SENI YANG SEDIKIT MENYENANGKAN

291 9 0
                                        

Ini adalah seni yang cukup menyenangkan, awalnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Ini adalah seni yang cukup menyenangkan, awalnya. Persoalan hubungan seni, seniman, dan kurator, yang begitu timpang sebelah membuatku sangat tertarik. Ya, para seniman terlihat seolah telah menjual karya lukisannya seharga miliaran atau triliunan. Itu uang semuanya, untuk diri sendirikan? Tidak. Jika seniman sudah menandatangi kontrak. Seandainya kontrak hanya seratus juta kepada senimannya. Jika lukisannya terjual lima miliar. Maka sang seniman tetap hanya mendapatkan seratus juta saja. Ke mana sisanya? Ya, para kolektor, kolekdol, kurator, dan pasar.

Mas Kus mengibaratkan seniman tak ubahnya dengan petani yang meminjam lahan kepada tuan tanah. Cangkul dan ide atau kanvas milik sendiri. Tapi kekuasaan, galeri, jaringan, dan lalu lintas uang. Bukanlah dia yang memiliki. Inilah yang membuat seniman berada di posisi tak ubahnya buruh. Eksploitasi seniman yang tak banyak orang tahu.

Membahas Kapitalisme dan Anti-Kapitalisme dalam medan seni rupa, cukup menarik. Aku sangat nyaman di bagian ini. Karena segala hal nyaris ditentukan oleh pasar dan para seniman akhirnya ditentukan olehnya jika tak ingin tergusur.

Lalu bagaimana dengan relasi kuasa dalam posmodern? Kekuasaan ada dalam tiap individu. Tergantung dia menggunakannya. Itulah inti posmodernisme. Posmodernisme dan akhirnya Inul Daratista yang anehnya, dengan goyangannya mampu memengaruhi moral nasional. Begitu juga Munir. Kematian yang bisa menggerakkan orang-orang setelahnya. Begitu juga Marsinah.

Satu orang yang harusnya biasa dalam statistik tapi bisa memengaruhi banyak orang. Dan aku cukup menyukainya.

Dan bagaimana dengan Jogja, seni, dan dana istimewa? Ya, pemerintah seringkali kaku dalam melihat seni. Tapi, pada akhirnya, semuanya kembali ditentukan pasar. Walau banyak galeri milik swasta bisa membentuk kondisi seni rupa. Seperti halnya Cemeti.

Pembahasan mengenai seni wayang begitu lucu. Kenapa wanita di wayang kok berkembam? Oh, masyarakat Islam tidak boleh melihat dan memperlihatkan payudara. Sehingga bagian atas harus ditutupi. Tapi kok belum berjilbab? Nah, wayang berjilbab ini yang masih belum diterima.

Ini menyenangkan. Pembahasan akhirnya beralih ke perspektif modernisme, bagaimana Kapitalisme Swasta itu dan Kapitalisme Negara itu. Dan kembali ke Jogja, menyoal diskriminasi orang Tionghoa di kota ini.

Di Jogjakarta, orang Tionghoa didiskriminasi. Itu adalah pengetahuan umum.

Dan, dan, kembali ke laba, penumpukan uang, dan segalanya kembali ke uang. Negara, pengusaha, dan orang yang hidup dalam pasar, semuanya butuh banyak uang dan uang. Lalu seni, akhirnya jadi hiburan atau sekedar pariwisata uang. Ya semua akhirnya uang.

Negara dan kota membuat banyak acara seni akhirnya untuk uang.

Dan, mari berdagang krisis! Krisis pun bisa dijadikan uang kok! Inilah dunia. Bahkan krisis pembangunan bendara di Kulon Progo pun bisa dijadikan bisnis.

Dan perlawanan rakyat dari desa yang melawan investor yang dirayakan seperti Festival Katok Abang akhirnya dibajak pemerintah dan pengusaha. Perlawanan pun pada akhirnya dijadikan tempat untuk cari uang dan diredam suara memberontaknya. Ini tentang Watu Kodok. Dan Festival Jazz dikira sebagai hal yang berbeda dari sudut pandang orang desa. Mereka tidak tahu. Hanya memberi ijin. Dan oh, Jazz! Ternyata itu toh Jazz! Seperti inilah para pengusaha dan negara membodohi para rakyat agar mendapatkan uang. Kalau tidak ada yang miskin dan dibodohi, bagaimana pengusaha bisa kaya dan negara berjalan?

Yang penting uang. Itulah negara. Walau pasar bisa berubah dan sangat kreatif. Tapi ujung-ujungnya, uang hai uang.

Petani dieksploitasi sadar. Buruh dieksploitasi sadar. Tapi seniman, tidak sadar. Walau ada yang bilang sadar dan Mas Kus cukup lega saat yang bilang bahwa seniman telah sadar bahwa mereka dieksploitasi. Tentunya, bagiku sendiri, tak semua orang yang dieksploitasi itu sadar bahwa mereka dieksploitasi dan dimanfaatkan.

Lalu apa upaya alternatif agar para seniman tidak dieksploitasi secara berlebihan? Otonomi-lah yang aku sukai. Walau jika sudah menyangkut lembaga, festival, dan lainnya sangat begitu susah untuk independen.

Ya, bahkan seorang individu pun tak bisa bebas oleh apa pun. Tapi kita, manusia, masih bisa menentukan diri sendiri. Itulah sebabnya aku sangat dekat dengan para eksistensialis.

Pembahasan terakhir soal penipuan oleh negara dan pengusaha atas tanah masyarakat adat. Caranya memang kejam. Tapi itulah caranya untuk kaya dan mendapat uang. Dan menyoal sertifikasi seniman yang cukup menarik. Sertifikat seniman?

Mas Kus pun ngomong banyak soal antara kesenian dan residensi. Menjawab penanya yang mempertanyakan itu. Dan banyak residensi dan beasiswa memang diatur oleh pihak yang memberi residensi dan beasiswa itu. Tentunya, untuk jalur masuk ke sebuah negara, mempelajari, dan mungkin mengatur dan mengubah pikiran masyarakat dan negara itu.

Banyak orang tak tahu bahwa beasiswa itu artinya tunduk, menghamba, dan dicekoki agar bisa ikut sesuai dengan yang memberi beasiswa.

Aku hanya diam. Mendengarkan. Dan inilah periode tutup mulut. Aku hanya menatap bukuku sendiri. Dan sesekali melihat para anjing yang bertingkah aneh. Atau kipas angin yang berputar dengan suara yang tak lagi asing.

Suara adzan di luar sana menggema. Kami di sini masih meneruskan acara. Di Krack, atau di kalangan para seniman. Agama bukanlah sesuatu yang harus dipedulikan. Dan, tak semua orang adalah penganut Islam dan harus bergegas untuk mengikuti suara Tuhan itu.

Dan, aku pun mulai mengantuk. Tutup mulut kadang memang menyenangkan.

PSIKOLOGI, PSIKOTERAPI, DAN MASALAH LAINNYACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang