LEDAKAN KEGILAAN DI AWAL KULIAH

1.7K 94 2
                                        

saran bagi yang berjiwa rentan semenjak sekolah.

Berhati-hatilah saat kamu memasuki bangku kuliah, terlebih antara semester satu sampai empat atau lima. Terlebih bagi kamu yang sejak berada sekolah sudah cukup bermasalah dengan emosi dan kejiwaan yang mudah meledak, mudah bosan, tak puas dengan apa pun, atau pernah mengalami perasaan yang cukup buruk. Dan bagi kalian yang kemungkinan besar memiliki kejiwaan yang bermasalah secara serius, hati-hatilah saat memasuki ruangan kuliah. Perhatikan benar-benar semuanya. Teliti. Pahami. Dan renungkan secara dalam, lama, dan penuh pertimbangan.

Sebelum memutuskan untuk berkuliah, tanyakanlah pada dirimu sendiri, apakah aku akan kuat di tempat itu selama empat tahun? Apakah aku akan menyukai dosen-dosennya? Apakah ada teman yang akan cocok denganku? Apakah ada tempat dan lingkungan menarik yang menunjang bakatku atau ada ruang-ruang tertentu di sekitarnya yang bisa membuatku lari dan menangkan diri saat tiba-tiba kondisiku memburuk? Apakah aku akan tahan dengan sistem belajarnya? Apakah aku mampu bertahan di dalam kelas saat aku merasa bosan dan pelajarannya sangat tak menarik dan kualitas materi dan pengajarannya jauh dari harapanku? Apakah yang terjadi jika pada akhirnya aku merasa tak puas dan berujung malas untuk masuk? Apakah kedua orang tuaku mampu membiayaiku lagi seandainya aku gagal dalam kuliah kali ini karena kesalahan memilih universitas, fakultas, dan kota yang terasa tak menyenangkan? Jika keluargaku menolak usulanku, apakah yang akan aku lakukan nanti? Dan banyak lainnya yang bisa ditanyakan pada diri sendiri. Pertanyaan-pertanyaan penting ke diri sendiri bagi mereka yang berjiwa rentan sebelum memutuskan pergi ke universitas.

Hal yang sering dilupakan orang-orang adalah geografi dan budaya sebuah kota di mana kamu berkuliah. Sekali salah mengambil keputusan, terlebih jika orang tuamu galak, tak pengertian, sangat mengekang karena terlalu sayang, atau yang tak punya banyak uang, geografi akan menentukan nasibmu dengan begitu kuat dan dampaknya sangat terasa. Geografi bisa membuatmu senang atau malah gila.

Biasanya, awal gangguan jiwa tampak nyata adalah saat kita memasuki perkuliahan dan meledak di sekirar usia 22-25 tahun. Di mana tanda-tandanya sudah sangat jelas saat masa sekolah dan awal kuliah, seperti mudah depresi, cemas, tak tenang, ketakutan, merasa terasing, kesepian, merasa menjadi orang aneh, dan tak mudah bergaul atau memiliki emosi yang luar biasa labil. Jika tidak direnungkan secara serius, kesalahan memilih kota dan lingkungan, maka akan bersifat fatal.

Bagi kamu yang berjiwa rentan yang menyukai segala jenis ilmu pengetahuan, seni, budaya, buku-buku, musik, atau apa pun itu yang menunjang segi intelektual dan ekspresi diri, aku sarankan pilihlah Jogja. Dan kamu bisa mencoret seluruh kota di Indonesia sebagai tak layak. Hanya Jogjalah satu-satu tempat di mana galeri seni berjumlah ratusan, setiap hari terdapat pameran, acara musik, kesenian, buku-buku luar biasa murah dan berlimpah sehingga cocok bagi kamu yang suka menyerap ilmu pengetahuan yang begitu cepat, dan banyak tempat wisata untuk bersenang-senang jika kamu bosan ke cafe, clubbing, atau sekedar ke mal atau bioskop. Jika kamu tipe manusia bertipe intelektual dan seni atau bohemian, hanyalah Jogja satu-satu tempat. Dan kota Jogja sangatlah kecil, sehingga kamu bisa menghadiri semua acara yang mungkin. Hal yang tak bisa dengan mudah kamu lakukan saat di Jakarta, Semarang, Bandung atau Surabaya.

Tapi jika kamu tipe orang yang lebih puas dengan keglamoran, high class, tidak terlalu suka buku, dan kesehariannya lebih sering ke cafe, mal, dan semacamnya. Tipe laki-laki atau perempuan karir yang bukan tipe intelektual dan bohemian, maka Bali, Bandung, Semarang, dan Surabaya adalah pilihan. Atau kota-kota di luar Jawa lainya. Tapi jika kamu siap dengan kemacetan yang merusak emosi, mudah lelah di jalan, dan membuat malas ke manapun. Maka Jakarta bisa menjadi pilihan akhir. Terlebih jika kamu tipe orang yang tak suka ke mana-mana. Tapi jika kamu orang yang sangat aktif, Jakarta adalah neraka buat kamu pada akhirnya. Kecuali memang kamu manusia bermental cukup kuat. Tapi tidakkah aku sedang membicarakan yang berkecenderungan rentan?

Banyak anak remaja tak pernah diberitahu mengenai informasi semacam ini. Orang tua, guru, teman, hanya merasa cukup dengan gambaran bahwa universitas ini sangat bagus, yang itu terkenal, dan yang ini akredetasinya A. Tapi jika kamu hanya menilai dirimu sejauh itu saja, kamu tak ubahnya hanyalah robot. Manusia adalah sosok yang sangat rumit. Kamu juga harus memikirkan hobi-hobimu, pikiranmu, kejiwaanmu, dan kemungkinan kamu berkembang. Kamu harus mulai keluar dari penilaian sempit bahwa kita hidup hanya untuk berada di kelas bagus tapi setelah itu menderita total karena lingkungan dan geografi yang tak mendukung dan budaya masyarakat yang tak cocok dengan diri kita. Apa gunanya kamu berada di universitas sangat terkenal dan bergengsi jika pada akhirnya kamu gila dan malas untuk berada di kelas? Apa gunanya kamu di kota besar, jika kota besar itu memiliki ruang-ruang publik dan sosial yang sangat tak memuaskanmu? Bagi orang yang secara mental sangat kuat, mereka mungkin tak begitu masalah. Karena terkadang mereka bisa kedap terhadap sekitar. Tapi jika kamu punya jiwa dan pikiran yang lebih rentan dan aktif, kota yang salah bisa benar-benar membunuhmu.

Banyak remaja nyaris hancur saat mereka beranjak dewasa karena salah memutuskan arah hidup mereka yang paling vital, yaitu tempat kuliah yang salah. Entah salah mengambil fakultas, jurusan, universitas, atau kota. Lalu dia salah menilai bahwa kemungkinan besar tempat baru yang dia masuki, lebih menyenangkan padahal hampir sama saja saat dia berada di sekolah. Sangat membosankan dan menekan. Tekanlah sedikit mungkin kesalahan mengambil keputusan agar kamu tidak merasa gila dan ingin berhenti kuliah dan akhirnya melakukan percobaan keluar masuk universitas dan kota berbeda berkali-kali. Jika kamu memiliki banyak uang dan orang tua yang mendukung, itu tak masalah. Jika tidak, itu akan menjadi penderitaanmu pada akhirnya. Karena, ledakan kegilaan biasanya akan menerjangmu saat kamu memasuki kuliah semester ketiga dan luar biasa parah saat memasuki semester empat dan lima. Jika tidak kuat dan tak ada tempat untuk lari, kamu bisa tak ingin kuliah lagi atau tak mampu menyelesaikan kuliah tepat waktu. Karena kamu akan lebih disibukkan dengan dirimu sendiri. Atau bisa jadi, kamu tak bisa menyelesaikan kuliah sama sekali.

Hal yang seharusnya bisa ditekan oleh sistem pendidikan semenjak dini. Tapi karena sistem pendidikan lebih menghargai otak dan nilai dari pada kesehatan jiwa. Maka banyak sekolah merasa tak penting dengan kebahagianmu dan kejiwaanmu. Bahagia bukanlah hal yang diutamakan dalam proses pendidikan di negara ini. Banyak sekolah tak membutuhkan kebahagiaan anak didiknya asalkan anak-anak itu bernilai bagus dan kelak masuk ke universitas terkemuka dan bekerja mencari uang yang banyak. Kebahagiaan adalah saat mendapatkan nilai, prestasi, dan uang atau kedudukan sosial. Kebahagiaan bukan ada di proses tapi di akhir kisah. Sehingga, banyak sekolah membuat siswa-siswinya sakit secara mental atau jiwa walau nanti banyak anak didiknya menjadi orang besar.

Karena sekolahmu dan lingkunganmu bukan tempat yang bisa kamu ajak berbicara dengan jujur dan tulus. Kamu harus bisa menilainya sendiri. Buatlah keputusan yang paling tepat. Keputusan yang akan menyelamatkanmu saat kegilaan yang dahsyat menerpamu. Seandainya tak ada siapa pun yang bisa menolongmu, setidaknya kamu bisa menolong dirimu sendiri dengan pergi ke berbagai galeri seni, bersenang-senang di jalanan, acara musik, atau bersuka cita di berbagai forum intelektual yang menyenangkan. Setidaknya, saat tak ada orang terdekat. Ruang-ruang yang tepat di sebuah kota yang kamu pilih, bisa sedikit menyelamatkan kehidupanmu.

Maka, berhatilah-hatilah memilih dan memutuskan ke mana hidupmu empat tahun ke depan.

PSIKOLOGI, PSIKOTERAPI, DAN MASALAH LAINNYACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang