Nyaris sebagian besar psikiater dan psikolog klinis, terlebih para tokoh utama dan pendiri di dalamnya, kebanyakan diisi oleh mereka yang tak percaya akan adanya Tuhan atau Ateis. Salah satu yang terkenal adalah Sigmund Freud. Pendiri psikoanalisis, yang murid kesayangannya, Carl Gustave Jung, yang cukup berlawanan arah, hanya sebatas pada keyakinan akan spiritualisme dan bukan Tuhan personal. Dan jika kita sampai membicarakan aliran Behaviorisme hingga Kognitivisme dan yang lainnya, Tuhan nyaris punah dalam ranah psikologi. Dan menyangkut psikologi evolusioner, Tuhan bukan penjelasan segala sesuatu dan tak memiliki tempat di dalamnya.
Psikologi modern berdiri di atas ateisme. Terkait erat dengan positivisme dan evolusionime. Dan jika ada banyak psikologi yang mengambil nama agama, seperti Psikologi Islam, Psikologi Kristen dan banyak lainnya. Sejujurnya, dalam ranah intelektualitas, itu sudah cukup fatal. Jika kamu orang yang cukup jujur terhadap diri sendiri, dan beragama sangat tradisional, aku akan sarankan, jauhilah dunia psikologi dan jangan mengambil dunia psikologi untuk agama. Karena ilmu psikologi bukan ranah yang harus diambil oleh orang-orang beragama yang lebih memilih iman dan Tuhan bukan manusia atau psikiater dan psikolog.
Adanya psikiater dan psikolog klinis dikarenakan posisi para ahli agama yang tergeser dan tak lagi bisa dipercaya dalam menjawab persoalan hidup dan kejiwaan manusia. Saat kamu sedang depresi atau menderita gangguan jiwa berat, jika kamu mengatakan sangat beriman, aku sarankan untuk pergi ke kiai atau pendeta. Jangan sesekali ke psikiater dan psikolog. Ini sama halnya jika kamu sakit larilah ke iman dan Tuhan. Jangan sesekali datang ke dokter. Inilah kejujuran intelelektualitas yang cukup brutal jika kamu masuk dalam ranah psikologi dan mendalaminya.
Psikologi sejujurnya adalah ilmu yang menghancurkan agama dan membunuh Tuhan. Keterusterangannya dalam psikoanalisis atau psikoterapi membuat semua ketidakjujuran terbongkar dan segala iman sekedar menjadi topeng. Jika kamu menginginkan psikologi berbasis agama dan iman, yang begitu banyak menjamur di dunia terlebih di Indonesia. Yang kamu dapatkan adalah penyembuhan berbasis kebohongan. Kenapa bisa begitu?
Psikiater dan psikolog yang terlalu bertuhan dan menitikberatkan hidupnya ke iman biasanya tak bisa jujur terhadap diri sendiri dan pasien-pasiennya. Dan ini alamat buruk bagi penyembuhan yang jauh lebih berat yang berbasis pada otak dan intelektualitas atau neurotik yang begitu dalam. Tapi jika penyembuhan hanya untuk membuat orang menjadi normal di masyarakat, terapi berbasis iman dengan para psikiater dan psikolog yang sangat beriman, benar-benar bisa memuaskan dan membantu untuk hidup lebih damai dan proses penyembuhan biasanya cukup cepat jika pasien memang memiliki kecintaan akan iman dan Tuhan begitu besarnya. Tapi semua itu biasanya nyaris berujung pada menipu diri sendiri dan dunia sekitar.
Di ranah psikologi, arti normal begitu banyak. Salah satu di antaranya adalah mengikuti dan selaras dengan arus masyarakat. Jika masyarakat dibentuk dengan sekumpulan para individu pembohong. Maka kamu harus jadi pembohong juga agar bisa diterima dan dianggap normal. Jika masyarakat diisi oleh para apatis yang tak peduli dengan apa pun. Kamu juga harus ikut jadi apatis agar bisa dinamakan normal. Jika masyarakat diisi para pembunuh dan maniak seks bebas. Maka kamu harus ikut menjadi semacam itu agar bisa disebut sebagai normal. Pada dasarnya psikologi dan terapi kebanyakan dalam ranah klinis hanya sebatas membuat orang yang diterapi menjadi damai dan nyaman menjadi orang normal kebanyakan. Itu berarti kamu harus menolak kebenaran terdalam dari dirimu sendiri dan seluruh yang kamu yakini. Itulah sebabnya, terapi yang benar-benar serius dan jujur, yang jarang diterapkan di negara ini, jika dilakukan akan benar-benar sangat menyakitkan. Pada akhirnya terapi di Indonesia sangat begitu terbatas dan terbentur pada norma sosial masyarakat dan agama. Semua demi hidup damai dan nyaman tanpa harus terganggu dengan penyelidikan secara mendalam terhadap diri sendiri. Topeng biar tetap menjadi topeng asalkan kita hidup bahagia.
Psikologi berbasis agama dan iman, pada dasarnya tak menyentuh kedalaman sama sekali. Hanya sekedar mengganti topeng satu ke topeng lainnya. Hidup menjadi memuaskan tapi semuanya dijalin di atas kebohongan yang tak mau dibongkar dan diusik. Itulah sebabnya, banyak orang cerdas dan genius biasanya tak akan mau datang ke psikiter dan psikolog yang lebih menganjurkan iman dan Tuhan dari pada bantuan sesungguhnya seperti kasih sayang, perhatian, dan membantu menelisik dunianya hari demi hari.
Dalam ranah psikologi, kamu tak cukup berkata iman adalah jawaban terhadap segala sesuatu. Karena manusia tak hanya membutuhkan iman di dalam hidupnya. Kita butuh uang. Butuh cinta sesama manusia. Butuh prestasi. Butuh segala jenis hal yang ada di dunia. Iman tidak bisa membeli bensin jika kita tidak bekerja. Dan pekerjaan yang benar-benar jujur dan sesuai iman dan agama di dunia modern ini nyaris tak mungkin. Dalam ranah psikologi, saat kamu jujur mengenai iman dan agama yang kamu yakini, kamu kemungkinan tak akan mampu bekerja di tempat mana pun. Semua pekerjaan mendadak menjadi haram dan semua uang adalah hasil dari menipu dan memeras orang lain. Status quo adalah contoh terkecilnya.
Psikologi adalah dunia yang sangat terkait. Sebuah alat untuk melihat kaitan antara satu hal ke hal lainnya. Itulah sebabnya, para psikiter dan psikolog yang cukup profesional biasanya seringkali enggan berurusan dengan para fanatik agama atau mereka yang terlalu dijerat oleh agama sejak kecil. Karena begitu susahnya meyakinkan orang-orang itu dan sangat melelahkan untuk sekedar meyakinkan akan beberapa hal yang benar dan nyata. Bahkan psikiater yang menangani Sybil, di mana salah satu kepribadian Sybil adalah sosok yang tradisional dalam beragama, benar-benar merasa pusing dan nyaris jengkel dibuatnya. Iman dan Tuhan, biasanya menghalangi proses analisis dan terapi yang lebih dalam. Seolah-olah iman dan Tuhan adalah benteng yang harus dipertahankan untuk terus hidup walau di dalamnya terlalu banyak kebohongan untuk tetap membuat dirinya ada.
Apakah agama dan Tuhan salah? Ini sulit dijawab. Hanya mereka yang beragamalah yang mampu menjawabnya. Tapi, di dunia modern ini, apakah ada orang beriman di dunia modern ini benar-benar meyakini dan melaksanakan agamanya dengan begitu ketat sesuai ketentuan? Kalau hal semacam ini, jawabannya cukup mudah. Jika kamu beragama cukup ketat dan lebih memilih iman dan Tuhan. Segala jenis kekayaan di dunia modern adalah haram. Kamu harus menjadi sufi dan asketis. Kamu harus menjauhi harta, nafsu duniawi, dan birahi. Terlebih gejolak birahi anak muda. Tidakkah sedikit yang mampu melakukannya? Itulah sebabnya, jika para psikiater dan psikolog yang tak beriman menyembunyikan banyak kebohongan untuk dirinya sendiri. Para psikiater dan psikolog yang beriman jauh lebih banyak menyembunyikan kebohongannya nyaris setiap hari.
Terapi berbasis iman bisa sangat ampuh untuk membuat hidup tenang seperti kebanyakan praktik-praktik agama selama ini. Tapi biasanya menjauhi proses mencari kebenaran dan kejujuran. Jujur dalam ranah bisnis dan pekerjaan, siapa yang mampu melakukannya setiap hari demi iman dan Tuhan? Dalam waktu satu bulan, kamu pasti akan gulung tikar. Apa kamu mau melakukannya?
Kesembuhan berbasis kebohongan sebenarnya terapi yang sangat populer di Indonesia dan begitu disukai oleh banyak klinisi di negara ini. Salah satu di antaranya adalah terapi yang didasarkan atas iman dan hukum sosial. Dan kejujuran dalam ranah psikologi, jarang sekali didapat jika kita sudah berurusan dengan masyarakat dan dunia sekitar. Lalu apa peran utama dunia psikologi dalam ranah terapi?
Dewasa ini, psikologi cenderung menjadi sekedar jiplakan dari hukum negara. Membuat orang menjadi normal dan bahagia. Bukan untuk menemukan diri yang terdalam dan mengakui segenap apa yang kita punyai.
KAMU SEDANG MEMBACA
PSIKOLOGI, PSIKOTERAPI, DAN MASALAH LAINNYA
No FicciónEsai-esai yang aku tulis ini, lebih berkaitan dengan dunia psikologi dan bagaimana kita keluar dari jeratan hidup yang menekan. Di sini kau akan menemukan bagaimana memilih psikiater atau psikolog sebelum memutuskan pergi ke klinik mereka. Bagaimana...
