9. Arigato

989 46 1
                                        

"El...ada Edward di luar" sahabatku muncul dari balik pintu kamarku.

"Suruh dia pergi! Bilang aku tidak ada di rumah, aku mau istirahat" jawabku tanpa melihatnya.

Aku hanya bisa menyendiri di kamar, tanpa ada siapapun melihatku. Aku muak melihat tatapan-tatapan mereka. Tatapan mengasihani....

Ibu dan Ayahku bercerai. Mereka berpisah saat aku berumur lima tahun. Aku di titipkan oleh Oma. Seiring waktu berjalan, Oma meninggal dunia. Sampai sekarang aku tak tau siapa Ayah dan Ibuku sebenarnya. Yang ku tahu di dunia ini aku hanya sebatang kara dan aku hidup di dampingi sahabatku, Novi .

Penderitaanku lengkap sudah. Satu tahun lalu kecelakaan maut menimpaku. Waktu itu aku sedang mengendarai motor, tanpa sadar di depan motorku, sebuah truk besar lewat dengan kecepatan tinggi dan sampai akhirnya truk itu pun menabrak motorku. Aku tidak sadarkan diri selama lima bulan lamanya. 

Edward terus berada di sampingku saat aku tergeletak tak berdaya di tempat tidur. Cintaku pada Edward tak semulus perkiraanku. Ibunya melarangku dekat dengan anaknya karena statusku tidak jelas. Ya, aku terima itu. Aku tersadar kalau status sosialku sangat tidak jelas. Novi mengurusku selama dua tahun lamanya semenjak Oma meninggal dunia. Aku sangat berterima kasih padanya. Namun aku merasa sangat merepotkannya karena sekarang kondisiku mungkin sangat merugikan dirinya.

Dirumah sakit yang menemaniku hanya Novi dan Edward, tidak ada yang lain. Terbangun dari tidur yang panjang, aku depresi. Aku tersadar kalau aku buta dan lumpuh. Aku tidak terima dengan semua yang menimpaku. Penderitaankupun semakin lengkap, aku putus dengan Edward. Kalau hubungan kami terus berlanjut, Ibunya akan melakukan sesuatu padaku meski kondisiku buruk seperti ini.

Hampir setiap hari Edward datang kerumah Novi untuk melihat kondisiku, namun aku selalu tidak ingin bertemu dengannya. Bukan benci padanya, tapi aku hanya menjaga jarak darinya. Aku menyayanginya, mencintainya setulus hati. Aku tersadar, aku tak pantas untuknya. Mungkin kami tidak untuk bersama selamanya.

"El, dia ingin bertemu denganmu! Aku sudah melarangnya masuk. Tapi dia terus memaksa supaya dapat bertemu denganmu,"

"Pergi!! Jangan ganggu aku! Pergi kalian. Jangan kesini!,"

Aku berteriak kuat. Menghancurkan barang yang ada di meja. Gelas jatuh dan pot bunga terjatuh. Lantai kamarku berserakan dengan serpihan kaca. Aku mengamuk dan tak perduli siapa yang ada di sebelahku. Terdengar suara pintu terbuka, Edward tiba-tiba masuk kedalam kamar. Dia berusaha menenangkanku. Aku tidak bisa tenang, aku tersiksa. 

"Pergi, jangan ganggu aku! Pergiii!!!"

"El, tenang!! Ini aku Edward."

"Pergi!!jangan ganggu aku!!"

"El...tenang! Jangan hipnotis diri kamu kalau kamu nggak bakal sembuh. Tenang El, nggak ada yang ganggu kamu disini. Disini hanya ada aku dan Novi, nggak ada yang lain!!" Radit meremas lenganku. Air mataku menetes, membasahi pipiku. Dia memelukku, rasanya tenang dan hangat.

"Tenanglah El, aku selalu ada di sampingmu," ucap Edward sembari menghusap air mata yang membasahi pipiku. Sisi lain diriku sangat tersiksa. Orang tua membuangku begitu saja, mengalami kecelakaan dan membuat aku lumpuh. Tapi sisi lainnya, dua orang yang sangat menyayangiku. Edward dan Novi, mereka adalah orang yang paling berkorban dalam hidupku. 

Terima Kasih Edward dan Novi....

===============

Satu bulan berlalu. Aku merasa nyaman dengan keberadaan Edward di sampingku. Dia selalu menjagaku dan membawaku keluar dari kamar. Awalnya aku takut keluar dari kamar, rasa trauma yang besar tak bisaku bendung. Namun karena dukungan yang begitu besar darinya, aku memberanikan diri untuk keluar dari kamar. Dan aku terbiasa keluar dari kamar.

Cerpen 10 Days ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang