Esai-esai yang aku tulis ini, lebih berkaitan dengan dunia psikologi dan bagaimana kita keluar dari jeratan hidup yang menekan. Di sini kau akan menemukan bagaimana memilih psikiater atau psikolog sebelum memutuskan pergi ke klinik mereka. Bagaimana...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Emosiku sekarang ini entah kenapa cukup terredakan dengan berkunjung ke Rumah Sakit dengan nama aneh, Rumah Sakit Happy Land. Menengok teman yang sakit dan bercanda tentang banyak hal dengan mamanya. Ah, seandainya di sini aku bisa diterima oleh banyak orang dan ada kehangatan jarak yang jarang aku rasakan dari dekat semacam itu. Mungkin aku akan bertahan.
Terus-menerus ditolak dan ditinggalkan itu menyakitkan. Pada akhirnya, mungkinkah aku menyimpan trauma akan kedekatan dengan orang-orang? Takut kembali ditolak dan disalahpahami di mana pun aku berada? Entahlah. Tapi malam yang dingin ini, kecemasanku sedikit berkurang.
Saat ini aku sedang berada di Bentara Budaya. Banyak sekali anak muda di sini. Acara milik Survive Garage yang berjudul Survive Attack 2018: Paint, Print, Paste. Cukup menyenangkan. Membuatku cukup terhibur. Bertemu dengan beberapa seniman senior dan seniman jalanan yang aku kenal. Yah, orang-orang sangat menerimaku dan mudah bergaul denganku saat aku menutup mulut.
Menutup mulut dan pikiran. Ya, tiba-tiba di mata banyak orang aku bisa menjadi sosok yang menyenangkan. Tak apalah. Untuk yang terakhir. Lagian ini adalah periode diamku di ruang publik.
Melihat cukup banyak karya menarik dan lebih menghibur dari pada di Jogja Gallery kemarin. Dan tertawa lebar dengan karya Pahlawan Jaman Now. Setidaknya, aku masih bisa sedikit bersenang-senang.
Acara musik hingar bingar khas anak muda. Dan anak muda yang berjubel, dengan kebebasan dan tentunya rasa sakit mereka. Orang-orang asing dari luar negeri dan diriku sendiri yang asing.
Aku membawa novelku. Mengeluarkannya sebentar. Lalu menggantinya dengan Bansky. Setelah itu aku menikmati kesendirianku di pojok, dengan musik dari Chad Lawson yang paling aku sukai. Ah, sejak dulu aku tahu, aku selalu disukai jika aku diam. Menjadi anak manis dan tak banyak tingkah. Membungkam pikiranku dan menutup rapat diriku. Banyak perempuan, keluarga, orang tua, dan bahkan anak-anak sangat menyukai jika aku membungkam sebagian besar diriku.
Pada dasarnya aku mudah bergaul dan bercanda. Hanya saja mereka hanya menginginkan aku yang seperti itu. Yang menyenangkan, ramah, perhatian, dan benar-benar selalu ingin memahami orang lain. Tapi sayangnya, di tubuhku ini tidak hanya ada satu kepribadian dan dunia. Saat pikiranku keluar. Tiba-tiba semua orang menjauh. Pergi. Itu seperti, aku hanya diinginkan saat terus menekan sisiku yang lain. Padahal itu adalah bagian dari diriku. Aku tak bisa mengingkarinya jika aku ingin sembuh.
Tapi orang-orang memaksaku mengingkarinya. Tak menunjukkannya. Mereka menginginkan aku sebagai laki-laki baik hati yang mereka idealkan. Aku bisa. Tapi tidakkah itu sama saja separuh pura-pura? Dan bipolarku. Ya, karena aku seringkali terlalu baik di mata mereka. Akhirnya, saat bipolarku menggila dan pikiran liarku keluar. Mereka semua tak siap. Ya, inilah duniaku yang sangat dilematis.
Sejak dulu aku berpikir, seandainya aku mengambil jalan seperti mayoritas temanku. Mungkin, ya, mungkin, aku akan diterima di mana pun. Saat aku di Greenpeace. Saat masih menjadi aktivis lugu. Atau di banyak ruang lainnya, yang mana aku harus ikut saja.
Mungkin seandainya mereka korupsi. Aku akan ikut korupsi. Jika penulis di sekitarku membungkam mulutnya. Aku juga ikut menutup mulut. Jika orang-orang merasa baik padahal kesehariannya jauh dari itu. Aku lebih baik ikut merasa menjadi orang baik. Jika ada orang miskin dan pengemis di sekitarku. Aku membungkam hati nuraniku. Jika banyak intelektual di sekitarku kebanyakan pembohong dan aku juga ikut jadi pembohong seperti mereka. Ya, mungkin aku akan diterima di mana pun.
Tidak mengkritik orang-orang demi gairah ilmu pengetahuan. Tidak mempertanyakan kedirian seseorang terlalu dalam. Dan berusaha menjadi seorang nepotis dan penjilat sejati yang hidup dalam dunia kesukuan. Mungkin, dan sejujurnya tak lagi mungkin. Aku tak akan terus ditolak.
Ikut dengan orang-orang beragama yang memakan beras orang miskin dan mengamini kebertuhanan mereka tanpa mempertanyakan cara hidupnya. Aku akan sangat disukai. Jika aku membungkam mulutku dan menutup dengan keras pikiranku. Aku akan mudah diterima.
Pada akhirnya, aku hanya fokus mencari uang dan hidup mapan. Tak perlu memikirkan kebaruan berkarya, gagasan, wacana, ilmu pengetahuan sampai pemerintahan. Aku pastinya akan mudah dicinta oleh semua orang tua mana pun. Yah, mungkin mereka akan mudah menjadikan aku sebagai menantu. Ya. Padahal aku tahu jalan itu. Aku tahu bagian diriku yang ini. Tapi...
Aku hanya perlu menjadi konsumen sampai aku mati. Mungkinkah aku akan sedikit bahagia dan siapa tahu, kejiwaanku sedikit terobati?
Aku mengamati anak-anak muda di sana yang sibuk bergoyang dan menikmati dunianya walau sekedar beberapa jam. Seandainya aku ikut dunia mereka dan membiarkan semua yang mereka lakukan. Aku akan diterima.
Membungkam mulut. Menutup pikiran. Menjadi normal. Menjadi manusiawi.
Dan saat nanti bom meledak dan banjir datang atau politik nasional memburuk. Aku hanya pura-pura menjadi orang baik. Sok peduli. Sok memahami. Ya. Mungkin aku tak akan menjadi seperti ini.
Aku menatap langit di atas. Sebuah bintang merah bersinar begitu terang. Jalanan menjadi lebih sepi. Dan musik masih begitu kencang dan gaduh.
Ah, aku dilahirkan di negara yang salah. Tak apalah. Setidaknya, aku telah menyelesaikan sebagian besar pikiranku. Ya. Dan aku sudah sedikit lega walau tak sepenuhnya puas. Tapi itu lebih dari cukup.