12 TAHUN BIPOLAR

1.5K 80 25
                                        

Berjalan sendiri
Bertahun-tahun
Belajar untuk tabah dan bertahan

Segala kesabaran pun habis
Dan kegelapan mendatangi begitu cepat

Di sini, masih, menanggung hidup
Mungkin akan lebih baik,
segera kulepas

Kepalaku terasa ingin meledak
Tersungkur untuk yang keseribu kali
Pada akhirnya, untuk apa ini?

Ah, bertahun-tahun
Merasakan sepi
Rasa lelah yang tak terhitung

Di mana aku pada akhirnya?

Baiklah, selamat jalan kehidupan
Kemari wahai maut
Untukmu aku selalu menunggu
Kecup hangat bibirku
Cintai aku dari kehidupan yang tak mencintaiku

Dan, setiap langkah dan desah napas
Berakhirlah sudah
Tak lagi kembali

                              °°°

Bipolar dan 12 tahun bertahan darinya. Hingga akhirnya, hari-hari terakhir ini kepalaku begitu sakit dan pikiran-pikiranku melayang-melayang ke penyelesaian terakhir. Aku sudah nyaris tak tahan. Tapi entah kenapa, hatiku masih belum begitu mengijinkannya.

Aku dalam lubang yang begitu tak berdasar.

Apa ada racun yang tak terlalu membuat sakit dan di mana aku bisa mendapatkannya? Begitulah kepalaku sering berpikir setelah menyelesaikan novel Dokter dari Eric Segal. Aku tak tahu, apa yang akan dirasakan kekasihku saat aku mati lebih dulu sebelum impian dia menjadi seorang dokter terwujud? Tapi hari ini, aku sudah terlalu tak lagi memiliki kebanggaan akan kehidupanku sendiri. Tak cukup hanya diriku sendiri yang harus berjuang dengan bipolarku. Ya, rasa-rasanya, setiap harinya, penderitaan ini bagai tiada akhir.

Racun. Racun. Racun. Baru akhir-akhir ini aku benar-benar memikirkannya setelah aku merasa tak memiliki harapan dengan segala naskah yang aku tulis. Kehidupan adalah penyakit bagiku. Dan cara menyembuhkannya adalah dengan membunuhnya. Ya, membunuh kehidupanku sendiri.

Tapi kenyataannya tahun demi tahun berlalu semenjak aku benar-benar ingin mati saat masih di sekolah menengah atas. Usiaku terus berjalan. Sedangkan perasaan sepi dan rasa sakit yang tak tertahankan ini tak juga kunjung hilang dan malah terus bertambah kian membesar. Dunia tampak menjadi begitu penuh derita dan rasa hampa yang sangat menyesakkan.

Sebenarnya, di mana tempatku di dunia ini?

Dua tahun lagi. Ya, dua tahun lagi, semuanya akan selesai. Semoga bukan racun tapi kematian saat berada di alam liar. Itulah impianku sejak aku masih kecil. Dan masih impianku sampai saat ini.

Saat aku tahu bahwa aku tak lagi mampu tersembuhkan. Segala yang aku miliki dan pernah rasakan, hanyalah waktu yang sebentar lagi menjadi ingatan rapuh.








PSIKOLOGI, PSIKOTERAPI, DAN MASALAH LAINNYACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang