BUKU DAN TERAPI YANG GAGAL

374 23 6
                                        

Dunia ini terasa begitu melelahkan walau sudah sering aku coba untuk mempertahankannya dan berusaha sekuat mungkin untuk mengelak dari sedikit perasaan bosan dan perasaan akan keterasingan yang begitu ekstrim

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Dunia ini terasa begitu melelahkan walau sudah sering aku coba untuk mempertahankannya dan berusaha sekuat mungkin untuk mengelak dari sedikit perasaan bosan dan perasaan akan keterasingan yang begitu ekstrim. Berbagai terapi yang aku gunakan, kembangkan, dan temukan untuk diriku sendiri, membantu mempertahankan hidupku lebih lama tapi tak juga menghilangkan beban paling utama dari segala kehidupanku: untuk apa aku dilahirkan?

Saat dunia di sekitarku menjadi semakin buruk dan tak menyenangkan, aku tenggelam kembali ke dalam buku-buku. Membeli begitu banyak, menikmatinya, dan kembali sadar, buku-buku tak lagi menyelamatku dan terapi buku-buku kian hari semakin terasa menyakitkan untukku. Saat apa yang kau cintai tak mampu menyembuhkanmu maka tak ada apa pun di dunia ini yang akan mampu melakukannya.

Pada akhirnya, buku-buku sebagai terapi, hanyalah sekedar kepura-puraan. Aku berkata, "Baiklah. Aku tak sembuh dengan semua ini. Mari kita berpura-pura dalam cangkang bernama tubuh ini. Melanjutkan bernapas dan menganggap semua masih terkendali hanya untuk sekedar menipu diri sendiri bahwa tak ada lagi yang menyenangkan."

Mencari uang. Makan. Ke toilet. Membaca. Menonton film. Melakukan perjalanan. Tidur. Berdiskusi yang hanya itu-itu saja. Menulis. Mendengarkan musik. Ke berbagai acara kesenian. Menjalin hubungan. Dan segala hal yang tak ubahnya sekedar ulang-ulangan dari tahun ke tahun. Apa yang aku lakukan di dunia ini? Buat apa?

Uang tak membantuku sama sekali kecuali sekedar untuk mempertahankan hidup dari hari ke hari. Dan hubungan sosial hanya berujung pada segala yang dangkal dan penuh ketakutan di mata orang-orang yang aku lihat setiap harinya. Di sini, pertanyaan akan untuk apa hidup masih diteruskan terasa menggema berulang-ulang.

Aku tak memiliki agama dan melepaskannya bertahun-tahun yang lalu setelah kecewa dengan orang-orang bertuhan yang tak menyelamatkanku. Bahkan, aku berterus terang, berkali-kali ke kedua orangtuaku, aku ingin mati muda, di usia sebelum tiga puluh. Dan pada akhirnya, aku kembali ke buku-buku yang tak lagi menyenangkan sebagai terapi tapi aku mencoba masih melakukannya untuk hal yang terakhir: aku ingin menyelesaikan gagasan-gagasanku.

Aku tak ingin berpura-pura terhadap hidupku di dunia ini seperti kebanyakan orang yang mencemooh dan membenciku karena mereka takut untuk jujur terhadap diri sendiri. Aku selalu bilang, "Inilah aku. Rasa sakit dan kegelapanku. Apa kalian mau menyelamatkanku? Tidakkan? Baiklah. Biarkan aku sendiri yang mengurusnya. Seburuk apa pun kalian memandangku. Pada akhirnya, kalian tak melakukan apa-apa."

Saat tahun demi tahun berlalu, orang-orang datang dan pergi. Musim berganti dan waktu tak bisa lagi dimundurkan atau dibungkam dalam segala kepura-puraan. Aku masih berpikir, untuk alasan apa kedua orang tuaku melahirkanku, di mana aku tak pernah meminta untuk dilahirkan. Saat aku dalam keadaan marah meminta sebuah jawaban, seperti kebanyakan orangtua di dunia ini, mereka diam membisu. Karena anak, selalu dilahirkan atas alasan yang sepele. Terlalu sepele dan seenaknya sendiri.

Baiklah, aku masih memiliki buku-buku dan aku akan sedikit bersenang-senang dengan mereka selagi masih sempat, di mana isi kepalaku berkata, "Bersulang untuk kata-kata yang terakhir!"

PSIKOLOGI, PSIKOTERAPI, DAN MASALAH LAINNYACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang