AMBISI MASA MUDA: SEBUAH UTOPIA

393 20 1
                                        

Ambisi terbesarku adalah melahirkan karya penting sebelum aku berumur 30 tahun. Sebuah karya yang aku tulis secara memuaskan dan bagiku sendiri cukup mewalili duniaku.

Seseorang yang hidup untuk gagasan dan ilmu pengetahuan cara berpikirnya cukup jauh berbeda dengan orang yang hidup untuk karir yang berkaitan dengan kemakmuran, status sosial, atau kerja yang berujung dengan uang. Bagiku, dan bagi banyak orang yang sibuk meneliti, mencari gagasan baru, atau teori baru dan tengah membuat inovasi. Harus menghabiskan waktu demi waktu untuk mencari uang itu sungguh menyakitkan. Seolah-olah waktu terbaik kami terbuang karena persoalan uang yang membelit. Itulah sebabnya, banyak dari kami yang bukan terlahir kaya raya atau dari keluarga konglomerat, mengeluh bahwa waktu terbaik kami berpikir dan mewujudkan gagasan kami terhenti atau hilang karena alasan klasik. Uang. Kami tak memiliki pendanaan mencukupi untuk mewujudkan apa yang ada di pikiran kami. Dan itu sangatlah menyakitkan.

Mencari uang dan sibuk mencari uang di saat kami tengah mengejar gagasan dan penemuan kami, itu sangatlah tidak mengenakkan. Sangat mengganggu. Dan kami benar-benar nyaris membenci hal itu.

Mencari uang itu bisa seumur hidup. Tapi tidak dengan gagasan atau ide dan penemuan kami. Itulah alasannya banyak orang kaya yang hanya sekedar kaya tapi tak menghasilkan penemuan penting apa pun. Karena menjadi kaya itu bisa dilakukan siapa pun asalkan dia bekerja keras dengan sungguh-sungguh. Tapi gagasan dan ide itu bisa mudah menguap atau jika kami tidak segera menyelesaikannya, ide itu akan diambil dan ditulis orang lain. Itu sama saja lonceng kematian bagi kami.

Seorang anak kecil pun bahkan bisa menjadi kaya raya. Tapi apakah anak kecil itu mampu menulis lebih dibandingkan Nietzsche atau saat dia dewasa, apakah dia akan melampaui Stephen Hawking?

Miliaran orang kaya mati. Di antara tumpukkan orang mati itu hanya segelintir yang menjadi ilmuwan, pemikir, negarawan, atau ekonom dan sastrawan penting. Orang miskin bisa dengan mudahnya menjadi kaya raya. Tapi orang miskin itu belum tentu bisa menggantikan seorang Beethoven atau Mozart. Sama halnya dengan para konglomerat dan pengusaha yang kita tak tahu apakah mereka nyata atau sekedar fiksi.

Itulah sebabnya kejeniusan dan berbagai penemuan penting di berbagai dunia itu bagaikan sebuah misteri. Ini tidak semudah kamu bekerja dan mencari uang lalu kaya. Semua orang normal, sehat dan mau bekerja keras bisa melakukannya. Tapi penemuan penting, seolah hanya milik sedikit orang yang di dalam dirinya adalah gabungan berbagai hal unik yang sebagian besar orang tak memilikinya.

Itulah sebabnya, bakat dan kejeniusan yang terlihat sejak kecil atau muda harus didampingi atau diberi dorongan secara maksimal agar bakat dan kejeniusan itu tidak pudar. Seandainya orang jenius itu gagal dalam dunia intelektual dan pencarian sainsnya. Dia bisa beralih profesi mencari uang dan hidup makmur. Tapi dia akan berakhir sebagai orang makmur lainnya. Masa terbaik yang harusnya dia bisa mengembangkan gagasan dan menemukan suatu hal penting telah lewat. Seandainya dia kaya dan sukses pun. Dia akan terus terbayangi dengan kegagalan itu dan berkata, "Seandainya saja waktu itu."

Kegagalan dalam ilmu pengetahuan itu bisa menyakitkan dan menghantui seumur hidup kami. Bahkan seandainya kami sukses secara finansial. Masa-masa keajaiban masa muda kami yang terlewatkan, rasanya, sungguh begitu sulit diterima.

Itulah sebabnya aku serin mengeluh. Apa yang bisa ditulis dalam waktu satu tahun? Seandainya aku bisa fokus menulis total, itu sangatlah banyak. Tapi dengan dibarengi mengurusi kejiwaan, fisik, otak dan uang. Menulis terasa menjadi berat. Kadang aku berpikir, seandainya ada orang baik yang mau mendanai gagasanku dalam satu tahun saja. Seandainya.

Seseorang macam kami bukan tidak bisa mencari uang. Kami sangat mampu. Apa susahnya cari uang dan jika itu adalah uang? Tapi kamu tidak bisa tenang, jika hari demi berlalu dan gagasan atau penelitian kami teronggok dan terabaikan. Hingga akhirnya kami seringkali merasa marah karena tak bisa melakukan apa-apa.

Berapa banyak para peneliti muda dari mulai para geolog, antropolog, fisikawan, matematikawan, dokter muda, psikolog, dan para penulis berbakat dan jenius yang terlantar karena terbentur dana dan tak adanya bantuan sama sekali. Hingga akhirnya mereka menyerah atau membiarkan saja penemuan-penemuan mereka. Menjadi terlantar. Terabaikan. Lalu berjalan gontai dalam dunia keseharian. Mengikuti rutinitas orang-orang.

Orang-orang yang tak pernah hidup dalam dunia kami tak akan mengerti arti ilmu pengetahuan yang kami tuju. Sebelum mereka benar-benar merasakannya. Mereka tak akan benar-benar mengerti.

Dan keinginan masa mudaku, terbentur alasan klasik yang sama. Tak mampu membiayai gagasan-gagasanku sendiri. Maka, mengharapkan sosok yang baik hati membantu, terasa tak mungkin. Jika memang ada, dia adalah penyelamatku. Jika tidak, aku harus mulai bersiap-siap bahwa aku tak akan pernah bisa membuat sebuah karya yang memuaskan.

Dan aku tak ingin hal itu terjadi.

PSIKOLOGI, PSIKOTERAPI, DAN MASALAH LAINNYACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang