Narsisme adalah keinginan untuk dipuja, dikagumi, dan diperhatian tanpa mau memerhatikan balik atau tak berkepentingan untuk berbincang atau berdialog. Semuanya hanya berpusat pada diri sendiri. Tak perlu memberi perhatian pada orang lain. Bahkan tak usah peduli dengan penggemar atau orang yang ingin berkenalan. Semua bisa diabaikan. Bahkan kekasih sendiri pun bisa diabaikan dengan mudahnya.
Jadi narsisme sebagai gangguan jiwa ciri paling mudahnya, bisa kamu temui di banyak orang hari ini. Setidaknya, walaupun bukan pengidap narsisme tapi gejalanya sudah menunjukkan hal itu.
Contohnya, seorang penulis yang kamu sapa dan komen apa pun dia tak membalas karena dia sudah banyak pengikut dan penggemar. Atau bahkan malah sejak awal dia nyaris tak membalas sama sekali. Seorang perempuan yang punya banyak penggemar dan seorang selebgram yang tiap hari memosting tubuhnya yang aduhai atau semuanya tentang tubuhnya. Tiap hari dia hanya memosting dan memosting. Tak peduli dengan para penggemar atau bahkan kenalan. Atau seorang sosialita yang rajin memosting apa pun yang dia lakukan di twitter, facebook, instagram dan bahkan sering melakukan video streaming tapi tak berkepentingan untuk membangun percakapan dan hubungan sosial.
Jika kamu seorang pengamat dan analis, kamu pasti heran buat apa mereka bertelanjang tiap hari dan nyaris bugil di instagram? Atau berpose bak model dan seluruh isi instagramnya semua hanya berisikan wajah, tubuh, dan gaya hidup dirinya. Untuk apa dia memasang semua foto dirinya dan kenapa tidak disimpan di laptop atau handphone saja padahal dia sendiri mengabaikan semua orang yang ingin membuka percakapan dengannya?
Jika kamu bertemu dengan seseorang macam ini, kemungkinan besar dia mengidap gangguan kepribadian narsisme yang hari ini terkadang begitu sangat dekat dengan eksibisionisme. Yaitu kenikmatan luar biasa saat bertelanjang di depan umum atau publik. Dan seseorang yang merasakan kenikmatan saat dirinya dilihat dan dipandangi.
Terlampau berpusat pada diri sendiri. Terlampau memuja diri sendiri. Terlampau memberi perhatian pada penampilan atau pengetahuan yang semua untuk alasan dipuja. Ya, ingin dipuja, dianggap hebat, diagungkan, dijadikan idola layaknya seorang artis tanpa berkebutuhan untuk membangun hubungan sosial yang kokoh. Semua orang bisa dimanfaatkan untuk membangun kepopuleran. Baik orang tua, teman, sampai pasangan. Semua yang dibutuhkan adalah diakui, dipuja, populer, dikagumi dan diperhatian tanpa mau memerhatikan balik. Akibatnya, banyak pengidap narsisme lebih banyak menuntut orang tua sampai pasangannya tanpa mau dituntut balik. Sehingga yang sering terjadi adalah sebuah kepribadian kontradiktif. Kesepian dan hampa di tengah kepopuleran. Kepopuleran yang semua dan rapuh.
Pengidap narsisme lebih mementingkan pengikut dan seberapa banyak orang mengelike atau menyukai postingan yang ada di media sosialnya. Makanan sehari-harinya bukan percakapan atau hubungan sosial tapi sekedar pemujaan semu. Itulah sebabnya banyak perempuan rela membuka tubuhnnya nyaris telanjang hanya sekedar untuk menambah pengikut dan "like". Padahal tanpa harus bertelanjang atau terus-menerus menampilkan tubuhnya yang cantik. Dia sendiri sudah sangat populer. Dan akan lebih populer lagi jika dia hangat dan ramah dengan orang-orang. Tapi pengidap narsisus bukan tipe orang yang mau diributkan dengan hubungan timbal balik atau kepopuleran yang ramah secara sosial. Yang mereka butuhkan adalah kepopuleran yang dingin bak putri es atau ratu salju yang susah disentuh.
Dia ingin dipuja bak ratu yang tak tersentuh. Dipuja dari kejauhan. Dikagumi oleh hamba dan rakyatnya yang jelata. Dan kecantikan dan tubuh yang telanjang, bagi pengidap narsisus sudah dirasa cukup untuk mendapatkan pengikut dan pemuja yang mayoritasnya laki-laki yang sejujurnya hanya mementingkan hasrat saja.
Asalkan populer dan bisa menikmati pemujaan yang besar. Seorang narsisus bisa merelakan apa pun.
Akibat besarnya dari seseorang yang terlampau berpusat pada dirinya adalah pengabaian terhadap yang lain. Bahkan terhadap orang yang mencintai dan sangat membutuhkannya. Pengidap narsisus bisa sangat kejam dan tak berperasaan terhadap keluarga sendiri atau bahkan kekasihnya. Dia bisa memutus hubungan dengan mudahnya. Mengolok-ngolok orang lain dan menganggap semua orang tak layak kecuali dirinya. Akibatnya, banyak orang seringkali mengecapnya sombong dan luar biasa kejam. Sedikit dari pengidap narsisus yang menghargai hubungan sosial atau bahkan percintaan. Hubungan sosial akan tetap dipertahankan selama menguntungkan baginya.
Karena terlampau berpusat pada diri sendiri dan menganggap dirinya adalah segalanya. Pengidap narsisus tak kuat dengan kritik atau pada akhirnya seringkali hancur saat ditinggalkan lebih dulu. Atau biasanya, saat dia memutus hubungan pertemanan atau percintaan sepihak. Jika pertemanan itu cukup kuat dan memilili pasangan yang luar biasa pengertian atau susah marah dan sabar. Pengidap narsisus baru akan merasakan efeknya belakangan. Di saat semua orang tak lagi kuat dengan dirinya. Dia akan mengingat sosok yang dulu mau menemaninya mati-matian yang dia tinggalkan begitu saja.
Mayoritas besar orang narsisus hidupnya sangat tak tenang, hampa, mudah kecewa, dan syarat dengan frustasi dan depresi. Kekayaan, prestasi, tubuh yang cantik aduhai, kepopuleran, dan keberhasilan dalam pekerjaan tak membuat dirinya puas terhadap kehidupannya. Selalu ada yang kurang dan kurang. Semuanya selalu kurang. Pengidap narsisus selalu mencoba menutupi kekurangan itu tapi tak pernah berhasil.
Dan apa yang terjadi? Yang terjadi adalah banyaknya perempuan cantik, kaya raya, pintar, sukses, dan berbakat. Tapi hancur secara emosional, kejiwaan, dan percintaan.
Sampai dewasa dan bahkan berumah tangga, pengidap narsisus masih tak pernah tenang. Karena dari kecil sampai memiliki anak, jika ada, memperhatikan orang lain bukanlah kehidupan dan keseharian dirinya. Maka, perkawinan bertahan seringkali akibat kekayaan pihak suami atau saat pengidap narsisus masih bisa dimanjakan dan diberikan apa saja.
Pengidap narsisus bukan pemuja etika kesetiaan. Yang dia pedulikan adalah dirinya sendiri. Perasaan pasangan adalah nomor kesekian juta. Itulah sebabnya hidup bersama seorang narsisus begitu berat karena pada dasarnya dia bisa meninggalkan kita kapan pun.
Dan lucunya, banyak pengidap narsisus menangis bahwa tak ada seseorang yang mencintai dan menginginkannya. Dan lupa menengok dirinya dan apa yang telah diperbuatnya. Saat ditinggalkan secara paksa, mereka seringkali mudah hancur. Karena dia lah yang pada dasarnya meninggalkan lebih dulu.
Saat kamu melihat banyak perempuan menangis, mengeluh ditinggalkan atau diputus dan merasa tak dicintai. Atau pada akhirnya menganggap semua laki-laki brengsek. Tanyakan perempuan itu, saat dia berpacaran atau berumah tangga. Seberapa besarkah dia mengerti dan mencoba memahami atau memberi perhatian ke pasangan atau suaminya? Jika jawabannya adalah pihak laki-lakilah yang terlampau sabar dan memberi perhatian yang besar. Maka, kesimpulan akhirnya, pihak perempuan adalah tipe manusia yang bisanya menuntut dan menuntut. Tapi merasa sakit hati dan marah saat ditinggalkan. Suatu tipe egois yang tak sadar diri.
Dan pengidap narsisus tidak hanya sangat egois tapi juga kejam. Hanya saja, banyak dari mereka anehnya, tak menyadarinya. Ya, anehnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PSIKOLOGI, PSIKOTERAPI, DAN MASALAH LAINNYA
Non-FictionEsai-esai yang aku tulis ini, lebih berkaitan dengan dunia psikologi dan bagaimana kita keluar dari jeratan hidup yang menekan. Di sini kau akan menemukan bagaimana memilih psikiater atau psikolog sebelum memutuskan pergi ke klinik mereka. Bagaimana...
