SENI DAN KETERASINGAN

181 9 0
                                        

Aku mendongak

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Aku mendongak. Menatap langit. Bulan begitu terang di sana. Bersama Mars yang terlihat merah. Dan pluto yang lebih seperti butiran di angkasa. Carl Sagan mungkin akan suka dengan langit malam ini. Begitu juga van Gogh. Hanya saja, perasaanku dalam kondisi tak baik.

Kecemasan yang mengepung.

Akhirnya aku memilih membaca The Writings of Savage Paul Gauguin. Menikmati kesendirian berlatar melodi-melodi Arab. Di suatu pameran fotografi dan video yang begitu sepi.

Para seniman Timur Tengah memang sangat tak populer bukan? Setelah spanduk dari Youssef Nabil diturunkan dikarenakan keluhan masyarakat. Yah, inilah Jogja.

Sehabis dari Krack. Aku menuju tempat yang beberapa kali aku datangi. Mengambil pesanan Gauguin. Lalu segera menuju Langgeng Art Foundation.

Perasaan tak nyamanku sewaktu di Krack masih tak hilang. Seni. Omong kosong. Tutup mulut. Entahlah. Aku bagaikan hanya orang asing di dalamnya. Itulah perasaanku saat ini.

Tutup mulut. Tutup mulut. Dan tutup mulut. Dunia dipenuhi dengan tutup mulut. Dengan begitu, seseorang akan selamat. Tapi aku benci dengan menutup mulutku. Terlebih di dalam seni.

Seni bagiku lebih dekat filsafat dan dunia yang penuh pertanyaan. Bagaimana aku bisa menutup mulutku?

Aku menuju ruang pameran untuk menikmati sejenak karya-karya dari seniman Arab. Beberapa karya cukup menarik. Hanya sayangnya, betapa melelahkannya merenungi satu demi satu karya yang terpajang di dinding dengan tubuh yang lemah sepertiku.

Aku akhirnya hanya sedikit menikmati.

Ruangan yang begitu sepi. Satu dua orang yang ada di dalamnya. Seorang perempuan muda yang juga hanya mampu bertahan sebentar saja. Dan aku pun keluar. Menaiki tangga. Menuju tempat orang-orang tengah duduk dan bersantai. Bertemu dengan kenalan dari Afghanistan. Menikmati hidangan makan malam. Membaca Gauguin.

Bulan bersinar terang. Sedangkan perasaanku dalam keadaan kacau. Apakah besok aku harus kembali tutup mulut? Menutup mulut? Menutup mulut dan menutup mulut?

Baiklah. Aku akan menutup mulut. Dan seni di sini, aku akan menganggapnya hanya sekedar hiburan semata. Ya. Hanya sekedar hiburan.

Dengan begitu. Orang-orang akan berhenti menatapku dengan perasaan sebal dan jijik. Atau, tak nyaman dengan keberadaanku di sekitar mereka.

Aku akan diam. Menutup mulut. Sekedar menikmati.

PSIKOLOGI, PSIKOTERAPI, DAN MASALAH LAINNYACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang