KUDUS: MENARA KUDUS

160 7 3
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Untuk apa seorang semacam aku, nihilis kurang ajar berada di Masjid Agung Sunan Kudus dan memandang agak senang dengan Menara Kudus yang lebih mirip candi dan berbau Hindu?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Untuk apa seorang semacam aku, nihilis kurang ajar berada di Masjid Agung Sunan Kudus dan memandang agak senang dengan Menara Kudus yang lebih mirip candi dan berbau Hindu?

Entahlah. Semenjak merapatkan diriku di sini, banyak sekali remaja laki-laki berkopiah dan berjilbab, semuanya pastilah beragama Islam, tengah sibuk dengan selfie, dan selfie. Masjid adalah selfie. Selfie adalah bagian dari masjid. Masjid selfie kewajiban muslimah-muslim taat di mana pun mereka berada. Hmm .. banyak sekali manusia beragama Islam yang tengah berbahagia dengan kameranya masing-masing. Dan saat aku masuk ke bagian dalam, hampir semua anak remaja memiliki handphone. Beragama tanpa handphone? Menjadi Islam tanpa handphone? Di masjid tanpa handphone? Di dalam tempat ibadah tanpa handphone? Ya, mungkin jutaan orang Islam yang membawa handphone di dunia sekarang ini tak lupa dengan Tuhannya. Dan nihilis semacam aku yang tersesat di sini, berharap anak-anak Islam yang melek handphone di depan mataku akan menggantikan generasi yang gagal membaca ribuan buku dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan kecepatan penuh.

Aku mengambil buku di dalam tasku. Meneguk sebentar botol air minumku. Dan memandangi orang tua selfie. Bapak-bapak selfie. Ibu-ibu selfie. Dan gerombolan para kakek nenek dan keluarga atau kawan-kawannya, selfie atau berfoto. Ya, ini adalah masjid kawasan selfie. Selfie adalah hukum baru masyarakat Islam modern, benarkah?

Puasa, ckrek. Sholat, ckrek. Ramadhan, ckrek, ckrek. Ke masjid, ckrek. Mati, ckrek? Ke surga, ckrek. Ke neraka, ckreeek?

Jika Muhammad masih hidup, apakah dia juga akan sangat suka selfie seperti para pengikutnya hari ini? Hmm, entahlah.

Udara begitu sejuk. Kemewahan sebuah masjid, berbeda dengan klenteng yang begitu dekat dengan masjid ini atau gereja yang sedikit agak jauh, adalah bahwa masjid adalah ruang terbuka tempat siapa pun boleh masuk ke dalamnya. Kecuali non-Muslim? Apakah aku jenis haram yang dilarang masuk? Yang jelas, sekarang aku di dalamnya. Menikmati keriuhan remaja putri yang berkerumun membentuk lingkaran, menundukan kepala masing-masing, berdoa kepada hanphonenya.

Berdoa kepada handphonenya, sejauh aku memandang puluhan atau ratusan orang di sekelilingku. Puja Tuhan Handphone. Puja Tuhan Handphone.

Rasa-rasanya seperti itu.

Oh Tuhan, tanpamu aku hidup. Tanpa handphone dan internet, Watsapp, Instagram, Facebook, dan Google, aku merana Tuhan. Bagaimana ini, bagaimana ini?

Kau menduakanku, wahai anak-anakku. Kalian lebih banyak memuja handphone kalian dari pada diriku. Baiklah. Pujalah ia. Tinggalkan aku di sini. Tinggalkan aku. Kalian lebih membutuhkan internet dari pada keberadaanku.

Hmmm... apakah aku sedang mengkhayal?

Aku menikmati sejenak suasana ini. Kencing dan membasahi muka. Mencelupkan kaki di aliran air di tempat masuk umat Islam bersuci. Merasakan kesejukan di sekiar bagian dalam ruang untuk sholat. Lalu memutuskan keluar. Menghindari para pemuja handphone di sekelilingku.

Suasananya begitu ramai. Jalanan tak terlalu padat tapi riuh dengan suara-suara. Lapak-lapak penjual dagangan kerajinan tangan terlihat mengular di sisi timur dan selatan. Aku, ya aku, lebih suka menjepret bukuku dari pada diriku sendiri.

Buku-bukuku lebih penting dari keberadaanku. Apakah buku di tangabnku yang aku bawa ke sana-kemari tidak cukup untuk menohok semua orang?

Ah, kesadaran semacam ini hanya utopia. Aku pun melangkah, menghidupkan motor dan bergegas pergi. Meninggalkan para pemuja Tuhan handphone dan para konsumen sejati, yang sangat berbahagia.

PSIKOLOGI, PSIKOTERAPI, DAN MASALAH LAINNYACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang