2. Teriakan Kesengsaraan

344 20 4
                                        

※ Ada bagian kekerasan, pembunuhan, dan spiritual, harap yang tidak suka, tidak disarankan untuk membacanya.

.

.

Darah terus menguncur dari salah satu lengan anak berhelai albino itu yang sepertinya sempat tergores oleh musuhnya yang sudah terbaring dengan kepala terpisah dari tubuhnya. Killua—nama anak albino itu—hanya berniat mengambil dengan perlahan jantung laki-laki itu, tetapi pemberontakan tidak berarti laki-laki itu, membuat Killua terpaksa membungkam mulut itu dengan memutuskan bola pajangan tidak berguna milik laki-laki itu.

Killua memercikkan darahnya  ke tanah dan berjalan pulang ke kediaman Zoldyck. Hujan mulai turun rintik-rintik, anak itu terus berjalan menerpa dengan aura mencekam. Suasana hatinya sedang tidak baik hari ini gara-gara pria tua yang baru saja meninggal itu.

Pria itu menceramahi dirinya dan meminta untuk bertobat pada Tuhan. Killua tidak pernah percaya dengan sesuatu yang dia lihat saja tidak pernah. Percaya dengan sesuatu seperti mitos, bukanlah gayanya. Lagipula, adiknya lebih cocok disebut ‘Dewa’.

Lalu, kenapa Killua emosi? Apa karena salah satu perkataan dari pria itu menohok hati kecil Killua?

Apa kau tidak pernah merasa bahwa sisi kemanusiaanmu mulai terenggut?”

Bagi Killua, membunuh membuatnya lebih hidup. Lalu, kenapa dirinya merasa aneh? Killua membenci perasaan gelisah ini.

Dia terlahir untuk membunuh dan menikmati pembunuhan itu. Hanya itu dan Killua tidak pernah memikirkan kemungkinan yang lain.

Terus asik dengan pikirannya, membuat anak laki-laki itu tidak sadar bahwa dirinya sudah tiba di atas gunung Kururu—dimana rumahnya berada—dan hujan sudah reda. Dia berdiri di depan pintu gerbang raksasa rumahnya dan anak laki-laki yang baru sebulan lalu berusia 9 tahun itu, berhasil mendorong gerbang hingga tingkat yang kedua. Asal kau tahu, ini bukanlah gerbang biasa. Berat gerbang pertama 16 ton dan akan dikali dua untuk setiap tingkat berikutnya.

Killua yang baru saja sampai di rumahnya, langsung dihampiri oleh ibunya yang terlihat cemas. Ibunya memang sayang padanya. Entahlah, karena dirinya atau karena bakat luar biasa yang ia miliki. Ia tidak peduli.

Wanita itu menyuruh pelayan untuk membawakan handuk dan pakaian ganti. Killua pun mandi untuk membersihkan badan dan pikirannya. Pikiran itu harus dia buang jauh-jauh. Sebagai penerus, dia tidak bisa menurunkan martabat keluarga Zoldyck.

• Ж •

“Killua, kau mengerti itu, kan?” ulang ayahnya lagi. Pria itu sedang memberi tugas padanya untuk membunuh sekumpulan orang di pelabuhan yang tidak jauh dari gunung Kururu.

Permintaan dari seorang klien yang sedang terancam dengan targetnya kali ini. Bayaran yang lumayan mahal untuk pekerjaan mudah seperti ini.

Killua pun bergegas berangkat menuju pelabuhan itu. Dia sudah siap untuk bersenang-senang. Jarang sekali dia diminta untuk melakukan pembunuhan orang banyak sekaligus. Berharap saja ada orang yang bisa memuaskan kebosanannya.

Killua tiba dan langsung menyapa para pemuda yang sedang duduk santai di dekat sebuah kapal. Dia menghampirinya dengan senyuman manis.

“Selamat siang.”

Seorang pemuda dengan kepala botak dan tindikkan di hidungnya, menghampiri Killua. Laki-laki itu berniat menakut-nakuti Killua, tapi sebelum itu—dengan gerakan kilat—Killua sudah mengambil jantung laki-laki itu. Jantung yang dia ambil masih berdetak dan itu terlihat indah, tanpa darah menempel di jantung itu.

Para pemuda disana ketakutan. Seorang pemuda dengan bandana kuning di kepalanya, mengacungkan sebuah tongkat besi untuk memukul kepala Killua. Sayangnya, Killua lebih dulu memutuskan lengan orang itu dan sebagai bukti atas perlawanan mereka, Killua merobek perut laki-laki yang masih hidup itu secara horizontal dengan kuku tajam yang sudah dia manipulasi. Dia menarik usus besar pria itu dan dia angkat sebagai pertunjukkannya. Laki-laki itu meninggal setelah memekik kesakitan.

Killua bosan, dia pun melempar usus itu ke air. Dia berjalan santai mendekati mereka semua dan saat itu juga mereka tumbang dengan jantung mereka di tangan Killua. Pria kecil itu melempar jantung di tangannya dan melangkah dari pelabuhan berlumuran mayat tidak berjantung itu.

Lagi-lagi Killua hanya bisa merasa bosan.

Dalam perjalanannya, seseorang menyapanya. Dia memperhatikan orang itu dan emosinya meningkat. Pakaian orang itu mengingatkannya pada pria tua yang ia bunuh seminggu lalu. Kemungkinan mereka dari perkumpulan Agama yang sama.

“Nak, ada apa dengan bajumu?”

Killua berdecih. Dia tidak ada niat membunuh orang yang bukan target pekerjaannya. Killua pun berpura-pura dengan memasang senyuman manis.

“Ini cat, aku habis melukis sesuatu.”

Pria itu mendorong ke atas, penghubung kedua lensanya. Mata sipitnya terlihat khawatir. Apa pria itu tahu?

“Kau anak keluarga Zoldyck, ya? Apa kau baru saja membunuh orang?”

Apa pria ini melihatku?’

“Haha, bagaimana kau tahu? Apa kau melihatnya secara langsung?” tanya Killua. Anak kecil itu mencoba bermain-main sebentar, sebelum membunuh pria di depannya itu.

“Dari matamu, Nak.”

Killua tercengang. Dia tidak menduga jawaban itu. Killua memanipulasi kukunya dan menunjukkannya pada laki-laki itu.

“Pilih mati cepat atau keluar dari kepercayaanmu?”

Pria itu tersenyum lembut, bersamaan dengan turunnya tetesan air asin dari langit. Ah, Killua tidak suka ini. Dia sudah tahu apa jawaban sang pria dari senyumannya. Jantung pria itu kini berakhir di tangannya dan hujan lebat menguyurnya.

Killua tidak mengerti, apa yang membuat pria itu teguh dengan kepercayaannya. Padahal itu hanyalah sebuah kepercayaan tidak berlogika.

Karena manusia butuh seseorang yang dia andalkan selain manusia lain.”

“Hah, konyol!” ujar Killua yang teringat dengan perkataan sang pria. Walau berkata seperti itu, Killua sedikit ragu.

Kenapa dirinya merasa bimbang? Apa karena hujan yang membuat moodnya berubah atau memang itu keinginan hati kecilnya? Apa kini dia mulai terbu—

PLAK!

Killua menampar keras wajahnya dan terus mengingatkan dirinya. Dia hanyalah seorang anak dari keluarga pembunuh bayaran dan seorang pewaris pembunuh bayaran. Ketika, dia lahir, dia sudah berdosa. Dia tidak terlahir untuk menjadi manusia baik. Killua tahu dia berbeda....

Dia sudah terkurung dalam statusnya itu.

Dan kini, laki-laki itu sadar, bahwa sebanyak apa pun orang memperingatinya, kakinya tidak akan bisa kemana-mana. Belenggu berupa rantai tak kasat mata itu yang menahannya.

Killua berteriak.

Suaranya teredam oleh derasnya hujan. Walau begitu, dia terus berteriak hingga suaranya serak. Dia terlihat seperti meminta tolong pada sesuatu.

Fin.

Penulis: s-elEVEN

Cerpen 10 Days ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang