14. Memories

479 11 0
                                        

Hujan rintik-rintik tak kunjung reda, justru semakin bertambah jumlahnya, semakin deras, dan membuat siapa pun yang berada di luar sana berlarian mencari tempat untuk berteduh.

Pria itu berdiri di salah satu sudut halte bus bersama orang-orang yang menunggu bus datang atau sekadar mencari tempat berlindung dari derasnya air mata langit. Ia enggan untuk duduk, lebih memilih menyerahkan tempat kosong di dekatnya pada seorang gadis berseragam SMA.

Kepalanya menengadah menatap langit berwarna hitam pekat di atas sana. Tetapi, tatapannya kosong. Entah apa yang tengah ia pikirkan.

Oppa.”

Pria itu terhenyak saat sebuah suara memanggilnya. Ia menoleh ke arah gadis SMA tadi. “Kau memanggilku?” tanyanya pada gadis itu dan berhasil membuat si gadis melayangkan tatapan bingung.

“Tidak,” jawabnya singkat.

Kepala pria itu menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sumber suara yang lagi-lagi kembali memanggilnya. Tetapi, tak ada satu pun orang yang memanggilnya. Hingga ia sadar ... dirinya harus bergegas pulang ke rumah dan meminum obatnya.

***


Dengan keadaan setengah basah, Kyuhyun melangkahkan kakinya memasuki apartemen miliknya. Kedua kakinya berjalan menuju dapur. Tangannya terjulur membuka pintu lemari kecil di atas kompor. Ia meraih botol berwarna putih dan mengambil dua butir obat dari dalam botol tersebut. Diminumnya obat tersebut bersamaan dengan segelas air mineral.

“Lagi-lagi aku berhalusinasi,” gumamnya lirih. Ia mendudukkan bolongnya di atas lantai dapur yang dingin dengan punggung yang bersandar di dinding. “Padahal sudah lama sekali, tapi aku merasa dia masih ada di sini. Menemaniku sepanjang hari.” Kyuhyun memejamkan matanya.

“Oppa, cepat mandi! Kau ingin sakit, eo?”

Kelopak mata itu terbuka dengan cepat saat Kyuhyun mendengar seseorang berbicara padanya. “Ae-chan.”

Pria itu langsung bangkit dari duduknya. “Arraseo. Oppa akan segera mandi agar kau tidak khawatir.” Kyuhyun berbicara sendiri karena tak ada siapa pun di apartemennya selain dirinya. Ia langsung masuk ke kamar mandi dan melakukan ritual bersih-bersih diri.

Waktu cepat berlalu. Jam dinding menunjukkan pukul 10 malam, tetapi Kyuhyun masih betah di posisinya, memangku album foto yang telah usang, sampul albumnya pun tampak pudar. Sesekali kedua sudut bibirnya tersenyum saat indra penglihatnya tertuju pada sebuah ... ah, bahkan setiap foto yang tertempel di tiap lembar album tersebut mampu membuat seorang Cho Kyuhyun tersenyum.

“Ae-chan, maafkan aku.”

Entah sudah berapa kali Kyuhyun menggumamkan kalimat tersebut. Tangannya mengusap sudut matanya yang basah terkena lelehan air mata. Embusan napas berat keluar dari mulutnya. Dilanda perasaan lelah—fisik dan psikis—, Kyuhyun pun memejamkan mata dengan punggung yang menyandar pada headboard ranjang dan kedua paha yang masih memangku album foto.

***

Seoul, March 20XX

Kelopak Cherryblossom berjatuhan tertiup angin pagi, membuat jalanan dipenuhi warna pink. Orang-orang berlalu-lalang di bawah rindangnya pohon Cherryblossom. Ada yang berjalan kaki ataupun mengendarai sepeda. Semua menikmati musim semi, tak terkecuali sepasang kekasih berbeda usia yang tengah di mabuk asmara.

Cho Kyuhyun dan Choi Hyun Ae. Sepasang kekasih dengan perbedaan usia yang cukup jauh. Sang lelaki berusia dua puluh dua tahun, sedangkan sang gadis baru berusia lima belas tahun. Cinta memang bisa membuat seseorang menjadi buta, ya?

Cerpen 10 Days ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang