Kita berbohong kalau kejujuran tidak berhasil - Tim Levin
Kita semua pasti pernah membohongi orang tua kita dan bisa dibilang nyaris terlalu sering. Terlebih bagi yang hidupnya jauh dari keluarga, tinggal di kosan, apartemen, rumah kontrakan atau milik saudara. Berbohong dengan berbagai alasan adalah kegiatan yang nyaris sering karena tak ingin dimarahi, dicabut fasilitas hidupnya, demi bersenang-bersenang, karena pacar, dan banyak lainnya.
Apakah berbohong kepada orang tua adalah salah? Dan sikap yang seharusnya tak dilakukan?
Jika kamu adalah penganut agama yang taat, berbohong kepada orang tua memang tak dibenarkan. Secara moralistik, itu juga bermasalah. Jika orang terdekat saja nyaris terlampau sering dibohongi, jelas banyak kita akan menganggap enteng terhadap banyak hal lainnya. Tapi bagaimana jika secara psikologi dan klinis?
Berbohong, dalam artian berbohong yang tak terlalu banyak merugikan, biasanya berakibat baik asalkan tidak terbebani perasaan bersalah secara berlebihan dan berkepanjangan. Ini berbeda berbohong karena menipu keuangan dengan alasan membayar ini itu atau korupsi tingkat tinggi yang banyak dilakukan orang sehingga harus melakukan kebohongan. Berbohong yang kita bicarakan, kita lakukan hanya karena kita butuh pelepasan emosional, sedikit mengurangi tekanan jiwa, atau karena orang tua terlalu ketat dalam mengawasi kita padahal terkadang kita ingin hidup seperti anak-anak yang lain. Jalan-jalan, main entah ke mana, dan banyak lainnya. Dari pada kita gila karena bosan, hidup seperti dikurung, dan orang tua yang tak mau tahu, mulailah kita terbiasa membohongi orang tua berkaitan dengan keseharian hidup kita.
Lebih baik berbohong kecil dari pada meledak dalam kegilaan. Dalam tahap ini, aku masih sepakat dan memperbolehkan walau itu berarti masalah dan bisa sangat serius jika ternyata akan memengaruhi banyak keadaan mental kita dan berujung negatif pada akhirnya. Banyak orang sering menyalahkan diri sendiri karena membohongi orang tua sehingga hidupnya berada dalam bayang-bayang dan cara untuk menanganinya nanti akan juga menyusahkan. Tapi jika berbohong kecil tak terlalu soal, itu akan menyelamatkan kehidupanmu dengan sangat banyaknya.
Pada bulan Juni 2017, National Geographic Indonesia menurunkan sebuah judul yang benar-benar menyedot perhatian, Ada Dusta di Antara Kita. Di dalamnya terdapat artikel bagus dengan judul Mengapa Kita Berbohong, artikel dari Yudhijt Bhattacharjee yang mengatakan bahwa "sebagian orang orang sangat mahir berbohong dengan mudah, baik bohong kecil maupun besar, kepada orang asing, rekan kerja, teman, dan keluarga. Berbohong sama mendasarnya dengan kebutuhan kita mempercayai orang lain, yang ironisnya membuat kita tidak pandai mendeteksi dusta. Ketidakjujuran adalah bagian dari diri kita, jadi tidak keliru jika dikatakan bahwa itu manusiawi."
Jika dalam ranah filsafat, jika kesepakatan umum mengatakan berbohong adalah salah. Maka berbohong akan selalu menjadi kegiatan yang salah dengan alasan apa pun. Nyaris halnya dengan agama yang tidak memperbolehkan berbohong karena dinilai buruk oleh Tuhan dan moral agama. Tapi ranah klinis, psikologi, sangat berbeda dalam memandang kebohongan. Kebohongan dilakukan agar kita mudah bertahan hidup, terpuaskan, senang, tak memiliki banyak gangguan yang menyebalkan, dan banyak alasan lainnya. Bahkan hampir semua pejabat publik, akademisi, dan saintis juga sangat sering melakukan kebohongan. Begitu juga kebanyakan orang selama ini. Berbohong adalah bagian hidup kita sehari-hari.
Tapi beberapa kebohongan sangat bersifat merusak dan benar-benar dikecam masyarakat karena dinilai merugikan negara, identitas nasional atau adat, mencemari nilai luhur, atau memperburuk citra suatu lembaga yang dianggap membela kebenaran atau nilai-nilai yang dianggap semacam itu, terlebih dalam ranah intelektual.
Jadi, aku akan membicarakan ranah kebohongan yang dinilai lebih kecil dan tak terlalu bermasalah dalam ranah psikologi: berbohong kepada orang tua, kebohongan tak merugikan, untuk sedikit menikmati hidup dan terbebas dari beban ringan dan berat dalam hubungan sosial atau kejiwaan.
KAMU SEDANG MEMBACA
PSIKOLOGI, PSIKOTERAPI, DAN MASALAH LAINNYA
Non-FictionEsai-esai yang aku tulis ini, lebih berkaitan dengan dunia psikologi dan bagaimana kita keluar dari jeratan hidup yang menekan. Di sini kau akan menemukan bagaimana memilih psikiater atau psikolog sebelum memutuskan pergi ke klinik mereka. Bagaimana...
