DEMAK: MASJID AGUNG

157 7 0
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Jalanan di sepanjang Kudus, Jepara, sampai Demak, rasanya seperti berada di neraka. Membuatku aku ingin mengumpat dan marah-marah. Tak adanya tutupan pepohonan, membuat diriku lebih seperti dipanggang hidup-hidup di tengah jalan.

Sesampainya di Demak, kota ini rasanya menyambutku dengan teror yang bernama sengatan cahaya matahari yang langsung membuatku sakit.

Aku memarkirkan motorku di depan Masjid Agung Demak dan melihat alum-alun yang begitu luas namun gersang. Hanya ada satu pohon beringin besar di sisi selatan yang menjadi tempat berteduh banyak orang. Sedangkan yang lainnya, hanya pohon kecil yang nyaris tak berarti untuk digunakan berteduh.

Panas. Panas. Panasnya tak terkira. Aku berada di Demak. Sebuah kota, yang dahulu adalah Kerajaan Islam yang mengakhiri kerajaan Majapahit. Dan para walinya yang terkenal itu. Ah, aku lagi tak ingin mendongeng tentang sejarah. Aku ingin berbicara soal panas dan panas.

Kudus masihlah lebih sejuk dari pada kota ini. Dan kudus jauh lebih indah. Demak, adalah kota kuno yang sedikkt berantakan. Lalu panasnya. aku nyaris kehilangan kata-kata untuk menggambarkannya.

Sedikit pepohonan. Nyaris tak ada burung-burung melintas kecuali dua ekor burung gereja yang terbang di depan mataku lalu pergi entah ke mana. Selebihnya hanya ada manusia dan manusia. Motor dan mobil yang terparkir. Orang-orang yang sibuk dengan dunianya masing-masing.

Aku gagal untuk berhenti cukup lama di Jepara. Padahal aku ingin sekali merasakan lagi pantainya. Waktuku tidak cukup. Tapi, melihat pinggiran Jelara saja aku sudah cukup paham bahwa Kudus adalah kota kecil yang terbilang lebih makmur, tertata, dan memiliki sistem yang baik.

Desa-desa di Kudus dibangun dengan cukup indah dan tertata rapi dibandingkan banyak desa lainnya yang berkiblat pada desa tertentu. Walaupun begitu, seseorang harus mengerti, bahwa masing-masing desa punya sejarah dan para pendirinya masing-masing. Ada kalanya, dua desa yang bersebelahan memiliki sistem sosial yang beberapa hal di antaranya sangat berlawanan dan memiliki perbedaan yang mencolok. Pada akhirnya nilai, struktur sosial, dan etos kerja bisa sama sekali berbeda dan itu terlihat di jalanan yang bisa bagus dan terawat atau buruk. Perayaan hari tertentu yang meriah dan penuh ide kreatif sedangkan desa sebelah nyaris hanya itu dan itu saja. Ini tak ubahnya sistem blok, rt, dan perkampungan atau gang di kota-kota besar. Masing-masing blok hunian bisa berbeda nyaris total atau lumayan banyak cara mereka hidup tergantung yang memimpin dan masyarakat itu sendiri yang nantinya sistem sosial, cara berpikir, nilai yang disepakati, akan diteruskan ke generasi berikutnya.

Mengamati desa-desa sejatinya jauh lebih menarik dari pada mengamati kota-kota. Tapi, aku sudah ada di sini. Di pusat ibukota Demak.

Memesan mie ayam. Memakannya dengan rakus karena perut begitu kelaparan. Melihat keluarga yang tampilannya lebih mirip pengemis dari pada orang berpunya. Tapi, mereka membawa mobil. Menarik. Aku banyak melihat hal yang semacam ini. Para orang kaya baru yang berasal dari pedesaan yang kini, kesejahteraan mereka seringkali lebih banyak dari orang kota.

Kelak, Jakarta dan lainnya tak lagi bisa angkuh. Saat dunia industri bergerak semakin luas ke desa-desa. Dan orang-orang desa akhirnya bekerja dan cukup makmur hidup tak jauh dari rumah mereka tanpa harus mencari kerja ke Jakarta dan lainnya.  Banyak kota besar akan kehilangan para pekerja dan tiba-tiba saja mengeluh betapa susah dan mahalnya mencari para pekerja. Jika mereka yang dahulu kala menjadi pembantu rumah tangga, mereka yang memomong anak dan lainnya sudah bisa cukup makmur di dekat desanya masing-maaing. Buat apa lagi ke kota besar? Ah, itu akan menjadi masa guncangan sistem ekonomi perkotaan dan peralihan yang tak terlalu menyenangkan karena buruh murah melimpah kini tidak bisa seenaknya dibeli dengan mudah.

Demak membuatku ingin berteriak. Masjid Agung tak membuat jalanan dan lingkungan di sekitarku menjadi sejuk layaknya surga. Panas. Panas. Panas. Masjid Agung yang panas. Ya, inilah Demak.

Aku pun tak betah berlama-lama di lingkungan panas semacam ini. Aku melihat sejenak masjid yang sangat penting dan bergaya Jawa yang ada di depanku. Memandangi menaranya yang unik dan lebih mirip menara untuk memanah. Memandangi para pengemis, yang sejak aku kecil, tak pernah bisa menghilang dari lingkungan masjid.

Agama, panas, dan pengemis. Perpaduan yang layak.

Aku mengambil sepeda motorku. Menghambur di jalanan, yang panasnya membuatku benar-benar ingin mengumpat sepuas-puasnya.

PSIKOLOGI, PSIKOTERAPI, DAN MASALAH LAINNYACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang