GAMBARIMASU!

228 6 1
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


GAMBARIMASU! Itulah festival Jejepangan yang ternyata begitu ramai dan berisik. Sudah lama aku tak menyaksikan hal semacam ini setelah acara besar pameran komik di Jogja National Museum. Keramaian yang tak kusangka. Mereka yang tertarik dengan segala yang berbau Jepang ternyata sebanyak ini. Hanya saja, aku agak sedikit kecewa. Terlalu banyak stan makanan dari pada yang berkaitan dengan hobi dan semacamnya. Jika dibandingkan, aku lebih menyukai festival komik yang lalu.

Aku berkeliling sebentar. Jalanan terlampau penuh dengan anak muda. Orang-orang sibuk di kursinya. Berbincang. Memakan sesuatu. Dan aliran manusia begitu banyaknya melewati tubuhku.

Beberapa perempuan yang anggun dengan yukata dan kimono mereka. Atau para wibu yang berisik dan satu aliran kepercayaan yang bergerombol di dekat panggung.

Aku mampir ke stan Bujinkan Indonesia. Tempat para makhluk semacam ninja akan sangat menyukainya. Memegang beberapa samurai dan pedang kendo. Dan tertarik dengan sabit kayu yang mengingatkanku dengan Maka dan Soul dari Soul Eater.





GAMBARIMASU! Itulah festival Jejepangan yang ternyata begitu ramai dan berisik. Sudah lama aku tak menyaksikan hal semacam ini setelah acara besar pameran komik di Jogja National Museum. Keramaian yang tak kusangka. Mereka yang tertarik dengan segala yang berbau Jepang ternyata sebanyak ini. Hanya saja, aku agak sedikit kecewa. Terlalu banyak stan makanan dari pada yang berkaitan dengan hobi dan semacamnya. Jika dibandingkan, aku lebih menyukai festival komik yang lalu.

Aku berkeliling sebentar. Jalanan terlampau penuh dengan anak muda. Orang-orang sibuk di kursinya. Berbincang. Memakan sesuatu. Dan aliran manusia begitu banyaknya melewati tubuhku.

Beberapa perempuan yang anggun dengan yukata dan kimono mereka. Atau para wibu yang berisik dan satu aliran kepercayaan yang bergerombol di dekat panggung.

Aku mampir ke stan Bujinkan Indonesia. Tempat para makhluk semacam ninja akan sangat menyukainya. Memegang beberapa samurai dan pedang kendo. Dan tertarik dengan sabit kayu yang mengingatkanku dengan Maka dan Soul dari Soul Eater.




GAMBARIMASU! Itulah festival Jejepangan yang ternyata begitu ramai dan berisik. Sudah lama aku tak menyaksikan hal semacam ini setelah acara besar pameran komik di Jogja National Museum. Keramaian yang tak kusangka. Mereka yang tertarik dengan segala yang berbau Jepang ternyata sebanyak ini. Hanya saja, aku agak sedikit kecewa. Terlalu banyak stan makanan dari pada yang berkaitan dengan hobi dan semacamnya. Jika dibandingkan, aku lebih menyukai festival komik yang lalu.

Aku berkeliling sebentar. Jalanan terlampau penuh dengan anak muda. Orang-orang sibuk di kursinya. Berbincang. Memakan sesuatu. Dan aliran manusia begitu banyaknya melewati tubuhku.

Beberapa perempuan yang anggun dengan yukata dan kimono mereka. Atau para wibu yang berisik dan satu aliran kepercayaan yang bergerombol di dekat panggung.

Aku mampir ke stan Bujinkan Indonesia. Tempat para makhluk semacam ninja akan sangat menyukainya. Memegang beberapa samurai dan pedang kendo. Dan tertarik dengan sabit kayu yang mengingatkanku dengan Maka dan Soul dari Soul Eater.

Setelah cukup puas. Aku pun mendekati panggung dengan suara Yanagi Nagi, CorLeonis, di kedua telingaku. Aku sendiri sangat menyukai Jepang. Sejarahnya. Keunikannya yang modern. Gagasan-gagasan gilanya. Manga dan animenya. Musiknya. Ilmu pengetahuannya. Dan orang-orangnya yang lebih bersahaja dari pada orang China dan Korea yang selalu ingin tampil mewah. Kesederhanaan Jepang yang unik dan jenius, telah begitu memikatku.

Dan sekarang ini, aku berada di kerumunan orang-orang yang menyukai Jepang. Tapi walaupun begitu, rasanya ada sesuatu yang berjarak. Kita menyukai sesuatu yang sama tapi belum tentu kita ingin saling mengenal. Itulah mungkij yang aku rasakan saat ini. Sendirian. Memandangi ratusan atau ribuan orang yang ada di depan mataku.

Saat panggung menyala dengan para perempuan penari. Aku sedikit mengaruskan diri. Cukup mengalor. Sampai aku bosan dan lelah. Tak terlampau menarik. Isi tasku juga sangat berat. Sebuah buku milik Murasaki Shikibu, The Tale of Genji, membuatku begitu kelelahan. Aku pun menepi. Mencari tempat untuk melepas lelah..

Panggung utama konser nyaris bersebelahan dengan panggung kabuki. Sehingga dua suara keras saling bertubrukan. Membuat pendengaran begitu tak nyaman.

Aku pun memutuskan melihat kabuki yang cukup menyenangkan. Teater Jepang yang dilokalkan. Sangat menghibur.

Pada akhirnya, kurang dari dua jam aku pun langsung keluar setelah melihat sebentar pernak-pernik di dekat jalur keluar. Meninggalkan tempat ini setelah gagal bertemu dengan seseorang yang juga ada di tempat yang sama.

Dari sekian banyak hal di acara ini. Hanya Kabuki-lah yang cukup menghiburku. Entah. Mungkin aku dalam kondisi tak baik.

Aku berjalan keluar bersama suara lembut Yanagi Nagi yang masih menemaniku.

PSIKOLOGI, PSIKOTERAPI, DAN MASALAH LAINNYACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang