Esai-esai yang aku tulis ini, lebih berkaitan dengan dunia psikologi dan bagaimana kita keluar dari jeratan hidup yang menekan. Di sini kau akan menemukan bagaimana memilih psikiater atau psikolog sebelum memutuskan pergi ke klinik mereka. Bagaimana...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah beberapa hari ini pergi dari galeri ke galeri seni. Tak tidur hingga pagi hari untuk menulis, membaca,merenung, dan membongkar muatan isi kepala. Maka, pagi ini, seperti yang biasanya aku lakukan dalam jangka waktu tiga atau empat hari. Aku akan berada di pasar tradisional Bringharjo, yang terletak di Malioboro 0 km.
Seperti biasa. Membeli keperluan memasak. Bagiku, laki-laki harus bisa memasak. Dan hidup mandiri dengan masakannya, seandainya masih bisa melakukannya. Jika kelak memiliki keluarga, anak-anak dan istri, akan lebih dekat dengan kita dari pada mereka harus mengingat masakan warung dan restauran. Kenangan akan masakan, terlebih keluarga, bisa bertahan sangat lama karena itu seringkali menjadi kenangan yang indah sewaktu kecil.
Saat berada di pasar tradisional. Aku bagaikan berada di dunia yang agak bebas dari politik, pamer kekayaan, Tuhan yang tak banyak disebut, terhindar dari omong kosong sastrawan dan kaum terpelajar dan intelektual yang hanya banyak bicara. Di sini, sebuah pasar yang begitu ramai dengan para penjual dan pembeli. Pagi hari terasa sangat menyenangkan.
Pasar tradisional bagiku adalah kesejukan tersendiri dibandingkan mal yang terlihat kaku, berjarak, membosankan, tak semarak, pancaran dari kesan kaum terpelajar dan kaum berada yang saling menutup mulut. Di mal, saling tukar senyum dan berbicara dengan orang yang lewat, seolah bagaikan kegilaan dan keadaan yang tak waras. Atau, tak lebih dari dunia lain yang setiap hari aku masuki dan membosankan.
Mal. Cafe. Restauran. Dan segala macamnya, seolah membuatku merasa bahwa aku bagaikan dihimpit dengan sistem sosial yang begitu berjarak, jauh, dan saling mengabaikan. Dan galeri seni, juga nyaris menampilkan kesan yang sama walau lebih bebas dan mengalir.
Pasar tradisional meruntuhkan kesan itu. Dan membuat aku menjadi orang biasa. Bahkan seringkali tanpa harus perlu mandi, tak peduli cara berpakaian, tak peduli gaya rambut, atau apa pun yang biasanya sering manusia modern lakukan jika ingin memasuki mal dan lainnya.
Ini adalah dunia, di mana aku cukup terbebas dari perdebatan intelektual dan saling iri akan benda-benda. Semenjak aku mengenal zero waste dan minimalisme, mal menjadi hal yang semakin jarang aku masuki. Pasar tradisionallah, tempat di mana ramah tamah, canda-tawa, tingkah konyol, dan banyak lainnya yang hilang dari wajah kota terselamatkan. Melihat ibu-ibu penjual sayuran. Ayam potong. Berbagai gerabah. Nasi. Jajanan pasar. Dan para laki-laki yang menjual tempe, cabe, beras, atau sekedar menunggu istrinya, adalah sesuatu yang menyenangkan.
Mencari tahu-tempe karena aku menghindari daging dan ikan. Membeli terong yang ternyata sangat murah. Menawar bayam, kangkung, dan kol, wortel dan bahan untuk sup atau sayuran untuk kuah asam. Atau memilih beras yang ingin dibeli. Penjual cabai langganan yang ramah. Membeli bawang putih, bawang merah, ketumbar, merica, garam, dan segala jenis bumbu dapur, adalah pengalaman yang tak tergantikan. Yang tak bisa dialami sewaktu di mal.
Keriuhan yang menenangkan. Wajah-wajah bahagia, lelah, menunggu, bosan, atau berharap, bercampur jadi satu. Dan yang paling menyenangkan adalah mencari-cari jajanan pasar. Kenangan yang menghibur, yang tak tergantikan oleh apa pun.
Para tukang parkir yang ramah. Penjual minyak goreng yang berdekatan dengan penjual buah-buahan. Para penjual dengan dagangan yang sama, yang menunggu dan berharap dagangannyalah yang dibeli. Dan, para kuli panggul, tukamg becak, dan para laki-laki yang kadang berposisi sebagai para pembantu.
Ini adalah dunia para ibu-ibu. Para perempuan yang jauh lebih banyak dan berkuasa atas sistem ekonomi. Dan di sinilah, aku melihat, orang tak perlu berbicara muluk mengenai feminisme dan sebagainya.
Pasar tradisional, dunia tersendiri di mana aku mengamati banyak hal. Dan berjalan ke sana-kemari, naik-turun tangga, dan melihat berbagai perilaku, cara berdagang, perbedaan harga-harga, terasa menghibur. Bagaikan ekonom yang sedang mengamati sosiologi ekonomi kecil dan mikro.
Dan yang paling menyenangkan adalah, saat para ibu-ibu dan bapak-bapak tertarik denganku, seorang laki-laki yang selalu ke pasar. Membeli-membeli ini itu. Sehingga seringkali muncul suara, "Mau buat apa mas? Masak sendiri yak?" Sambil diiringi senyuman dan tawa yang menarik.
Itulah kebahagiaan yang jarang aku dapat di sebuah kota yang bagaikan tengah menelan segalanya.
Setelah dari pasar dan merasa puas dengan sedikit kehidupan. Aku akan pergi tidur dan memasak untuk siang harinya. Kebiasaan yang bagiku sendiri adalah terapi dari kegilaan dan kesombongan hubungan sosial dari dunia di sekelilingku.
catatan: pasar tradisional Bringharjo bagian luar ruangan atau gedung. lupa menjepret bagian dalam. foto susah diunggah. menunggu nanti.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.