Kenyataannya tak sepadan dengan imajinasi. Fakta di lapangan, yang telah aku amati bertahun-tahun mengenai perempuan Indonesia kebanyakan, kebenarannya yang bisa aku simpulkan bahwa mereka begitu sangat membenci dan tak menyukai laki-laki yang disebut bad boy. Tapi anehnya, kenapa banyak perempuan remaja-muda begitu keranjingan menulis, membaca, menonton, dan membanyangkan para bad boy dengan sikap antusias yang nyaris bisa disebut layaknya ilusi atau bahkan delusi? Begitu banyaknya perempuan remaja-muda yang ingin sekali berpacaran, bercinta, dan menikah dengan bad boy yang tengah mereka bayangkan atau sedang digambarkan para penulis yang mereka baca. Bagiku sendiri, ini tidak hanya mengganggu. Tapi bener-benar nyaris sebagai penipuan atau utopia yang tak tahu malu. Oh, apakah aku mengambil pandangan terlalu keras? Hmm
Menyukai bad boy itu tidak mudah. Karena mereka pada dasarnya laki-laki yang dianggap bermasalah di lingkungannya atau sosok yang susah didekati, misterius, dan biasanya tak menyenangkan dengan berbagai alasan yang berbeda. Apakah para perempuan di Indonesia benar-benar menyukai dan menginginkan bad boy di dunia nyata? Aku akan langsung jujur mengatakannya: tidak. Tentu saja tidak. Di dunia nyata, para pemuja bad boy yang pandai mengkhayal itu begitu sangat menghindari para laki-laki bermasalah, susah diatur, atau disebut berandalan. Jadi, untuk alasan apa para perempuan begitu antusias dan keranjingan mengkhayalkan bad boy?
Ini sangat menarik jika dipikirkan secara psikologi. Di mana para perempuan lebih suka mengkhayal dari pada menoleh kenyataan. Dalam artian khayalan yang begitu sangat egois. Mereka sangat menginginkan khayalan itu terjadi di dunia nyata sesuai dengan gambaran dan harapan mereka mengenai bad boy ideal yang mereka temui secara romantis. Jika yang ada di dunia nyata sangatlah tidak dan kurang sesuai. Mereka akan menolaknya.
Membayangkan bad boy di kepalamu itu memang menyenangkan. Tapi saat melihat dan dekat dengan mereka di dunia nyata, seringkali benar-benar sangat tak menyenangkan. Pada akhirnya, bukan menerima dan mencoba mendekati bad boy itu. Para pemuja bad boy dunia khayalan itu malah lebih sering memaki, risih, jijik, dan begitu sangat alergi dengan para bad boy yang sesungguhnya.
Mayoritas besar bad boy yang dikhayalkan para remaja-muda adalah bad boy yang pintar, jenius, kaya raya, tampan, bertubuh atletis, pada akhirnya romantis, dan ini yang paling penting, yaitu kepuasaan menaklukkan laki-laki yang susah diatur dan liar. Para perempuan ini sangat pandai mengkhayal, karena menaklukan laki-laki semacam itu sangatlah tak mudah, menguras banyak waktu, dan kamu juga harus lebih dulu ikut terjerumus dulu ke dunia mereka. Yang jelas, itu nyaris tak ada menyenangkannya dan benar-benar jarang dilakukan di dunia nyata. Untuk apa capek-capek mengikuti bad boy yang kita suka, yang susah dikendalikan, dan mungkin sulit mencintai itu, padahal kamu sendiri harus sibuk les, sekolah, menyelesaikan pekerjaan rumah, dan banyak lainnya yang jumlahnya berlebih.
Dan kenyataanya yang menyedihkan bagi para pemuja bad boy versi khayalan di negara ini adalah jenis-jenis bad boy di dunia nyata yang ada lebih banyak diisi oleh para berandalan, pemabuk, pecandu narkoba, laki-laki putus sekolah, pengangguran yang mudah marah, siswa yang suka berkelahi dan tawuran, anak miskin yang susah diatur dan seenaknya sendiri, pencuri, pecandu rokok dan minuman keras, pemaksa, meanganggap diri sebagai raja yang kemauannya harus dituruti, mudah menggampar muka atau KDRT, orang tampan yang bodoh (jumlahnya di Indonesia sangat banyak), laki-laki kaya yang ideal disebut bad boy tapi tukang selingkuh dan punya pacar di mana-mana, dan para bad boy yang sama sekali tak menghormati orang tua dan tak bisa bersopan santun. Jika kita mau berpikir sejenak, apa kamu yakin mau salah satu dari mereka? Yang belum tentu mereka benar-benar berhati baik, setia, dan serius mencintai dirimu.
Laki-laki pintar dan jenius di Indonesia biasanya bukan tipe yang aneh-aneh dan lebih fokus ke nilai akademik dan karir. Dan sayangnya, jumlah tipe bad boy jenis ini nyaris super langka. Jadi, sesungguhnya percuma saja kalian membayangkannya. Sementara bad boy jenius dan pintar sangatlah jauh lebih langka lagi. Terlebih, para laki-laki jenius dan pintar lebih menyukai perempuan jenius dan pintar juga. Ah, tidakkah ini kenyataan yang sangat berat bagi perempuan pengkhayal bad boy? Dan yang tersisa dan mayoritas bad boy adalah yang berjenis bodoh dan tolol. Bad boy tipe umum di Indonesia.
Kenyataan lainnya yang mencemaskan dan jarang dipikirkan bagi para pemuja bad boy versi khayalan, adalah di mana mereka harus bersaing dengan ratusan ribu dan jutaan perempuan di sekitar mereka untuk mendapatkan bad boy ideal, padahal jumlah bad boy yang sangat ideal jumlahnya sangat tak seberapa. Dan karena dia adalah bad boy, halangan yang jauh lebih susah adalah keluarga dan orang tua. Duh,maafkan aku wahai pemuja bad boy versi khayalan di seluruh Indonesia. Aku umumkan, kita tidak sedang hidup di drama Korea atau komik Jepang. Kita tidak sedang di dunia yang para orang tua dengan seenaknya menginjinkan para anak perempuannya dibawa kabur laki-laki tiap malam. Langsung memperbolehkan untuk menginap dan tidur bareng di rumahmu. Dan dengan mudahnya merestuimu. Pada kenyataannya, para orang tua jauh lebih parah dalam membenci bad boy dan menjulukinya sebagai berandalan dan laki-laki tak bertangung jawab. Orang tuamu jelas akan lebih bersikap menolak dan tak terima jika kamu berpacaran atau menikah dengan bad boy pilihanmu. Pilihan untuk berpacaran dengan bad boy di Indonesia sangat sulit dan berdarah-darah. Sedikit yang siap melaluinya dan benar-benar mau mempertahankannya.
Dan lagi, selain kemungkinan besar ditolak orang tuamu. Kamu pasti membayangkan bad boy yang kaya raya dan berkecukupan secara ekonomi bukan? Dan menolak bad boy yang miskin dan baru dalam keadaan susah secara ekonomi. Karena secinta apa pun kamu pada bad boy yang kamu cintai dan seingin apa pun kamu mengkhayalkannya. Pada kenyataannya di Indonesia, banyak perempuan pada akhirnya lebih memilih laki-laki yang berkecukupan secara ekonomi walau seringkali bukan idealnya. Banyak perempuan putus dengan kekasihnya karena alasan ekonomi, dan gagal menikah karena alasan ini. Para orang tua pun tak menyukai laki-laki miskin mau sejenius apa pun dia. Jadi khayalan tentang bad boy pada dasarnya haruslah bad boy yang bercukupan dan kaya. Di luar itu ditolak. Ya, ditolak. Imajinasi memang tak sejalan dengan dunia nyata. Begitulah.
Bad boy aktivis juga lebih banyak ditolak para orang tua. Lagian kamu toh, tipe perempuan yang tak terlalu suka aktiviskan? Padahal kalau mau dipikirkan, para aktivis adalah bad boy yang lebih dekat sebagai bad boy dari pada apa yang ada di khayalamu. Bad boy elegan yang sesungguhnya bukanlah bad boy.
Tentunya, agak menggelikan jika khayalan tentang bad boy sangatlah populer di kalangan perempuan di negara ini. Karena di Eropa dan Amerika atau Barat, bad boy itu lebih gila dan seringkali maniak seks, atau berganti-ganti pasangan dengan mudahnya. Para pembunuh, mantan napi, anggota gangster dan banyak orang bermasalah lainnya, adalah bad boy sesungguhnya. Tapi karena jelas banyak perempuan tak suka bad boy jenis itu. Maka mereka, beserta para penulis komik, novel, dan pembuat film, membuat bad boy yang lebih kalem dan tak berbahaya. Bad boy yang dijinakkan, yang sesuai selera dan agak nakal tapi elegan di mata perempuan.
Dan konyolnya, dia harus tampan dan atletis sesuai yang ada di khayalan. Dan juga harus kaya! Duh, tolong, berhentilah mengkhayal yang keterlaluan.
Oh ya, bagaimana dengan perempuan yang memuja bad boy khayalan tapi di dunia nyata, dia adalah perempuan yang rajin beribadah dan sangat percaya Tuhan, baik dia Muslimah, Kristen, Hindu, atau yang lainnya. Ini jauh lebih aneh, karena bad boy itu identik dengan tak peduli Tuhan, tak terlalu peduli agama, sesukanya sendiri dalam berkeyakinan, atau menganggap enteng iman dan semacamnya. Jika ada perempuan berjilbab yang sangat beriman dan seorang Katolik yang suka melakukan misa di Gereja sangat tergila-gila dengan bad boy dan sering mengkhayalkannya. Jujur, aku tak tahu, otak perempuan itu sekarang sedang miring ke mana. Aku tak tahu. Sungguh.
Yah, khayalan tentang bad boy jika diurai memang terasa miris dan jauh dari kesusaian dengan kenyataan sehari-hari. Walau di dalam kenyataan, beberapa perempuan bertemu dengan bad boy yang bagi mereka baik hati, setia, menyenangkan, dan cukup ideal. Aku akan bilang sekali lagi. Jumlah bad boy semacam itu tak banyak dan nyaris susah diketemukan.
Atau kamu mau bad boy tukang selingkuh, tampan, yang kaya raya? Yang sangat populer di negara ini dan sering nongol di lingkungan rumah kita dan di televisi? Jumlah bad boy jenis ini cukup banyak di Indonesia.Dia tak pintar-pintar amat atau biasa saja. Kelebihannya dia tampan dan kaya. Kelebihan lainnya tentunya pandai selingkuh di belakangmu.
Jika kalian yakin sebagai pecinta bad boy. Ambillah laki-laki jenis itu. Karena jenis yang lain, maaf, nyaris susah dicari. Atau saat kamu menemukannya. Biasanya orang tuamu bakal menentang habis-habisan. Dan seperti itulah kenyataan umum di Indonesia.
Ah, memang benar, imajinasi tak selalu sesuai dengan kenyataan. Dan para perempuan memang keterlaluan pintar untuk berkhayal jika menyoal ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
PSIKOLOGI, PSIKOTERAPI, DAN MASALAH LAINNYA
Non-FictionEsai-esai yang aku tulis ini, lebih berkaitan dengan dunia psikologi dan bagaimana kita keluar dari jeratan hidup yang menekan. Di sini kau akan menemukan bagaimana memilih psikiater atau psikolog sebelum memutuskan pergi ke klinik mereka. Bagaimana...
