Esai-esai yang aku tulis ini, lebih berkaitan dengan dunia psikologi dan bagaimana kita keluar dari jeratan hidup yang menekan. Di sini kau akan menemukan bagaimana memilih psikiater atau psikolog sebelum memutuskan pergi ke klinik mereka. Bagaimana...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku bukan ateis. Mungkin lebih tepatnya agnostik. Atau, seorang laki-laki yang tak menemukan jawaban pasti di antara teisme dan ateisme. Akhir-akhir ini, semua orang membicarakan Tuhan dan Tuhan. Dan aku sudah lelah dengan itu. Aku tak ingin lagi banyak mendengar Tuhan. Tuhan yang menciptakan kehidupan dan plot semesta dengan seenaknya sendiri. Apa aku membencinya seandainya Dia ada? Tidak. Aku hanya tak habis pikir, kenapa Dia masih bertahan untuk hidup dan tak segera bunuh diri lalu mengakhiri semuanya.
Akhir-akhir ini aku berjalan ke sana kemari. Ke pantai. Ke berbagai tempat. Ke banyak acara seni. Dan malam ini, aku berada di Bentara Budaya. Menikmati musik Koes Plusan, grup musik yang menyanyikan lagu-lagu bersama berbagai orang tua, yang banyak di antara seniman penting, esais, budayawan, sastrawan dan lainnya. Dan di sinilah hidupku sehari-hari. Di antara mereka. Menyembunyikan diri. Agak banyak menjaga jarak. Agar ruang bebas dalam diriku masih tersisa.
Dan aku ingin sekali terbebas akan pembicaraan tentang Tuhan. Yang membuatku nyaris gila jika terus-menerus menanggapi semua orang yang merasa dirinya benar dan menganggap Tuhan adalah sosok yang baik. Bagaimana Tuhan menjadi sosok yang benar-benar baik jika aku dilahirkan dan dihidupkan olehNya tanpa pernah ada diskusi lebih dulu? Lalu dunia arwah yang menakutkan itu bersama neraka tanpa akhir?
Aku manusia. Aku berpikir. Aku merasa. Aku sakit. Aku merasakan hampa. Dan itu sudah cukup untukku. Aku tak ingin lagi membicarakan Tuhan yang di lain sisi baik di lain sisi begitu kejam sempurna dan bahkan biadab. Berpikir semacam ini, membuat aku lelah. Dan aku ingin melupakannya. Walau itu hanya sebentar saja dan sepersekian detik. Terlalu banyak pembicaraan tentang Tuhan. Terlalu banyak. Di internet, di facebook, di instagram dan di banyak tempat. Bukan berarti aku membenci mereka. Aku hanya lelah dan kadang semakin bosan menjawab pertanyaan, tudingan, dan segala macamnya tanpa kedewasaan sama sekali. Dan acara kesenian malam ini, dengan lagu-lagu lama Koes Plus, entah kenapa sedikit membuatku tersenyum.
Banyak orang di sini. Tua-muda. Tapi para orang tualah yang lebih banyak terlihat. Ini sangat jauh berbeda dengan saat aku ada di Survive! Garage, yang lebih banyak anak muda yang memenuhi tempat dan ruang.
Di kota ini, setiap harinya, nyaris selalu ada acara seni. Itulah yang membuatku cukup betah. Walau dalam segi intelektualitas, Jogja adalah kota yang begitu membosankan bagiku.
Aku adalah filsuf. Orang harus tahu diriku yang pertama ini. Yang kedua adalah psikolog. Yang ketiga adalah bohemian atau nihilis. Dan yang lainnya, bisa menyebutku sedikit antropolog, sosiolog, traveler, pengamat burung amatir, esais, dan banyak lainnya. Sebelum berbicara tentang Tuhan, orang harus tahu posisiku lebih dulu. Aku akan sangat senang berbicara dengan seorang yang bertuhan asal dia mau terbuka dalam berpikir dan mau menerima banyak penjelasan dan kemungkinan. Tapi jika sudah tahap, di mana pembicaraan semakin bertahan dan tak mengenakkan untuknya, aku akan berhenti. Aku akan menyarankan untuk berhenti jika dia tak siap untuk itu. Karena aku tahu, pendalaman tentang Tuhan, begitu sangat berat dan menyakitkan dan itu nyaris membuatku hancur. Dan jelas, orang tak mau hancur dan kesakitan saat tengah melakukan pencarian akan Tuhan dan lainnya. Itulah sebabnya, aku lebih suka kalau dia menghentikannya sebelum aku menjejalinya dengan fakta-fakta dan kemungkinan-kemungkinan, yang semua itu sangatlah menyakitkan.