BUKU DAN ANTI EMPATI

317 12 4
                                        

"Setelah mengurangi kematian dari kelaparan, penyakit dan kekerasan, kita sekarang ini bertujuan untuk mengatasi usia tua dan bahkan kematian itu sendiri

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Setelah mengurangi kematian dari kelaparan, penyakit dan kekerasan, kita sekarang ini bertujuan untuk mengatasi usia tua dan bahkan kematian itu sendiri. Setelah menyelamatkan orang-orang dari kesengsaraan yang sangat buruk, kita sekarang ini bertujuan untuk membuat mereka secara positif berbahagia. Dan setelah mengangkat kemanusiaan di atas perjuangan melangsungkan hidup layaknya binatang, kita sekarang ini bertujuan untuk mengupgrade manusia menjadi dewa, dan mengubah Homo Sapiens menjadi Homo Deus," tulis Yuval Noah Harari dalam bukunya Homo Deus. Sebuah buku yang melangkah lebih jauh dari Sapiens, dan membicarakan berbagai tantangan akan kemanusiaan dan manusia itu sendiri dan saat di mana manusia mengubah dirinya menjadi dewa atau Tuhan.

Buku Homo Deus sangatlah menarik, saat tiga tantangan umat manusia di masa lalu -kelaparan, wabah penyakit, dan perang semakin teratasi, apa yang sebaiknya hari ini kita lakukan? Harari menulis sebuah kemungkinan, "Manusia selalu memandang kepada sesuatu yang lebih baik, lebih besar, lebih bercita rasa. Ketika umat manusia memiliki kekuataan baru yang sangat besar, dan ketika ancaman kelaparan, wabah penyakit, dan perang akhirnya teratasi, apa yang akan kita lakukan dengan diri kita sendiri? Apa yang akan para ilmuwan, investor, bankir dan presiden sepanjang hari lakukan? Menulis puisi?"

Menulis puisi? Aku rasa tidak. Karena saat ini, bahkan jauh hari, kita sudah berada pada tahapan menjadi dewa dan kini, sedang berada pada tahapan ingin menjadi robot. Dan seandainya saja buku Homo Deus milik Harari mengubah fokus utamanya pada empati dan menganggap kelaparan, wabah penyakit, dan peperangan sebagai hilangnya perasaan empati terhadap manusia lainnya selain yang dilakukan oleh alam. Aku akan sangat yakin, buku Harari akan menjadi lebih bergaung dan luar biasa. Di mana, dia seharusnya mengganti kata 'Dewa' dengan 'Robot'. Tapi sayangnya, dia tidak melakukannya. Dia mengabaikan sendiri apa yang sudah diketahuinya, menjadikannya sekedar efek sampingan dari dunia manusia yang ditopang oleh ikatan sosial yang kita semua tahu, hampir walau bukan selalu dikendalikan oleh perasaan atau emosi. Karena bukan menjadi fokus perhatian utamanya, gaung dari apa yang ingin disampaikannya menjadi jauh lebih lemah.

Dia sudah dengan sangat sadar menuliskan bagaimana keterlambatan dan ketidakpedulian para dokter sedunia dan pihak WHO dalam menangani wabah Ebola di Afrika dan bagaimana saat dia menulis dengan sangat tepat apa yang lebih sering terjadi, "Orang-orang berdoa kepada Tuhan untuk keajaiban, tapi mereka sendiri tidak secara serius berusaha untuk membasmi kelaparan, wabah penyakit, dan perang." Sejujurnya, poin inilah yang seharusnya Harari bawa untuk keseluruhan bukunya. Poin yang jauh lebih menentukan apa itu kemanusiaan dewasa ini.

Tapi ada kalimat yang jauh lebih menarik dari bukunya bahwa "Hari ini sumber utama kekayaan adalah ilmu pengetahuan." Yang mana kita bisa menelusurinya dari Edward Said, Foucault, hingga ke Nietzsche dan banyak pemikir lainnya. Singkat kata, apa yang ingin aku tunjukkan adalah apa yang hari ini kita jauhi untuk mendiskusikannya karena pada dasarnya, ilmu pengetahuan melahirkan Anti-Empati.

Ya, ilmu pengetahuan melahirkan Anti-Empati jauh lebih banyak dari apa yang selama ini kita akui. Dan seperti yang kita tahu, ilmu pengetahuan itu sendiri tersebar luaskan oleh tulisan dan buku-buku.

PSIKOLOGI, PSIKOTERAPI, DAN MASALAH LAINNYACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang