Esai-esai yang aku tulis ini, lebih berkaitan dengan dunia psikologi dan bagaimana kita keluar dari jeratan hidup yang menekan. Di sini kau akan menemukan bagaimana memilih psikiater atau psikolog sebelum memutuskan pergi ke klinik mereka. Bagaimana...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Agustus akan menjadi bulan terakhirku di kota ini. Juga bulan di mana aku lahir dan memikirkan semua yang ada di belakang.
Pada 29 Juli kemarin, adalah hari di mana van Gogh meninggal. Begitu senangnya saat aku tahu dia meninggal di dekat bulan kelahiranku. Waktuku sendiri pun hampir habis.
Ah, akhirnya aku bisa diam dan menutup mulutku di berbagai macam ruang publik. Setelah terus-menerus bersuara sampai lelah dan disalahpahami. Tiba-tiba saatnya menuju periode akhir.
Gagasan-gagasan kasarku sudah terselesaikan. Aku juga sudah mencetaknya dengan tanganku sendiri sebagai pemberontakanku terhadap para sastrawan dan mungkin, penerbit yang menganggapku tak pernah layak mereka sebut. Kini, aku memikirkan, seandainya aku memiliki uang yang cukup. Aku akan langsung pergi dari negara ini. Dan mati di suatu tempat yang aku inginkan.
Beberapa waktu yang lalu aku ingin mati setelah novelku selesai dan diterbitkan. Atau saat aku mendapatkan residensi. Tapi kini, apa mereka mau menerima keberadaanku, sebaik apa pun aku menulis? Tidak. Sejak dulu aku sudah tahu, aku selalu diasingkan di semua tempat yang aku masuki.
Itulah sebabnya, saat kelak aku benar-benar diam dan tak lagi terlihat arogan, sombong, atau sok. Itu berarti masa-masa di mana aku sudah merasa benar-benar cukup dengan kehidupanku. Dan dunia yang ada di sekitarku.
Meninggalkan Jogja. Kota yang menghidupiku tapi juga begitu membuatku bosan. Lalu pergi entah ke mana.
Aku telah mempersiapkan diri membeli banyak buku bagus dalam bahasa Inggris dan mulai menjual hal-hal tak berguna yang harus aku singkirkan.
Dan bulan Agustus ini adalah bulan terakhirku. Aku ingin sedikit bersenang-senang dengan berbagai acara kesenian. Walau aku tahu, aku hanya sekedar berpura-pura.
Pada akhirnya, semua orang menolakku. Dan itu sudah cukup. Aku hanya ingin diam untuk yang terakhir kalinya.