pada akhirnya,
kita hanyalah kenangan tipis
seperti kabut pagi yang
terhapus sempurna
tatkala siang beranjak
KITA HANYALAH KENANGAN SINGKAT. Bagi orang yang kita cintai yang pernah dekat, atau berbagai macam kenalan kita di masa lalu, kini, atau yang akan datang. Dan setiap perpisahan, selalu ada keinginan untuk menghapus kenangan indah itu agar tidak terlalu terbayang dan tersakiti. Akankah kita harus menghapusnya?
Lalu apa jadinya jika kamu tahu, bahwa seseorang yang kau cintai, entah itu orang tua, sahabat, kekasih atau orang yang kamu cintai secara intim, benar-benar melupakanmu atau tak ingat lagi denganmu, sebentar lagi atau kelak.
Kau menemani dia, orang yang tertawa denganmu, berbagi cerita denganmu, membuatmu hidup, dan kau merasa ada saat bersamanya. Sosok penting yang tak bisa digantikan oleh apa pun. Seseorang yang membuatmu merasakan hal yang tak pernah kamu rasakan selama hidup. Menemukan sisi kosong dan hampa di dalam dirimu. Dan kau pun bagaikan kembali terisi.
Dan kau tahu, sebentar lagi dia akan melupakanmu. Keberadaanmu akan terhapus total di pikiran dan kenangannya. Apa yang akan kau lakukan?
Beberapa penyakit otak, gangguan jiwa berat, sampai pada terapi semacam hipnosis atau yang paling menyakitkan adalah kematian yang mendadak atau kematian yang kita tahu nyaris pasti. Apa yang akan kau lakukan, di saat orang yang kau sayangi dan cinta, berada di salah satu posisi semacam itu? Penyakit yang dalam proses penyembuhannya akan membuat dia amnesia atau kehilangan banyak kenangannya. Lalu kematian itu sendiri, adalah terhapusnya kita di dalam diri seseorang yang kita cintai itu. Menemani seseorang yang sebentar lagi akan mati, yang begitu kau cintai, yang akan menghilang darimu untuk selamanya. Menyisakanmu seorang diri dengan kenangan-kenangan akan dirinya.
Banyak dari kita mungkin tak siap. Tak mudah berpisah dan dilupakan oleh orang yang kita temukan atau menemukan kita yang di sepanjang hidup kita yang rentan, terus mencari sosok yang membuat kita nyaman, tenang, dan bahagia. Tapi sebentar lagi dia akan melupakan kita. Baik dia masih hidup atau mati.
Maka, kita harus bersiap untuk dilupakan. Merelakan diri terhapus. Dan selagi masih ada dan dia masih sadar serta mengingat kita. Tidakkah lebih baik kita mencintainya dengan lebih sungguh-sungguh? Menemani dia, membuat dia tertawa, dan berbahagia sebagai bukti bahwa kita benar-benar mencintainya. Dan agar kita tak menyesali bahwa kita tak bersikap baik terhadap seseorang yang bagi kita begitu penting itu.
Dengan mencintai dia dengan sungguh-sungguh, kita menghargai kenangan berharga dengannya. Kita menghargai persaan kita sendiri. Di sebuah dunia, di mana orang-orang tak lagi punya kebebasan untuk menghargai kenangan dan perasaannya sendiri.
Sedikit orang yang punya penghargaan dan rasa hormat terhadap sejarah hidupnya. Kenangan, perasaan cinta, sayang, kedekatan dan semacamnya. Begitu mudahnya kita menghapus orang-orang. Begitu mudahnya kita menindas perasaan kita sendiri karena berbagai macam alasan yang terpaksa kita lakukan atau ambil. Selama kita hidup, bahkan kebebasan untuk merasakan cinta, mencintai, atau menikmati perasaan cinta itu sendiri, seolah begitu jauh dari diri kita, manusia kebanyakan.
Seolah-olah kita ini hanyalah mesin berbentuk daging. Saat kebebasan untuk merasakan cinta dan mencintai seseorang terenggut dari seorang manusia. Apa bedanya kita dengan boneka atau mesin?
Maka dari itu, mencintai dengan tulus dan menemani seseorang yang kita cintai, entah dia akan melupakan kita atau dalam waktu dekat dia akan meninggal adalah bukti dari betapa pentingnya orang itu dan kenangan bersamanya. Itu juga berarti penghargaan terhadap perasaan kita sendiri. Seperti halnya seorang anak yang terus menunggui ibu atau ayahnya yang sebentar lagi meninggal karena sakit. Dia tahu orang yang dicintainya akan meninggal. Dia tahu. Tapi dia memilih bertahan dan melimpahkan seluruh cintanya sebelum dirinya terhapus sepenuhnya.
Ini tak jauh bedanya dengan orang yang kita cintai dalam artian pasangan atau lawan jenis. Atau salah satu dari keluarga dan sahabat.
Sangat tak mudah melihat orang yang kita cintai, yang kita sayangi, tiba-tiba melupakan kita, di mana kita tahu, dia masih hidup, bernapas, sehat, dan layaknya orang normal lainnya. Dia melupakan kita bukan karena dia ingin melupakan kita. Karena dia tak tahu bahwa dia telah melupakan kita. Dia tak tahu bahwa kita pernah ada dalam hidupnya. Dia tak tahu itu.
Jika itu adalah aku, walau jelas sangat sulit dan menyakitkan. Aku ingin mencintainya sampai akhir. Sebagai penghormatanku terhadap perasaanku sendiri. Sebagai manusia. Dan sebagai penghormatanku terhadapnya bahwa dia pernah dan akan selalu berarti dan penting walau akhirnya dia tak lagi mengingatku.
Mungkin terdengar mudah diucapkan. Padahal kenyataannya begitu berat. Tapi setidaknya kita mencoba.
KAMU SEDANG MEMBACA
PSIKOLOGI, PSIKOTERAPI, DAN MASALAH LAINNYA
NonfiksiEsai-esai yang aku tulis ini, lebih berkaitan dengan dunia psikologi dan bagaimana kita keluar dari jeratan hidup yang menekan. Di sini kau akan menemukan bagaimana memilih psikiater atau psikolog sebelum memutuskan pergi ke klinik mereka. Bagaimana...
