Ditinggalkan pergi seorang perempuan untuk kesekian kalinya. Motor rusak dan menambah beban pengeluaran. Tidur nyaris sepanjang hari. Kedinginan, sehingga malas meneruskan berada di luar setelah jam 12 malam. Mengunduh beberapa permainanan android. Melanjutkan membaca Michelangelo.
Kehilangan kepercayaan terhadap konsep kesetiaan, cinta, bahkan perempuan itu sendiri. Mungkin sebelum aku mati, aku harus menulis buku Membeli Perempuan. Dan aku ingin berdebat dengan para feminis yang tak jelas di negara ini. Penemuanku, bahwa perempuan memang lebih layak untuk dibeli dari pada dicintai. Atau biarkan saja mereka sampai perawan tua (perawan langka hari ini. konsep perawan tua harus dipertanyakan) atau biarkan saja nyaris hancur karena cinta hingga akhirnya ketakutan untuk menikah, menjalin hubungan, dan sampai umur lebih dari tiga puluh tahun tak berani lagi untuk mengambil sumpah kesetiaan atau konsep cinta platonik. Banyak dari perempuan modern, cantik, kaya, akhirnya hancur dan jadi babu seks. Yah, menjual diri sendiri untuk uang dan agar tak tertelan kesepian dan ketidakmenentuan hidup. Dan, jika generasi Milenial tak mau ribut dengan kesetiaan. Biarlah sebagian mereka berakhir menjadi pelacur. Dan para laki-laki dengan hanya bermodalkan uang, membeli mereka. Atau biarlah sekedar jadi ibu rumah tangga atau sampai mati mereka tersibukkan dengan hidup menjadi perempuan karir yang hampa dengan cinta, kasih sayang, dan perhatian.
Setelah bertahun-tahun sedikit meniliti dunia perempuan. Kesimpulanku jelas: Membeli Perempuan. Karena banyak perempuan hari ini tak mau menghargai cinta mereka dan dengan seenaknya pergi sesuka hati mereka tapi selalu mengeluh tersakiti. Bagiku ini omong kosong. Para perempuan harus belajar mempertahankan cintanya, rumah tangganya, dan dirinya sendiri. Sebelum mereka menuntut.
Para laki-laki memang brengsek. Tapi anehnya, banyak perempuan hari ini juga ikut-ikutan menjadi brengsek. Di hari ulang tahunku sekarang, aku menemukan titik terang, yang mana membuatku cukup puas. Tak perlulah mencintai seorang perempuan sungguh-sungguh. Cukup beli mereka dengan uang. Jadikan istri dengan uang. Jadikan selingkuhan dengan uang. Atau jadikan langganan seks dengan uang.
Gagasan ini mungkin akan membuat berang para feminis radikal dan orang awam. Tapi apa peduli. Kenyataan di lapangan banyak yang seperti itu. Tak perlu lagi menghargai perempuan yang tak bisa dihargai. Tak perlu lagi minta maaf kepada perempuan yang terbiasa menyakiti. Dan tak usah ribut dengan konsep kemanusiaan dan kasihan jika para perempuan nantinya diselingkuhi pacarnya masing-masing. Kecuali dia memang pacar yang baik dan setia.
Dan biarkan generasi rusak di masaku dengan penuh ketololan melahirkan anak dari dunia mereka yang rusak. Dan menanamkan kerusakan-kerusakan baru ke anak-anak mereka.
Orang tolol macam apa yang menginginkan anak kecuali dia ikut tolol seperti dirinya? Melahirkan anak di dunia yang hancur dalam hubungan sosial dan kesakitan jiwa ini? Tidakkah orang tua hari ini memang sangat kejam?
Baiklah tak masalah. Lagian, aku sudah tak lagi percaya dengan gagasan kebaikan apa pun. Tuhan. Cinta. Kasih sayang. Pertemanan. Keadilan. Kemanusiaan. Empati. Semua hanyalah omong kosong. Digunakan untuk sekedar berpura-pura hidup.
Oh, pada akhirnya, semua hanyalah transaksi untung dan rugi. Biarlah anak-anak lugu yang masih SMP-SMA yang dipenjarakan orang tuanya di rumah baru menyadari apa itu kehidupan setelah mereka kuliah. Usia remaja masih mempercayai Tuhan dan bla bla bla. Tunggulah sampai masuk kuliah hingga berumur tiga puluh tahun. Maka mayoritas besarnya .... yah, jawablah sendiri.
Sial, ini hari ulang tahunku. Sekali lagi tak ada yang istimewa. Tapi aku mendapatkan satu gagasan penting bukan? Tak apa. Setidaknya itu sudah cukup.
KAMU SEDANG MEMBACA
PSIKOLOGI, PSIKOTERAPI, DAN MASALAH LAINNYA
NonfiksiEsai-esai yang aku tulis ini, lebih berkaitan dengan dunia psikologi dan bagaimana kita keluar dari jeratan hidup yang menekan. Di sini kau akan menemukan bagaimana memilih psikiater atau psikolog sebelum memutuskan pergi ke klinik mereka. Bagaimana...
