ANTI-EMPATI

1K 55 1
                                        

ANTI-EMPATI. Di mana kita sebagai manusia sudah tak lagi saling peduli dengan yang lainnya. Merasa tak berkepentingan. Tak ada perasaan bersalah. Tak lagi bersimpati terhadap orang yang menderita, kesusahan, dan sedang mengalami kesakitan atau bahkan kematian. Dan tak lagi tergugah dengan bencana yang dialami orang lain. Di sebuah dunia berbasis internet dan informasi atas penderitaan yang membludak, yang terus membanjir, kita menjadi semakin kebal. Atau paling tidak, perasaan kita hanya sampai pada sebatas kata-kata. Kita semakin lelah bertindak. Empati dan simpati yang berlebihan dari segala arah membuat kita sakit dan kepala ingin meledak. Maka cara terbaik untuk menghentikannya dengan menjadi acuh tak acuh.

Kita menjadi antipati. Anti-Empati. Cara hidup di dunia modern yang semakin populer dan sangat terang-terangan.

Dalam keadaan Anti-Empati, kita bisa merendahkan dan menghujat siapa pun tanpa perasaan bersalah. Dan bedakanlah dengan penghujatan atas dasar sains, karya seni, sastra, filsafat, wacana, atau perdebatan intelektual yang memang harus ada kritik dan kadang hujatan yang cukup keras untuk berkembang. Penghujatan dalam Anti-Empati adalah penghujatan yang tak perlu berpikir banyak untuk hal semacam itu. Lebih tepatnya hanya sekedar tak suka hal yang sepele atau membentengi diri sendiri dari kritik orang lain. Penghujatan, pengabaian, penolakan untuk membantu, dan ketidakpedulian yang ekstrim dalam lingkup sosial.

Anti-Empati adalah ketidakacuhan tingkat tinggi terhadap lingkungan dan manusia sekitar. Semua hanya bertumpu pada diri sendiri. Segala hal yang membuat dia susah dan tak menyenangkan, dia buang dengan cepatnya tanpa ada perasaan malu dan hati yang bergolak. Atau dia coba tutup-tutupi dengan mati-matian, membuat sekian benteng dan topeng moral agar dirinya selamat: mengelak dari tanggung jawab sosial dan moral yang sesungguhnya.

Pengabaian nyaris mutlak terhadap banyak penderitaan dan kesakitan orang lain diperlukan agar dirinya tak merasakan kerumitan hidup atau hal-hal yang dia anggap menyusahkan dan menguras tenaga baik hati maupun pikiran. Anti-Empati atau lebih tepatnya, sebanyak mungkin menghindari menolong dan membantu orang adalah cara terbaik untuk menghidupi diri agar bisa terfokus mencari kesenangan, kekayaan, kebahagiaan, atau kenyamanan hidup. Ini juga adalah cara terbaik agar tidak memikirkan nilai moral yang terkandung dalam kekayaannya bahwa setiap perolehan kekayaan yang ada selalu dan nyaris selalu merugikan orang lain.

Anti-Empati yang paling ekstrem adalah para psikopat dalam ranah psikiatri. Dan dalam ranah sosial, Anti-Empati terekstrem adalah kerumuman manusia dalam jubah agama, suku, budaya, masyarakat, negara, tentara, dan lain sebagainya, yang tak perlu bersusah payah memahami masalah dan alasan orang lain. Jika bertentangan dengannya, kerumunan itu bisa membunuh dan menghukum siapa saja yang berseberangan. Dan Anti-Empati ekstrem individual, adalah individu-individu yang hidupnya mengacuhkan banyak orang lain selama hidupnya. Di mana jeritan minta tolong ratusan hingga jutaan orang baginya nyaris tak berarti. Dia membentengi dirinya dengan tembok-tembok diri yang begitu kokoh agar tak tertembus rasa iba terhadap lingkungan sekitarnya. Banyak di antaranya adalah pembohong moral.

Pembohong moral, dalam Anti-Empati adalah perlindungan diri agar tak diserang masyarakat dan manusia lainnya dengan cara menutupi dirinya sendiri sesuai lingkungan yang menuntut berbagai nilai dan moral menurut masyarakat tersebut. Dia menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, kebenaran, dan lain sebagainya hanya sampai sebatas bibir atau agar tak dianggap orang sebagai anti-sosial dan tak berperasaan. Moralis pembohong, di mana nilai-nilai moral digunakan sebagai alat paling oportunistik untuk menjalani hidup. Merasa paling benar sendiri. Merasa paling baik. Tapi dalam praktek, dunia keseharian, dan dalam pikiran pun, semuanya tak mencerminkan itu.

Dalam kehidupannya sehari-hari dia sangat terang-terangan mengabaikan para pengemis, gelandangan, korban bencana, bahkan teman sendiri yang meminta bantuan. Tapi di mulut, dia berteriak-teriak tentang moral dan nilai-nilai agung. Inilah sikap Anti-Empati yang berbahaya dan merebak dengan luar biasa di era kita ini. Simpati tanpa praktek nyata. Empati tanpa tindak lanjut dan sekedar omong kosong. Merasa bersedih dengan orang sakit tapi tak membantunya sama sekali sampai orang itu mati.

Kita sedang berada di era besar Anti-Empati. Era, di mana internet, membuat segala jenis simpati dan empati terkorosi dengan begitu liarnya. Seolah-olah belas kasihan pada akhirnya menjadi semacam virus yang harus dijauhi dan diobati dengan cara membunuhnya.

Kita bisa melihat Anti-Empati nyaris sehari-hari dalam kehidupan kita. Oleh diri kita sendiri atau orang lain di sekitar kita, yang kita kenal, temui, atau orang asing yang tak sengaja lewat di kehidupan kita.

Kita terbiasa mengabaikan penderitaan sahabat kita, teman kita, orang tua kita, dan orang yang jauh dari lingkaran intim kita. Kita terbiasa dengan penderitaan orang lain. Mengabaikan jeritan minta tolong mereka. Dan kebal terhadap kematian banyak orang. Jika hal itu tidak berkaitan dengan diri kita, dengan luar biasa kita begitu mudah untuk mengabaikannya.

Ya. Kita begitu mudahnya mengabaikan segala macam penderitaan orang lain yang tak bersangkut paut dengan diri kita. Dan dari sinilah, Anti-Empati bermula dan semakin membesar. Sehingga kadang kita lupa, bahwa keseharian kita nyaris tak ubahnya dengan sekian banyak orang kejam dalam sejarah.

PSIKOLOGI, PSIKOTERAPI, DAN MASALAH LAINNYACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang