MENGAKHIRI LINGKARAN: MEMOTONG CEMAS

335 20 0
                                        

"Berbahagialah mereka yang mati muda," itulah yang malam ini terngiang di kepalaku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Berbahagialah mereka yang mati muda," itulah yang malam ini terngiang di kepalaku. Suatu ajakan yang kuat, saat kehidupan hanyalah sekedar lingkaran bagiku. Lingkaran yang harus aku putus dengan segera.

Kota ini masih terlihat hidup di malam hari. Anak-anak muda. Orang-orang berlalu lalang. Dan sebuah kehilangan yang kembali aku alami. Kehilangan? Aku tersenyum pada kisah hidupku yang aneh.

Malioboro terlihat begitu aneh sekaligus lembut. Aku mencoba tak memikirkan dia. Tapi itu sulit. Pada akhirnya, aku membaca bukuku, Turner, dan berharap, kelembutan yang aneh ini akan membawaku pada titik akhir.

Betapa mudahnya hubungan berakhir. Apakah benar berakhir? Atau sekedar pura-pura berakhir. Entahlah.

Mungkin kami memang masih anak-anak. Ya, mungkin.

Sudah lama aku tak membaca di malam hari seperti ini. Berjalan kaki di antara kerumunan. Merasakan seluruh keterasingan dalam diriku. Memandang kedua kaki saat melangkah dan berkata, "Sebentar lagi, semua akan berhenti."

Aku membaca Turner. Membaca. Dilihat oleh orang-orang. Memandang sekeliling. Baiklah. Inilah dunia itu.  Kesendirian tanpa putus. Tapi anehnya, kecemasanku mendadak lenyap. Memikirkan bahwa aku sebentar lagi tak ada. Membuat perasaanku begitu lembut. Perasaan semacam ini terasa sangat menyenangkan. Perasaan yang ingin aku masuki.

Dalam kematianlah, kecemasanku akan sepenuhnya berakhir.

Aku pun mengambil catatan kecilku. Mencorat-coret permukaannya. Lalu menulis, "Berhenti hidup. Mengakhiri Lingkaran."

Berhenti hidup. Betapa inginnya. Sebulan terakhir ini, aku tengah menghitung sisa usiaku. Bagaikan menghitung mundur apa yang masih tersisa. Aku tak ingin menambah lagi lingkaran umurku. Melakukan ulangan dan ulangan. Terus-menerus.

Malam ini kami bertengkar. Seperti biasa. Lalu, apakah nanti akan kembali seperti semula atau berakhir untuk seterusnya? Yang jelas, aku sudah tak lagi mampu bertahan. Aku sudah tak bisa menanggung kehilangan lagi. Dan aku ingin berhenti memikirkan segalanya. Bahkan diriku sendiri.

Seharusnya aku mati Agustus yang lalu. Karena pada akhirnya, semua hanyalah ulangan yang sama.

Aku bertanya pada diriku sendiri, apa yang masih bisa aku lakukan? Menulis untuk yang terakhir atau berjalan, entah ke mana, dan berharap, apa yang aku inginkan datang lebih cepat.

Sejak remaja, aku tahu, aku hanya sekedar ingin mati. Mengakhiri semuanya. Tak lebih.

Malioboro baru terlihat seperti Bandung. Anehnya, aku teringat dia. Sebuah pertemuan yang akhirnya gagal? Atau, entah. Hanya saja, sudah terlampau sering aku membayangkan dirinya berjalan denganku di sini. Menggandeng tangannya. Atau sekedar menatap kedua matanya. Mungkin itu akan menjadi kenangan yang indah. Tapi pada akhirnya, aku tak akan pernah bisa melihat dirinya. Rasanya, aku terlalu rapuh.

Sangat menyedihkan jika semua hanyalah khayalan. Hanya sebuah khayalan akan pertemuan. Rasanya, tiba-tiba saja ada yang sakit. Entah mengapa, aku jadi ingin menangis. Betapa lemahnya diriku.

Aku menatap sinar bulan yang ada di atas sana. Sendirian tanpa bintang-bintang. Seolah, aku bagaikan melihat keberadaanku sendiri.

Malam ini, aku ingin tahu, apakah cemas ini akan datang lagi? Aku rasa sebentar lagi. Kecemasan yang membuatku ingin memutuskan semuanya. Memutuskan seluruh kehidupanku.

Satu bulan terakhir ini aku berusaha memutuskan kecemasan yang hebat ini. Kemasan yang begitu mengerikan. Kecemasan yang akhirnya menyakiti orang-orang. Kecemasan yang hanya bisa aku bungkam saat aku jatuh tertidur.

Dan untuk mengakhiri kecemasan ini. Aku tahu. Aku harus berhenti hidup. Mungkin itulah alasan di balik aku sangat ingin bertemu dengannya. Diriku yang mungkin akan habis.

Ah, aku mulai menatap lagi sekitarku. Memandangi barang-barang yang berserakkan di sampingku. Memasukkannya. Dan berpikir, "Seandainya dia tahu. Aku benar-benar sangat membutuhkannya."

Aku berdiri dari tempat dudukku. Melangkahkan kaki. Dan berharap, seluruh diriku akan berakhir sebentar lagi. Aku benar-benar sudah tak lagi bisa menghadapinya.

PSIKOLOGI, PSIKOTERAPI, DAN MASALAH LAINNYACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang