolahraga ringan di depan apartemen mini sewaanmu ini. Joging? Ah, tidak usah lah, pikirmu. Renang? Apalagi. Akhirnya, yang Kau lakukan saat ini hanya termenung menatap lanskap kota Athena futuristik dari jendela apartemenmu yang hanya berukuran 3×4 meter itu.
Ah, ataukah tempat yang Kau tinggali saat ini harus disebut dengan Utopia? Memang, Athena dan kota-kota lain saat ini sudah dilenyapkan (bukan secara harfiah). Gantinya, Pemerintah Dunia Baru menyatukan semua negara dan menamainya Utopia, sebuah dunia tanpa batas kedamaian.
Cukup. Untuk apa membicarakan sejarah yang tidak ada hubungannya sama sekali denganmu, bukan? Ah, atau sebenarnya memang ada hubungan antara dirimu dengan Utopia ini?
Kau mulai sadar kalau sedari tadi Lau hanya melamun saja sambil melihat panorama Utopia dari balkon apartemenmu. Sejurus kemudian, Kau pun merasa bosan. Tidak sekolah, tidak kerja, tidak melakukan apa-apa. Bahkan, kau sering berpikir bahwa Kau sebaiknya tidak perlu diberi nyawa saja oleh Tuhan. Tapi, hidup itu ada untuk disyukuri, kan?
Rasa bosan makin merasukimu. Lalu, karena tidak tahu mau melakukan apa lagi, Kau pun terpikirkan akan sebuah ide. Kau langsung berjalan menuju nakas yang ada di sebelah dipanmu. Lacinya Kau buka cepat dan tanpa ba-bi-bu, sebuah album foto langsung Kau comot dari tempat asalnya. Walaupun sudah tahun 2090, album-album foto seperti yang sedang Kau pegang saat ini lumayan berharga. Jauh lebih berharga daripada layar tipis yang bisa kau sentuh-sentuh untuk berkomunikasi dengan orang lain. Bagaimana tidak, pohon sama halnya dengan keinginanmu untuk hidup. Sama-sama langka.
Kau raba album foto itu. Bulu romamu meremang. Di dalamnya, Kau sudah membayangkan akan melihat puluhan polaroid dari bekas-bekas perang dunia ketiga yang terjadi satu windu yang lalu. Ah, Kau ini laki-laki. Kau harus bisa menahan serangan memori dari album foto ini. Lagipula, ini hanya album foto usang saja, bukan senjata laser yang kini sudah Kau museumkan di atas lemari kamarmu. Akhirnya, Kau memantapkan hatimu untuk kembali melihat album foto yang ada di genggamanmu saat ini.
Hah? Apa? Kau ingin menangis? Kau benar-benar serius mau menangis? Baru satu foto saja Kau sudah mau menangis?
...
Ah, tidak apa-apa. Menangislah. Ya, mungkin foto-foto temanmu sesama tentara semasa pra-perang dunia ketiga mampu menghancurkan hatimu lebih parah dari bom atom. Mungkin foto kekasihmu, Queenie, yang saat ini entah berada di mana setelah perang dunia ketiga mampu menyayat hatimu daripada pisau tertajam milik tukang jagal terbaik di kotamu. Mungkin saja potret Qi, Qori, Qasey, dan teman-teman satu barakmu yang tengah tersenyum hangat ke kamera mampu membakar hatimu lebih kejam dari api pemanggangan.
Menangislah. Tidak ada yang melarangmu untuk melakukan hal itu. Album kenangan bersampul coklat kekuning-kuningan mungkin saja menyimpan setengah jiwamu di dalamnya.
Tapi tegarlah! Hei, bukankah Kau sudah berbuat banyak untuk dunia ini? Bukankah Utopia ada karenamu? Kuatlah!
Album foto usang itu langsung Kau peluk. Kini, mengalir sebuah sungai air mata di atas album kenangan bersampul coklat kekuning-kuningan yang sedang Kau peluk erat saat ini, hari ini, jam ini, menit ini, detik ini.
Penulis
Yumazthaqil
KAMU SEDANG MEMBACA
Cerpen 10 Days ✔
Short StoryAdalah sebuah project rutin grup kepenulisan FLC. Yaitu member akan membuat sebuah karya cerpen dalam jangka waktu 10 hari. Cover spektakuler dari salah satu mem kami : @Kuroyuki01
