Pada kenyataan, sedikit pengusaha yang diingat dalam sejarah. Sekaya dan seberkuasa apa pun mereka. Sejatinya ini sangat menyedihkan. Dalam usia muda sampai senja mereka mungkin berkuasa atas banyak hal. Tapi kenyataan pahitnya, sedikit, dari miliaran pengusaha sukses yang diingat dan dikenang.
Seseorang pengusaha mungkin bisa diingat, dikenal publik, dan dianggap contoh pengusaha sukses oleh banyak media dan televisi atau lingkungan sekitarnya. Tapi, sejarah tetap sejarah. Di depan sejarah, miliaran pengusaha sukses dan konglomerat benar-benar suatu keberadaan yang tak penting. Sekali sukses dan terkenal. Itu pun bersifat sementara. Mereka langsung saja terhapus dari sejarah.
Inilah sebabnya, sejujurnya para pengusaha, mau sekaya dan seberkuasa aps pun mereka, sangatlah rentan. Bayangkanlah seorang saingan yang lebih mirip teroris atau kapitalis nihilis. Aku menyebutnya kapitalis destruktif. Yang mana, membunuh dan membakar atau menghancurkan satu keluarga penuh pengusaha bersama anak cucunya dalam keceriaan dan uji coba gagasan. Maka, pengusaha yang kekuasaannya hanya untuk sekedar hidup dan mempertahankan kekayaan dan perusahaan. Berada di posisi yang mudah terhapus dan lenyap. Masalahnya, para pengusaha, mayoritasnya bukanlah seorang intelektual. Sekali terhapus, mereka nyaris tak menyisakan apa pun.
Banyak pengusaha sangat mencintai kehidupan dan keluarganya. Sehingga posisi mereka sangat rentan dimanipulasi dan ditindas oleh pihak lawan. Dan anehnya, mayoritas pengusaha, terlebih di Indonesia takut Tuhan dan dilemparkan ke neraka. Ini jenis pengusaha yang keluarganya jauh lebih rentan lagi. Banyak pengusaha, sejahat apa pun mereka menjalankan usaha dan bisnis mereka. Toh akhirnya takut mati, takut keluarga disakiti, sangat cinta kehidupan atau takut neraka.
Maka, posisi para ekonom pemikir atau pengusaha intelektual sungguh cukup membahayakan bagi para pengusaha konvensional atau tradisional. Contoh yang paling mengagumkan bagiku, ekonom-filsuf adalah George Soros. Sementara kekuasaan ekonomi paling keparat ada di tangan Bill Gates saat dia masih menguasai Microsoft. Kekejaman Bill Gates sudah tak diragukan lagi.
Tapi, mereka masih dalam taraf perbatasan. Untuk saat ini aku tidak ingin membahas pengusaha dalam bisnis senjata atau maut. Aku akan membahas yang lebih normal dan wajar.
Mayoritas pengusaha di Indonesia, bisa dibilang, adalah pengusaha yang sangat rentan. Dan hal yang sangat tolol, mereka takut neraka, beragama, dan bertuhan. Jika hari ini aku memiliki kekuasaan yang cukup besar. Aku tinggal mengirim mereka ke neraka dan meratakan seluruh keluarga mereka tanpa peduli moralitas atau tuhan itu sendiri.
Para pengusaha takut anak mereka tersakiti. Kekalahan pertama. Takut diri mereka mati. Kekalahan kedua. Takut salah satu keluarga mereka diapa-apakan. Kekalahan ketiga. Takut perusahaannya hancur. Kekalahan keempat. Takut miskin. Kekalahan kelima. Takut kenyamanan hilang. Kekalahan keenam. Takut dipenjara. Kekalahan ketujuh. Dan banyak lainnya.
Sejujurnya, menghancurkan sebuah perusahaan atau bisnis seseorang, sangatlah mudah. Begitu mudahnya. Dari mulai menghancurkan pucuk pimpinan, keluarga, atau mencoreng citra baik mereka.
Jika kita adalah ekonom yang total adalah penjahat atau tak peduli antara jahat dan baik. Yah, seluruh perusahaan di dunia ini bisa sekali waktu habis atau terguncang. Masalahnya, perusahaan itu layaknya makhluk hidup. Satu pucuk pimpinan hilang bukan berarti perusahaan itu mati. Lalu bagaimana cara mematikan total perusahaan itu?
Inilah yang menjadi pemikiranku bertahun-tahun yang aku simpan rapat dan belum banyak aku tuliskan. Aku menamai gagasanku sebagai Kapitalisme Destruktif.
Para pengusaha, toh, akhirnya menua dan mati. Kesalahan terbesar mereka adalah tak memanfaatkan kekayaan mereka dan kekuasaan mereka untuk berpikir, berinovasi, atau mengembangkan sesuatu.
Jika kita adalah pengusaha saingan. Kita tinggal menunggu tokoh utama mati dan para penerus utamanya mati. Jika perusahaan itu tak memiliki penerus yang kuat. Hancurlah perusahaan itu atau tak akan menjadi sekuat yang dulu. Atau, jika kita memang seseorang yang bisa kejam atau orang baik yang dikejami oleh orang lain atau keluarga sendiri. Kita bisa menghancurkan keluarga kita sendiri atau orang lain jika kelak kita memiliki kekuasaan.
Para orang tua, pengusaha uzur itu, mungkin sangatlah berkuasa. Tapi mereka juga akan mati. Kita bisa menunggu mereka mati atau membantu mempercepat mereka mati. Ada banyak pilihan. Dan yang kita tahu, saat mereka mati, mereka akan jadi sosok yang tak penting. Kekuasaan mereka akan lenyap. Begitu juga seluruh usaha, nama, diri, dan kisah mereka.
Hal yang menarik dari gagasanku di seputar ekonomi adalah memadukan psikologi, filsafat, eksekusi lapangan, pemimpin kharismatik, dan kombinasi antara komunikasi dan militerisme atau kekerasan (baik verbal atau fisik). Dan yang jauh lebih menarik adalah sejak bertahun lamanya aku membayangkan memiliki sosok pendamping atau istri yang sangat kuat, dominan, tegas, hebat, dan menguasai benar perekonomian atau manajemen perusahaan. Dan dia adalah tipe eksekutor. Dialah yang akan mewujudkan dan mengeksekusi seluruh atau sebagian gagasan dan analisaku. Itu akan menjadi perpaduan yang luar biasa. Kekuranganku karena kejiwaanku yang rentan akan tertutupi olehnya.
Dan gagasan pertama soal perekonomian. Mari kita pertama-tama, menyingkirkan para orang tua. Tidakkah itu menarik?
KAMU SEDANG MEMBACA
PSIKOLOGI, PSIKOTERAPI, DAN MASALAH LAINNYA
Non-FictionEsai-esai yang aku tulis ini, lebih berkaitan dengan dunia psikologi dan bagaimana kita keluar dari jeratan hidup yang menekan. Di sini kau akan menemukan bagaimana memilih psikiater atau psikolog sebelum memutuskan pergi ke klinik mereka. Bagaimana...
