Esai-esai yang aku tulis ini, lebih berkaitan dengan dunia psikologi dan bagaimana kita keluar dari jeratan hidup yang menekan. Di sini kau akan menemukan bagaimana memilih psikiater atau psikolog sebelum memutuskan pergi ke klinik mereka. Bagaimana...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ada suatu peristiwa yang sangat membekas di kepalaku mengenai episode jatuh seorang remaja sekolah dari sepeda motornya. Laki-laki itu tak mengalami luka sama sekali karena sepeda motor yang dikendarainya hanya sekedar terpeleset pelan. Tapi ada momen yang sangat menyentak, di mana anak muda itu pertama-tama mengejar hanphonenya yang terpelanting dari sakunya. Setelah itu, baru kemudian dia mengurusi sepeda motornya. Yang terakhir, dia baru melihat ke diri sendiri. Bagi anak muda itu, keberadaan dirinya adalah nomor tiga di mana hanphone berada di peringkat pertama dan sepeda motor berada di posisi kedua. Kejadian ini sangat membuatku sadar bahwa empati terhadap diri sendiri pun semakin pudar, di mana benda-benda yang kita miliki jauh lebih penting dan berarti dari pada nyawa manusia itu sendiri.
Anak muda itu adalah contoh kecil dari semakin banyaknya kasus di mana barang atau benda-benda di sekitar kita, yang banyak di antaranya adalah mesin, menempati posisi paling intim dari psikologi keseharian kita. Di samping itu, saat hubungan sosial mulai digantikan oleh benda-benda yang tak memiliki perasaaan. Empati kita pun perlahan-lahan mulai berpindah dari makhluk hidup ke benda-benda mati.
Perpindahan emosi, keintiman dan empati ini sayangnya tak memiliki landasan yang begitu kuat dalam hal pemikiran, filosofis hidup, atau pengalaman akan dunia kebendaan yang lebih dalam. Ini tidak seperti para Taois, ahli Zen, Buddhis, Pantheis, penganut gerakan lingkungan seperti ekosentrisme atau para pelaku gaya hidup berkelanjutan seperti kaum Minimalis dan Zero Waste yang sadar diri akan sejarah filosofis dan gerakan lingkungan hidup. Ini jauh lebih dangkal dan jauh berkesan sangat egois. Di mana banyak dari kita menarik diri dari lingkungan sosial setelah menganggap yang lainnya, manusia atau berbagai makhluk hidup tak penting dan tak layak untuk dipikirkan.
Perpindahan dari empati terhadap makhluk hidup ke benda-benda personal diawali oleh perjuangan kaum bobo atau borjuis bohemian yang gagal dalam menjadi pribadi yang lebih dalam dan akhirnya berhenti di tengah-tengah. Mereka bergerak di antara perubahan teknologi, gagasan, tapi juga menyandarkan diri pada staus quo. Banyak dari mereka adalah bekas kaum bohemian, hippies, Marxis, penganut Tao atau Zen, dan aktivis lingkungan yang gagal menerapkan idealisme mereka secara radikal dan akhirnya lebih menikmati menjadi pebisnis dan konglomerat. Untuk menutupi bayang-bayang kegagalan ini, di mana banyak yang terhantui sepanjang hidup mereka, sebuah dunia baru berbasis kepura-puraan mereka terapkan dalam diri sendiri. Banyak di antaranya masih menerapkan gaya hidup bohemian yang diperbaharui, sikap memberontak yang terbatas, dan berpikir dan bertindak lebih dekat dengan alam walau sejujurnya hal itu nyaris tak mungkin jika mengingat perusahaan-perusahaan dan rumah-rumah besar yang mereka miliki begitu menguras energi. Sisa-sisa kegagalan mereka pada akhirnya diteruskan para kaum Minimalis dan Zero waste, yang berharap, dengan meminimalisir pemakaian benda keseharian, mengurangi sampah dengan ketat, dan berusaha menjadi vegan, akan ada perubahan besar seperti para aktivis di masa lalu lakukan. Pada kenyataannya mereka masih hidup dalam dunia di mana benda-benda mendominasi hidup mereka dan sistem produksi barang-barang masih terus berlanjut tanpa peduli keberadan mereka atau tidak. Pada akhirnya, mereka nyaris tak bergerak ke mana-mana, sebab banyak dari kaum minimalis dan zero waste pada dasarnya sekedar lari dari hubungan sosial antar makluk hidup yang buruk dan mencoba menutupinya dengan mengurangi ketergantungan akan benda-benda di kamar mereka. Ini nyaris seperti yang ditulis oleh David Brooks, dalam buku luar biasanya, Bobos in Paradise, "Mungkin orang-orang yang tenggelam makin dalam ke dalam diri sendiri sebenarnya sedang berjalan menuju kehampaan."