GO-SEND. GO-FOOD. BUDAK MODERN?

466 30 28
                                        

Seorang laki-laki membeli minuman di Indomart, dua botol kecil dengan harga enam ribu rupiah. Wajahnya kuyu. Lesu. Dan aku lihat sarung tangannya mengelupas, dan pakaiannya pun sudah kumal. Ya, jaket hijau hitam milik Go-Jek yang sudah bagaikan berpuluh tahun dikenakannya.

Aku sendiri hanya membeli satu buah mie rebus dan satu cemilan saja. Hanya saja, bapak berumur lima puluhan yang ada di sampingku, aku rasa tidak membeli minuman itu untuk dirinya sendiri. Lalu untuk siapa?

Para pembeli modern yang enggan melangkahkan kakinya. Dengan modal uang dan aplikasi baru yang mempopulerkan gaya hidup tuan dan pesuruh, mirip zaman feodal dahulu kala. Maka terciptakan suatu rantai kehidupan yang sejujurnya, dahulu kala hanya bisa dinikmati para raja dan orang kaya.

Uang. Kekuasaan uang untuk memerintahkan para pesuruh modern yang membutuhkan uang dan makan. Model canggih dari perbudakan yang seolah halus dan saling menguntungkan. Aku tak tahu, bagaimana setiap hari rasanya disuruh membeli ini dan itu, layaknya pesuruh yang harus mematuhi semua kata-kata atasan, pelanggan, dan keluhan. Tidak boleh banyak memprotes. Tuntutan pekerjaan, dan kepuasan pelanggan modern yang mirip raja zaman kuno, membuat bapak di sebelahku itu mungkin tak bisa menolak. Dia juga butuh uang. Dunia ini berkasta. Yang miskin harus melayani perintah orang kaya.

Memesan Go-Send. Go-Food. Dan segala jenis Go, yang sebagian sepele dan bisa dicari dan dibeli sendiri, bagaikan gaya hidup mereka yang memiliki uang. Tinggal klil klik klik, pesan, "Hai, orang miskin, kere, belikan aku ini itu dan bla-bla-bla." Walau tak terucap di mulut dan tak pernah bermaksud berpikir semacam itu. Tapi aku rasa, seperti itulah sebenarnya.

Go-Jek, Grab, dan yang berupa menarik orang lewat antar jemput manusia ke lokasi tertentu. Mungkin masih bisa sedikit diterima karena bermodel mirip transportasi umum. Walau sama saja. Dulu, sebelum zaman menjamurnya aplikasi, kita harus mencari tukang ojeng atau taksi. Jika kita memang membutuhkannya. Dan kita bisa tawar-menawar. Ada posisi yang agak sedikit setara di dalam dunia lama itu. Sekarang, kita tinggal menyuruh mereka datang ke tempat kita. Setiap hari. Membeli popok. Susu. Minuman. Makanan. Antar jemput. Dan hanya cemilan kecil lima ribu rupiah, harus menyuruh seseorang layaknya bos, tuan besar, atau orang yang benar-benar sudah pandai memerintah orang lain dengan sesuka hatinya.

Go-Jek dan Grab membuat kita memiliki buruh dan pesuruh setiap harinya. Asal kita punya uang. Sama halnya layanan pos dan jasa pengiriman barang. Mereka yang berada di posisi pengirim, sejujurnya adalah budak dan pesuruh. Kecuali dia sendiri bisa menolak pesanan yang masuk. Seperti para pedagang online yang bisa menerima, menolak, atau bahkan memarahi dengan keras para pelanggan atau pembeli. Posisi para driver Go-Jek dan Grab tak bisa semacam itu. Mereka nyaris budak dan pesuruh murni. Bisa dibilang babu modern. Babu orang-orang kaya yang memiliki uang.

Perbudakan di era internet yang disepakati bersama dengan cara yang cukup halus. Sampai sekarang, semenjak Go-Jek pertama kali aku nikmati di Jakarta. Aku hanya mengandalkan mereka sebatas transportasi antar jemput layaknya ojek atau taksi. Atau lebih tepatnya transportasi umum. Aku masih punya kaki, dan tubuh sehat untuk membeli makanan. Di sekitar pun masih banyak toko dan jika kondisiku parah, aku minta tolong teman.

Kesadaran aneh ini muncul mungkin karena pengaruh masa kecil dan masa kuliah. Walau aku bukan orang yang baik. Tapi kalau bisa aku melakukannya dengan tangan dan kakiku sendiri. Aku tak butuh pesuruh dengan alasan apa pun. Itulah sebabnya, entah aku sakit, habis kecelakaan, seminggu sampai sebulan demam tipus tanpa siapa pun di sampingku. Aku tetap mencuci pakaianku sendiri. Laundry? Aku menolaknya selama aku masih punya tubuh yang bisa aku gunakan.

Uang membuat aku bisa menyuruh siapa pun yang aku mau. Tapi logika uang pada akhirnya menjadi kekuasaan memerintah seenaknya. Uang membuat siapa pun seolah berada di atas dan bisa menyuruh siapa pun padahal dia sendiri tak sedang sibuk, tak berhalangan, dan bisa melakukannya sendiri. Aku menghindari cara berpikir semacam ini walau tak selalu bisa menghindarinya. Saat cara kekuasaan semacam ini dipopulerkan dan dianggap biasa. Maka sistem sosial berubah. Sistem tuan-budak. Sistem pembeli-pesuruh. Dan anak-anak kecil diajari dengan cepat cara menikmati kekuasaan yang menggiurkan ini.

Asal kamu punya uang. Kamu bisa menyuruh siapa pun layaknya budak sempurna yang harus mau tak mau, mematuhimu.  Ya, itulah makna kasar dari Go-Send, Go-Food dan semacamnya. Saat para orang kaya dengan seenaknya membeli hal remeh temeh dengan aplikasi sosial. Seolah-olah, kini, uang, internet, dan cukup apliksasi saja, sudah membuat siapa saja menjadi raja mini sempurna.

Aku punya uang. Kalian adalah pesuruhku. Babuku!

Ya, bapak itu terlihat tua dan letih. Jam dua belas malam, tanpa banyak bicara, wajah memelas, tak banyak mengeluh, membawa minuman seharga enam ribu rupiah ke pembeli manja yang entah siapa dan berada di mana. Aku melihat punggung bapak itu. Dan berkata dalam hati, "Selamat jalan budak modern. Pesuruh abad ini. Babu yang kita semua sepakati."

PSIKOLOGI, PSIKOTERAPI, DAN MASALAH LAINNYACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang