MINIMALISME: HIDUP CUKUP

293 12 10
                                        

Membatasi diri untuk menumpuk barang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Membatasi diri untuk menumpuk barang. Tidak membeli hal-hal yang tak perlu dan tak dibutuhkan. Membuang segala benda yang sudah tak digunakan dan sebisa mungkin, hidup seminimal mungkin dari benda-benda yang jumlahnya begitu banyak kecuali yang benar-benar sangat diperlukan. Pada dasarnya, menjadi minimalis berarti merasa cukup dengan apa yang dimiliki dengan tidak menambah apa-apa yang percuma, dan tidak lagi membuat beban ruangan, kamar, atau hidup kita.

Sejauh ini, tanpa harus diperkenalkan dengan gerakan minimalisme, yang biasanya selalu diiringi dengan gaya hidup zero waste, aku sendiri sudah bertahun-tahun hidup dengan kata cukup terhadap benda-benda. Hanya saja, aku masih belum bisa sejauh apa yang dilakukan oleh Fumio Sasaki, dalam Goodbye, Things. Aku masih belum bisa menyingkirkan buku-buku yang aku miliki seperti yang dilakukan Fumio dalam apartemennya. Karena buku-buku telah menjadi jantung hidupku, rasanya masih sangat sulit untuk mengeluarkannya dari ruangan kecilku yang nyaris tak memiliki apa pun.

Di dalam ruangan kecilku, hanya ada buku-buku yang mengitariku. Saat aku berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Hanya buku-buku itulah yang mengisi dan memenuhi ruangan yang nyaris tak memiliki apa pun di dalamnya. Maka, jika seandainya kelak aku menyingkirkan semua buku-buku yang aku punya, menggantinya dengan buku-buku digital. Maka yang tersisa hanya ada kasur, bantal, satu buah kursi dan meja belajar. Hanya ada itu. Tak ada televisi, tak ada kipas angin, tak ada lampu belajar, tak ada kulkas, tak ada lemari untuk baju, tak ada benda-benda kosmetik atau perawatan kulit, dan juga tak ada berbagai peralatan yang percuma. Membeli apa yang hanya aku butuhkan. Dan memiliki dan menyimpan sejauh apa yang aku perlukan. Itulah sebabnya, jika aku sudah merasa cukup dengan satu buah bolpoin. Maka aku tak akan membelinya lagi. Jika aku sudah merasa puas dengan satu buah pensil. Aku juga tak akan membelinya lagi. Hanya saja, ternyata aku saat ini memiliki empat buah pensil, yang dua di antara di dalam kotak kecilku. Tiga pensil yang aku beli di Bandung itu hanya terpakai satu pensil saja dan yang dua lainnya, ternyata hanyalah pemborosan. Karena pensil yang aku miliki seringkali hilang, mencadangkan hingga sebanyak itu, ternyata juga bukan hal yang baik. Bagiku, empat pensil sudah terlampau sangat banyak. Lalu bagaimana dengan mereka yang tergila-gila membeli benda-benda, seperti alat tulis dan pernak-pernik sekolah? Dan tak pernah tahan untuk terus membeli pensil, bolpoin, penghapus, tas, penjepit kertas, pewarna kertas, kertas-kertas itu sendiri dengan segala warna, dan apa pun yang pada akhirnya memenuhi rak, laci, dan ruangan.

Jika keinginan untuk membeli benda-benda yang tak terpakai, tidak segera ditahan dan diakhiri. Maka ruangan kita hanya berisikan begitu banyaknya luar biasa benda yang percuma, tergeletak tak terjamah, dan nyaris tak tersentuh. Dari mulai pakaian, sepatu, sandal, kosmetik, hingga segala jenis barang elektronik. Dalam satu tahun, dua tahun, dan tiga tahun, kita nyaris tak sadar bahwa ruangan kita hampir seperti rumah itu sendiri. Atau sebuah museum dengan banyaknya benda yang hanya sekedar menjadi pajangan. Jika kita adalah seorang perantau. Ada saatnya kita pasti akan tersadar bahwa kita telah sangat keterlaluan menumpuk semua barang di kamar kita, sampai nyaris tak ada lagi ruang untuk bergerak dan merenung dalam kekosongan dari segala jenis label, merk, dan benda-benda yang mencolok mata, yang pada akhirnya seringkali mendorong kita untuk membeli lagi dan lagi.

Bagi banyak penganut minimalisme, menyingkirkan benda-benda yang tak dibutuhkan adalah semacam terapi dari rasa ingin, kepemilikan, dan nafsu terhadap benda-benda yang seringkali berujung pada egoisme, membanggakan diri, dan sikap pamer dan sok. Benda-benda seringkali digunakan sebagai pelengkap diri dan berguna untuk menutupi kerentanan hidup kita di dunia. Seolah-olah, dengan memiliki luar biasa banyak benda, dari yang mahal sampai yang edisi terbatas, kita merasa bagaikan 'ada' dan dikenal di dunia ini. Ketergantungan kita terhadap benda-benda untuk menguatkan jati diri kita, untuk membuat kita percaya diri, telah membuat kita selama ini merasa tidak yakin dan kurang menghargai diri kita sendiri. Kita pada akhirnya beranggapan, bahwa tanpa benda-benda itu, kita bukanlah manusia. Atau lebih tepatnya, kita bukanlah siapa-siapa. Maka dari itu, minimalisme mencoba untuk kembali ke dalam diri sendiri dan berkata cukup terhadap benda-benda yang berlebihan. Kita sudah cukup puas dengan yang sedikit dan membebaskan pikiran, hati, dan rasa ingin kita dari nafsu akan benda-benda yang membuat kita merasa cemas, kurang, iri, dan tak stabil.

Saat keinginan terhadap benda-benda yang tak perlu itu semakin redup dan tak lagi menjadi kehidupan sehari-hari kita. Maka untuk yang pertama kalinya, kita tak lagi banyak merasa iri, malu, kurang percaya diri, dan tak perlu cemas karena tak memiliki benda-benda yang kata orang sebagai gaul, up to date, trend hari ini, dan kekinian. Kita tak lagi dikejar oleh benda-benda itu. Hingga suatu ketika, kau sendiri akan heran dan kebingungan, untuk apa sebenarnya aku di mal dan pusat perbelanjaan?

Tradisi memamerkan kekayaan atau benda-benda sudah menjadi umum di setiap masyarakat di seluruh dunia. Terlebih di masyarakat sekitar kita, seolah menganggap tanpa benda-benda pelengkap diri yang serba mahal, orang-orang bagaikan meremehkan kita. Menganggap kita miskin dan hina. Itulah sebabnya kita keranjingan dengan jam tangan mahal, gadget mahal, tas mahal, sepatu mahal, pakaian mahal sampai pada celana dalam hingga mobil mahal. Padahal kita bisa menaiki sepeda atau berjalan kaki karena jarak rumah kita sangat dekat dengan sekolah, kampus, atau tempat kerja kita. Tapi karena ketidakpercayaan diri yang ekstrim terhadap diri kita sendiri yang tanpa apa-apa. Kita membutuhkan mobil agar kita dilihat dan dianggap. Lalu apa yang terjadi? Jalanan penuh dengan kemacetan dan kita akan merasa cemas dan kurang jika tiba-tiba mobil itu rusak atau tak lagi menjadi milik kita. Hal ini berlaku terhadap benda apa pun. Kegilaan kita terhadap benda-benda, juga seringkali berujung pada korupsi, saling menjatuhkan, dan menghalalkan segala cara untuk kaya dan dianggap sukses. Keinginan besar untuk memiliki benda-benda, bisa membuat kita saling membunuh dan merendahkan. Itu hanyalah contoh kecil saja, di mana kehidupan kita sudah sangat jauh dikendalikan oleh benda-benda yang seharusnya kitalah yang mengendalikannya.

Kegilaan dan konsumsi kita terhadap berbagai benda ini, yang tanpa kita sadari dan pikirkan secara dalam akhirnya menimbun dan menghasilkan luar biasa banyak sampah yang tidak hanya tak baik untuk lingkungan tapi juga berbahaya bagi kesehatan. Itulah sebabnya, kaum zero waste, ingin sebisa mungkin menghindari terlalu banyak mengonsumsi barang dan hal-hal yang berkaitan dengan menghasilkan sampah. Ini berarti juga membatasi diri untuk membeli dan memiliki benda-benda yang tak dibutuhkan. Pada akhirnya, seringkali minimalisme tak bisa dijauhkan dengan gaya hidup zero waste.

Diet terhadap benda-benda akhirnya menjadi gaya hidup bersamaan dengan kata cukup yang menjadi pola keseharian kita sebagai manusia. Walaupun begitu, bukan berarti kita berhenti berpikir, berkarir, dan mencari prestasi. Ini tidak seperti yang biasa banyak agama langit lakukan, yaitu menghindari dunia seutuhnya, sehingga yang terjadi adalah kemandegan dan dunia tanpa kebaruan. Para kaum minimalis dan zero waste adalah orang-orang modern yang sadar betul akan teknologi dan perkembangan dunia, yang seringkali terkait dengan gerakanan lingkungan hidup walau tak selalu begitu.

Dengan berkata cukup terhadap benda-benda kita ingin hidup kita lebih bermakna, puas, dan bahagia. Dengan menjadi minimalis, kita lebih percaya diri terhadap diri kita sendiri tanpa perlu merasa cemas dan takut. Tanpa banyaknya benda-benda di sekitar kita, hanya cukup untuk benda yang kita butuhkan, kita juga adalah seorang manusia yang cerdas, jenius, berwibawa, elegan, menarik, dan layak untuk dipikirkan dan dikagumi.

Sebagai manusia, diri kitalah yang seharusnya membentuk dan mendefinisikan diri kita. Bukan benda-benda yang kita miliki. Di mana kita masih sangat bergantung nyaris setiap harinya.

PSIKOLOGI, PSIKOTERAPI, DAN MASALAH LAINNYACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang