Hubungan yang datang dan pergi. Seperti pertemanan yang mudah putus dan berlalu begitu saja. Begitu pula saat kita mengenal seseorang. Apa-apa yang hari ini pernah dekat. Besok mungkin akan berakhir.
Sedikit yang tersisa dari orang-orang yang kita kenal yang jumlahnya cukup banyak. Kecuali hanya beberapa orang saja, yang memiliki arti agak penting bagi kita.
Itu pun, banyak orang yang bagi kita penting dan pernah begitu sangat dekat. Sekarang sudah tak lagi ada. Atau hanya sekedar teman pada umumnya yang akhirnya menjaga jarak dan tak lagi peduli.
Banyak hubungan sosial kita nyaris semacam itu. Selama kita hidup, hanya sedikit yang mampu bertahan. Terlampau sedikit.
Kedekatan bisa berakhir menjadi hubungan serius pertemanan sampai tua atau pasangan hidup hingga mati. Tapi banyak juga yang berakhir dalam waktu yang begitu pendek. Jumlah kedekatan yang berakhir begitu cepat jika itu terjadi berulang-ulang membuat siapa pun kita, pasti merasa tak nyaman dan akhirnya memendam keraguan akan hubungan sosial dan diri kita sendiri.
Jika terus seperti itu, biasanya akan mengarah ke trauma dan ketakutan akan hubungan-hubungan baru yang mungkin terjalin. Dan biasanya, kita pada akhirnya lebih memilih mundur, berlindung ke dalam cangkang masing-masing.
Kedekatan yang berakhir secara berulang-ulang bisa membuat seseorang kelelahan dan akhirnya, banyak dari kita menolak orang-orang untuk masuk ke dunia kita. Kita ingin diam. Tak ada yang mengganggu. Tapi pada dasarnya, kita begitu sangat ingin ditemukan.
Tapi, sedikit trauma pada kedekatan yang pernah berakhir. Membuat kita menjadi pemilih dan cukup kejam dalam menyeleksi orang-orang.
Kita pun bagaikan menjadi egois, cuek, jutek, dan angkuh. Padahal kita hanya sekedar ingin melindungi diri kita dari rasa sakit dan harapan kosong yang baru.
Tak banyak orang tahu alasan kita bersikap semacam itu. Mereka hanya tahu bahwa kita angkuh, galak, sombong, menjaga jarak, sulit didekati, susah ditembus, luar biasa susah diajak bicara kecuali hanya orang-orang tertentu saja, dan begitu mudahnya tak menganggap penting yang lainnya.
Ya, pada akhirnya kedekatan menjadi jarak. Rasa sayang menjadi benci. Dan setiap hubungan sosial yang sekarang dan yang berpotensi baru, hampir selalu menyimpan kekecewaan.
Kedekatan yang sementara memang adalah keseharian kita. Kita melakukannya nyaris di usia hidup kita dan kita tak bermasalah untuk itu. Tapi ada kedekatan-kedekatan yang cukup rentan dan jika kedekatan-kedekatan itu berakhir. Kita menjadi sosok yang lebih sendu dan melankolis.
Kedekatan-kedekatan sementara selalu berakhir pada tiga arah. Kedekatan yang berakhir biasa dan tak mengganggu kejiwaan dan kehidupan kita. Kedekatan yang akhirnya menjadi sekedar teman atau hubungan yang agak longgar dan tak sedekat dahulu kala. Atau kedekatan yang berakhir buruk dan tak menyenangkan.
Intinya, kedekatan sementara adalah diri kita hari ini. Sosok-sosok yang kesusahan membangun hubungan-hubungan yang bertahan lama. Mungkin, pada dasarnya, kita sama-sama sakit. Mungkin itulah, setiap kedekatan berakhir lebih cepat dan membuat kita bertanya-tanya, sampai kapan ini akan terus berlanjut?
KAMU SEDANG MEMBACA
PSIKOLOGI, PSIKOTERAPI, DAN MASALAH LAINNYA
No FicciónEsai-esai yang aku tulis ini, lebih berkaitan dengan dunia psikologi dan bagaimana kita keluar dari jeratan hidup yang menekan. Di sini kau akan menemukan bagaimana memilih psikiater atau psikolog sebelum memutuskan pergi ke klinik mereka. Bagaimana...
