Aku hanya mampu tidur setengah jam saja. Setelah itu, gagal kembali terpejam. Pada akhirnya membeli gas. Beberapa gorengan untuk membuka pagi dan sedikit mengisi perut. Setelah itu memasak. Seperti biasanya.
Rasa lelah akibat menyunting naskah puisi setebal hampir dua ratus halaman, membuatku ingin benar-benar menikmati kasur. Tapi mata tak mampu terpejam. Apa boleh buat. Keadaan emosiku pun tak terlalu buruk. Walau masih banyak kekhawatiran mengenai banyak.
Aku pun memilih memasak.
Baru saja aku membuat tumis kangkung. Pak Kos datang membawa kertas putih di tangannya. Aku hanya sedikit kaget. Untuk apa? Dia sudah tahu diriku. Buat apa lagi hal semacam itu?
Pendataan. Ujian. Tes. Kantor. Ruang kelas. Registrasi kartu. Membuat ktp. SIM. Adalah hal-hal yang tak terlalu aku sukai. Itulah sebabnya aku tak pernah ikut memilih Pemilu. Atau pun, saat pertama kali mencoblos di Pemilu tiga rangkap. Aku mencoblos semua orang yang ada di gambar.
Jika ada tiga puluh orang. Aku coblos semua. Sebagian di mata. Sebagian di hidung. Leher. Atau tepat di kepalanya. Ada juga yang aku coblos tiga kali yaitu di mata, mulut, dan hidung. Seperti itulah pertama kalinya aku mencoblos. Karena anggota dewan nyaris tak aku kenal, dengan kecepatan kilat tanganku mencoblos hampir lebih dari empat puluh orang. Kalau aku tak salah.
Bagiku, itu baru adil. Karena aku tak mengenal mereka semua.
Dan pagi ini, kata pendataan disodorkan di hadapanku. Pendataan teroris. Teroris masuk Jogja. Hah, baiklah, tak apa. Sejujurnya pemerintah tengah mendata nihilis yang bosan hidup. Jadi, tak apa. Lagian perutku sudah kenyang.
Sore nanti ada pemutaran film di Institut Francais Indonesia. Besoknya di gedung teater Taman Budaya. Lusa, bedah buku puisi di JBS. Sejujurnya, tanggal 10 ada tiga atau empat acara sekaligus. Teater. Pembukaan seni rupa. Dan beberapa lainnya. Aku tak tahu harus memilih mana. Yang sekarang aku pikirkan, masih pendataan teroris.
Tiba-tiba saja aku tertawa di kamarku yang lampunya aku matikan. Karena hidupku di malam hari. Beberapa teman menyebutku koala. Dan ini adalah koala nihilis. Teroris? Aku tak tertarik. Banyak teroris bodoh di negara ini. Itu saja sudah membuatku sebal.
Sudah hampir siang. Aku ingin tidur. Menjadi koala. Ya. Menjadi koala. Tidur. Tidur. Tidur.
KAMU SEDANG MEMBACA
PSIKOLOGI, PSIKOTERAPI, DAN MASALAH LAINNYA
Non-FictionEsai-esai yang aku tulis ini, lebih berkaitan dengan dunia psikologi dan bagaimana kita keluar dari jeratan hidup yang menekan. Di sini kau akan menemukan bagaimana memilih psikiater atau psikolog sebelum memutuskan pergi ke klinik mereka. Bagaimana...
