Subtema : Cinta Kandas di Tengah Jalan
Katanya, SMA adalah masa-masa merah jambu. Masa di mana kita akan bertemu dengan seseorang yang kita cintai dan mencintai kita. Dan aku percaya itu.
Ngomong-ngomong soal cinta, aku juga ... punya seseorang yang kucintai, dan sekarang orang itu ada di hadapanku.
"Hei, Sakura-chan," panggil seseorang di hadapanku sembari mengibas-ibaskan tangannya di depan wajahku. Aku yang sedang melamun tiba-tiba saja tersadar karenanya. "Jangan melamun, nanti kesambet."
"Eh, ada apa, Nao-kun?"
Naoki, pemuda yang ada di hadapanku ini mendengkus, lalu tersenyum. "Kebiasaan melamunmu belum hilang-hilang, ya. Kau terus menatapku sedari tadi. Aku tahu aku ini tampan. Tapi kau tidak boleh kecanduan dengan wajah tampanku. Bahaya, Sakura, bahaya!"
Perempatan siku-siku muncul di kepalaku. "Aku tidak melamun dan kau tidak tampan!" sanggahku.
Oke, baiklah. Wajah Naoki memang tampan. Tipe seorang ikemen yang diidam-idamkan banyak wanita. Tapi, kau tahu? Dia sangat menyebalkan!
Aku tidak tahu kenapa aku bisa jatuh cinta dan berpacaran dengan orang ini selama satu setengah tahun lamanya.
Naoki yang tidak memedulikan tatapan membunuhku malah tertawa. "Kau masih belum mengakui kalau pacarmu ini sangat tampan? Astaga, gadisku ini benar-benar tsundere, ya."
Aku mengerucutkan bibirku sebal. "Aku tidak tsundere!" balasku tidak terima.
Naoki tidak mengacuhkanku dan menyuap blueberry pancake-nya. Suasana kafe semakin ramai. Namun ia tetap bisa memakan pancake-nya dengan tenang dan mengobrol denganku tanpa beban.
"Sakura, buka mulutmu," pinta Naoki. Ia menyodorkan sesendok blueberry pancake-nya kepadaku. Aku menurut dan membuka mulut. Aku merasakan sensasi manis dan asam yang khas saat sesendok blueberry pancake itu masuk ke dalam mulutku
Tadinya aku berniat pergi ke perpustakaan untuk menghabiskan hari liburku di akhir pekan. Namun Naoki tiba-tiba saja datang ke rumahku dan mengajakku pergi ke kafe yang baru saja dibuka seminggu lalu. Katanya kafe ini menyediakan berbagai menu pancake yang lezat. Selain diriku, Naoki sangat jatuh cinta dengan pancake. Buktinya, tadi ia memesan lima pancake dan melahapnya habis. Aku yang memang tidak terlalu suka menyantap dessert hanya diam memandangi Naoki yang makan dengan lahapnya. Aku tidak berkomentar apa-apa karena di sela-sela makannya Naoki juga menyuapiku.
Orang-orang yang ada di sekitar kami, khususnya para gadis, berbisik-bisik. Mungkin karena sejak tadi Naoki menyuapiku. Aku memang menyukai sisi romantis Naoki. Tapi jujur saja, aku tidak suka jika dia menunjukkan sisi romantisnya di depan umum dan menjadi pusat perhatian begini.
Melihat ekspresi dan tingkahku yang risi, Naoki memecah suasana dengan menyudahi makan kami dan mengajakku keluar. Selain punya sisi romantis dan humoris, Naoki juga sangat peka. Hal inilah yang membuatku nyaman bersamanya.
Aku melirik arloji yang ada di pergelangan tangan kiriku. Jarum pendeknya sudah menunjukkan angka sepuluh. Aku mendesah kecil. Perpustakaan mungkin sudah ramai jam segini.
Naoki melirikku. "Ada apa, Sakura?" tanyanya.
"Tidak, tidak apa-apa," jawabku seraya menggeleng-gelengkan kepalaku.
Naoki tampak tak suka dengan responsku. "Aku sudah mengenalmu selama dua tahun. Jangan berbohong kepadaku, Sakura. Tidak apa-apa berarti ada apa-apanya. Katakan saja apa yang membuatmu tak nyaman."
Aku tersenyum kecil. Aku heran kenapa perkataan Naoki selalu tepat sasaran. Apa ini berarti dia sangat pengertian padaku?
"Sebenarnya tadi pagi aku ingin pergi ke perpustakaan. Tetapi sebelum aku berangkat, Nao-kun mengajakku ke kafe. Tadinya aku ingin menolaknya, tapi melihat Nao-kun yang begitu semangat dan memelas, aku jadi tidak tega," ungkapku. "Mau pergi ke perpustakaan sekarang pun, pasti sudah ramai."
KAMU SEDANG MEMBACA
Cerpen 10 Days ✔
Short StoryAdalah sebuah project rutin grup kepenulisan FLC. Yaitu member akan membuat sebuah karya cerpen dalam jangka waktu 10 hari. Cover spektakuler dari salah satu mem kami : @Kuroyuki01
