KEBERADAAN KITA

430 21 2
                                        

Siapa diri kita? Itulah yang aku tanyakan pada diriku sendiri saat tengah menonton acara film di Teater Garasi dan menikmati kesenian dan musik di Survive! Garage, yang memperingati meninggalnya salah satu teman mereka, Afi, dan sedikit mengingat ...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Siapa diri kita? Itulah yang aku tanyakan pada diriku sendiri saat tengah menonton acara film di Teater Garasi dan menikmati kesenian dan musik di Survive! Garage, yang memperingati meninggalnya salah satu teman mereka, Afi, dan sedikit mengingat kecelakaan tragis awak Navicula.

Kematian? Siapa yang akan mengingat kita setelah tiba-tiba kita mati dalam usia muda dan begitu mendadak?

Beberapa hari yang lalu, saat aku ada di pembukaan novel Eko Triono, Para Penjahat dan Kesunyiannya Masing-masing, aku begitu keras dan cukup kejam saat berkomentar atas novel yang bagiku buruk itu. Novel yang tak akan membuat dia dikenal beberapa tahun lagi kecuali sekedar keberadaan yang hanya lewat sebentar.

Lalu, apa arti diriku di tengah kerumunan ini? Itulah yang selalu aku tanyakan dan tanyakan berulang-ulang, terus-menerus saat berbagai acara kesenian tengah berlangsung.

Siapakah dari semua orang ini, anak-anak muda, para seniman jalan, seniman grafis, seniman patung, seniman rupa, musisi, sampai mungkin sastrawan dan jurnalis yang bersembunyi, yang akan diingat cukup lama saat tiba-tiba bom berdaya ledak besar tiba-tiba meledak? Seandainya kami semua mati secara mendadak, apakah keberadaanku akan berhenti seketika itu juga? Hanya diingat sebentar lalu hilang selamanya.

Siapa di antara kami yang akan diingat dan dianggap penting? Saat berpikir seperti itu, dari ratusan seniman muda yang ada di Savage! Garage, hanya beberapa orang saja yang mungkin akan diingat. Selebihnya, hanyalah sosok-sosok yang berlalu begitu saja. Kematian yang hanya diingat sebentar lalu menguap tak bersisa.

Orang-orang semacam aku dan ratusan anak muda di sekelilingku, bisa bergaya, berpakaian, dan bersenang-senang sesuka hati dan hidup seolah cukup bebas, dengan gaya bohemian yang mencolok dan kesenian yang membuat kami begitu lentur dalam banyak hal. Tapi setelah kematian, setelah acara-acara senang-senang selesai, di manakah diri kami? Siapakah kita? Apa arti keberadaan kita bagi dunia setelah kita?

Aku telah melihat para sastrawan, penyair, seniman, musisi, dan artis yang meninggal setelah itu dilupakan begitu saja karena mereka terlampau biasa-biasa saja dan tak terlalu banyak diingat setelahnya. Apa jadinya dengan diriku, yang belum berkarya apa-apa?

Ya. Seandainya bom tiba-tiba meledak dan aku menjadi salah satu yang mati di antaranya, pasti, aku akan langsung terhapus dari muka bumi itu. Sesederhana itu.

Banyak orang yang cara berpakaiaanya sangat gaya, modis, tampan dan cantik, kaya, berkeliling ke seluruh dunia. Tapi beberapa banyak di antara mereka yang masih diingat? Siapa di antara kita yang masih mengingat tetangga kita, teman kita, saudara kita yang sudah mati? Apakah mereka penting atau begitu sangat tak penting sehingga dengan mudahnya kita abaikan begitu saja. Inilah kenyataan yang aku pikirkan, bahwa kita lebih mengagumi dan menganggap penting artis, penyanyi, dan penemu yang semuanya bukan keluarga dan teman kita. Bahkan orang tua kita sendiri mungkin setelah mati hanya sekedar sebagai ingatan kecil yang bakal pudar dengan cepatnya.

PSIKOLOGI, PSIKOTERAPI, DAN MASALAH LAINNYACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang