Seharusnya aku mengikuti pepatah Swedia untuk tidak mengungkap seluruh pikiranku demi ilmu pengetahuan. Demi perkembangan psikologi dan psikiatri masa depan. Karena aku hidup di Indonesia. Semua orang bisa dengan mentah-mentah menganggap semua yang aku tulis adalah diriku hari ini dan memang telah aku lakukan. Ya, itu tak apa-apa.
Dan aku tak pernah sampai sejauh ini memanfaatkan siapa pun dalam artian buruk dan culas. Terlebih terhadap seseorang yang aku cintai. Pagi ini, aku jadi teringat Soe Hok Gie.
Aku masih belum bisa menjadi orang jahat kecuali dalam dunia pemikiranku yang kadang penuh kemarahan. Ingin membalikkan semua hal. Seandainya nilai ini dibalik, akan jadi seperti apa? Ya, aku hanya sampai sejauh itu. Aku masih bisa mengekang bagian lain dari diriku sehingga tak menjadi kenyataan.
Pagi ini, seseorang yang aku cintai mengatakan padaku bahwa aku telah memanfaatkannya. Sambil menangis. Dia mengira aku telah memanfaatkannya seperti laki-laki yang lainnya. Apakah aku memang seperti itu? Ya, aku buruk. Tapi sampai sejauh ini, aku tak pernah bisa mempratekkan kemarahan-kemaranhanku terhadap dunia. Aku terlalu sensitif. Diajarkan sejak kecil menjadi orang baik. Akhirnya menjadi aktivis. Berpikir idealis. Bahkan tegangan itu sampai sekarang membuatku menjadi laki-laki yang nyaris tak tega melihat apa pun. Sehingga memenuhi kepalaku dan membuatku hancur.
Aku selalu melihat diriku pada sesosok Soe Hok Gie. Mengidolakannya. Menganggap dirinya adalah bagian dari diriku.
Keterusterangan Gie. Kujujuran Gie. Rasa cinta Gie terhadap kebenaran. Dan keinginan dia untuk mengungkapkan kebusukan manusia.
Membuat dia dibenci dan tak disukai siapa pun. Dia akhirnya ditolak. Dan itu berarti, dia bukan orang baik. Ya, Gie pada akhirnya orang jahat. Ditinggalkan semua perempuan yang dia cintai. Ditolak oleh semua keluarga perempuan yang dia cintai. Dan kesepian selama dia hidup dan akhirnya mengembuskan napas terakhirnya dalam keadaan yang sejujurnya tak menyenangkan.
Kami berdua memang bukan orang baik. Kami berdua memang buruk. Tak layak bagi siapa pun. Dan bukan idaman bagi keluarga mana pun.
Saat melihat Gie dan diriku sendiri, aku berpikir, bagaimana kalau kita sesekali memilih menjadi jahat? Ya, karena dunia tak menginginkan kita menjadi sosok yang baik. Tapi aku hanya sekedar bisa menuliskannya. Tak pernah bisa melakukannya.
Tapi antara pikiran dan kenyataan dalam diriku. Tak banyak orang yang bisa memahaminya. Apa yang aku lakukan di dunia keseharian dan apa yang aku pikirkan. Banyak orang mencampuradukkannya. Mungkin, aku terlalu banyak berbicara dan mengungkapkan diriku di negara bernama Indonesia. Dengan masyarakat yang masih baru belajar berpikir dan membaca.
Sejak awal aku memang salah.
Huhf, ah, pagi terasa aneh. Terasa dingin. Dia tidak salah. Aku tak menyalahkanya. Soal cinta, aku tulus. Seperti halnya saat aku mencintai orang-orang yang meninggalkanku di masa lalu. Aku tak terbiasa dengan pendaharaan kata "memanfaatkan". Aku tak terbiasa dengan kata itu.
Tapi aku terbiasa dengan kata dengan kalimat, "Aku tak layak untuk siapa pun." "Seharusnya aku tak dilahirkan." Atau "Aku bukan laki-laki yang pantas untuk dicintai karena aku begitu buruk."
Ya, aku memang laki-laki buruk. Seperti halnya Gie. Itulah sebabnya aku ingin mati muda seperti dirinya. Aku ingin mati sebelum umurku tiga puluh. Dengan begitu, dunia akan lebih tenang dan orang-orang tak akan tersakiti oleh keberadaanku.
"Seorang filsuf Yunani pernah menulis... nasih terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah berumur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda," tulis Gie, yang menjadi fondasi filsafat hidupku selama bertahun-tahun.
Berbahagialah mereka yang mati muda.
Pagi ini, setelah sekian lama mencoba tak lagi menengok Gie dalam hidupku ini karena terlalu begitu kuatnya dirinya tertanam pada diriku. Aku teringat lagi dirinya. Aku jadi ingin sekali membaca puisinya yang dulu selalu membuatku menangis dan berjalan lagi, meneruskan perjalananku, sambil mengingatkanku akan laut yang begitu luas. Tempat di mana aku ingin menghirup udara yang terakhir di sana.
Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah.
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza.
Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku.
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu.
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi.
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang.
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra.
Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku.
Setelah kita bosan hidup dan bertanya-tanya.
Tentang tujuan hidup yang tak satupun setan yang tahu.
Mari sini sayangku.
Kalian yang pernah mesra, yang pernah dekat dan simpati padaku.
Tegaklah ke langit yang luas atau awan yang mendung.
Kita tak pernah menanamkan apa-apa, kita tak 'kan pernah kehilangan apa-apa.
SOE HOK GIE
Selasa, 11 November 1969
KAMU SEDANG MEMBACA
PSIKOLOGI, PSIKOTERAPI, DAN MASALAH LAINNYA
NonfiksiEsai-esai yang aku tulis ini, lebih berkaitan dengan dunia psikologi dan bagaimana kita keluar dari jeratan hidup yang menekan. Di sini kau akan menemukan bagaimana memilih psikiater atau psikolog sebelum memutuskan pergi ke klinik mereka. Bagaimana...
