Aku sedang duduk di atas pohon sambil merasakan hembusan angin yang sangat sejuk. Di kala matahari bersinar terang di jam delapan pagi, aku berteduh di atas dahan pohon dekat lapangan sepak bola. Pemandangan sekolah dari sini cukup membuatku tidak ingin meninggalkan tempat ini.
Dengan sepasang earphone yang menempel di telinga, aku mengayun-ayunkan sebelah kakiku ke bawah. Oh, ayolah! Aku selalu datang ke tempat ini di saat guru tidak datang ke kelas. Tetapi, bukan berarti aku seorang murid liar.
"Aw!"
Terdengar suara jeritan seorang gadis dari bawah. Sepertinya kakiku mengenai kepalanya. Aku menengok ke bawah. Di sana ada seorang gadis yang sedang mengusap-usap kepalanya di bawah sinar matahari yang terik.
"Siapa itu?" tanyanya seraya menengok ke atas. "Ryuji?!"
"Hai, Nozomi," sapaku kepada gadis bernama Nozomi itu.
Ya, Nozomi. Seorang murid pindahan dari Jepang yang datang ke kelasku saat awal bulan Februari lalu. Sebenarnya aku juga berasal dari Jepang. Hanya saja aku datang ke Indonesia sejak tiga tahun lalu saat aku duduk di kelas satu SMP. Tidak heran kalau namaku Ryuji.
"Kenapa kau selalu memanjat pohon?" tanyanya sambil melihat ke atas dengan tampang sebal.
"Bilang saja kalau kau iri. Kau tidak bisa memanjat pohon, bukan? Kasihan sekali. Padahal pemandangan dari sini sangat memanjakan mata," ejekku.
Aku dekat dengan Nozomi sejak hari kedua dia pindah. Awalnya, tidak ada satu pun siswa di kelas yang mendekatinya. Jadi, aku memutuskan untuk berteman dengannya. Hanya berteman. Dan selamanya akan berteman.
Nozomi duduk di sebuah bangku kayu di bawah pohon sambil menyaksikan para siswa yang sedang berolahraga di lapangan. "Ah, aku jadi merindukan negara tempat asalku," tiba-tiba Nozomi berkata begitu.
"Sudah tiga tahun aku pindah dari Jepang. Tapi, aku tidak berniat untuk kembali lagi ke sana," kataku, berusaha membuat Nozomi tidak berpikiran kalau Indonesia itu lebih buruk dari Jepang.
Tentu saja aku lebih betah tinggal di Indonesia daripada di negara tempat kelahiranku. Sebenarnya, Nozomi berbeda dengan kebanyakan orang Jepang lain. Tidak sepertiku yang bermata sipit dan berkulit putih, Nozomi bermata lebar dan berkulit hitam. Karena dia mengaku kalau dirinya keturunan Jepang-Afrika.
"Apa kau betah tinggal di sini?" tanyaku, memulai pembicaraan setelah beberapa lama hanya suara angin yang terdengar. Nozomi menggerakan kakinya seperti seorang anak kecil yang sedang bosan.
"Aku betah tinggal di Indonesia. Aku betah tinggal di sekolah ini. Tapi, aku tak pernah betah untuk tinggal di kelas," akunya.
Aku baru ingat. Sebenarnya, Nozomi seorang yang pemurung. Dia hanya berteman denganku di kelas. Dia terlihat pendiam di hadapan orang-orang. Tapi, dia tak akan berhenti bicara saat sedang bersamaku.
"Ketika bersekolah di Jepang, aku juga seorang pemurung dan tidak memiliki teman. Sama seperti di sini. Aku tidak tahan dengan semua itu dan berniat untuk pindah ke luar negri. Aku pernah baca di artikel kalau Indonesia itu negara yang terkenal dengan keramah-tamahannya. Karena itulah, aku ingin pindah ke sini karena ayahku juga bekerja di sini. Setelah aku pindah, ternyata ini lebih buruk," lanjut Nozomi, lalu meninggalkan bangku kayu dan berjalan memasuki gedung sekolah bersamaan dengan suara bel yang berbunyi nyaring.
Aku melirik jam tangan. Jam pelajaran kosong ini tersisa tiga puluh menit lagi. Lebih baik aku kembali ke kelas. Aku meloncat dari pohon, lalu melepas earphone. Aku membeli sekaleng soda dari mesin penjual otomatis yang terletak di belakang pohon. Meminumnya sampai habis dan melempar kalengnya ke tong sampah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cerpen 10 Days ✔
Short StoryAdalah sebuah project rutin grup kepenulisan FLC. Yaitu member akan membuat sebuah karya cerpen dalam jangka waktu 10 hari. Cover spektakuler dari salah satu mem kami : @Kuroyuki01
