Banyak dari kita hidup dalam trauma berkepanjangan yang susah untuk dihilangkan dan menghantui kita sepanjang waktu. Trauma yang kita miliki akhirnya lebih sering ditemani oleh depresi, kecemasan, dan perasaan kecewa. Tak sedikit orang yang mengalami ketakutan yang sangat, sewaktu trauma itu muncul kembali di saat kita ingin berbenah dan melupakannya. Biasanya, dipicu oleh hal yang tak kita duga atau kejadian yang kembali membayangi diri kita akan kenangan masa lalu.
Trauma biasanya akan didampingi dengan depresi ringan atau berat. Dalam jangka pendek atau lama. Walaupun begitu, trauma terkadang mewujud menjadi sesuatu yang tak terlihat, seolah biasa saja, tak menjadi masalah tapi menyeruak seketika saat tiba-tiba ada kejadian yang mengingatkan kita tentang masa lalu yang buruk. Atau kita sendiri tiba-tiba ketakutan dan depresi saat mengalami sesuatu, yang ternyata berkaitan erat dengan masa lalu kita tapi kita tak pernah menyadarinya bahwa kita memiliki trauma di masa lalu. Trauma itu disimpan oleh bawah sadar kita, sehingga pikiran sadar kita merasa tak pernah memilikinya. Sehingga sedikit saja trauma itu terbuka, dunia menjadi tiba-tiba gelap.
Trauma bisa berujung ke banyak hal. Dari mulai depresi, panik, fobia, hingga gangguan mood dan kepribadian. Sisa-sisa trauma yang kita miliki, biasanya membuat kita menghindari apa-apa yang mengingatkan kita pada benda, peristiwa, makhluk hidup, kenangan, tempat, ruang, atau hubungan yang akan membuka jalan bagi trauma kita kembali datang. Trauma yang kita miliki bisa memengaruhi tingkat kebahagiaan kita, kemampuan kita berkomunikasi, menjalin hubungan sosial, bekerja, bersekolah, tak mudah lagi memberikan kepercayaan, atau rentan diliputi oleh perasaan curiga, ragu, dan cemas.
Jika trauma yang kita miliki tak lekas pergi, terus menghantui dan mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Kita benar-benar bisa terjatuh dalam depresi akut. Merasa ketakutan, sendirian, kesepian, dan tak bahagia. Terlebih saat tak ada seorang pun yang menguatkan. Trauma yang ditopang oleh depresi berkepanjangan bisa mengarahkan kita pada keinginan untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain. Membunuh orang-orang atau membunuh diri kita sendiri. Trauma bisa membuat kita lebih manusiawi atau lebih kejam dan membuat kita membenci manusia.
Trauma bisa membuat kita ingin membalas dendam karena dunia kita yang hancur dan terluka. Dan saat hidup kita dikendalikan oleh trauma, kita biasanya ingin melihat banyak orang mengalami apa yang pernah kita alami. Kita ingin orang-orang juga merasakan sisi traumatik dalam hidup kita.
Trauma bisa berbentuk banyak hal, dari mulai kekerasan rumah tangga, pelecehan seksual, ditipu sahabat atau kekasih, hancurnya hubungan percintaan, kegagalan rumah tangga, aborsi, perselingkuhan, pemecatan kerja, dianiyaya orang tua, dibully lingkungan sekitar, kecelakaan, ditinggal mati atau ditelantarkan orang yang disayangi, melihat hal yang mengerikan, merasa bersalah menyakiti orang lain dan gagal dalam bidang akademik atau pengejaran prestasi-karir.
Tapi, akhir-akhir ini, sekian banyak trauma yang dialami oleh manusia berada di seputar kisah percintaan.
Kenapa cinta menempati posisi paling subur dalam menghasilkan trauma?
Di dunia yang serba rentan dan penuh perasaan kesepian dan keterasingan. Mendapatkan sosok yang mengerti, memahami, mau menemani kita dengan sabar dan penuh perhatian tidaklah mudah. Karena tak semua orang cocok dan layak dengan keinginan kita.
Itulah sebabnya, saat kita sudah nyaman dan akhirnya merasakan cinta yang sangat, yang biasanya berujung pada ketergantungan limpahan perhatian dan kasih sayang. Mengetahui kisah kita berakhir tiba-tiba karena perselingkuhan, diputus tanpa sebab, atau ditolak oleh keluarga. Membuat banyak dari kita biasanya tidak siap dan histeris.
Kita tidak siap kehilangan seseorang yang membuat kita hidup dan bergantung. Kita tidak siap disakiti dan ditinggalkan oleh orang yang kita cintai. Kita tidak siap ditipu dan dikhianati oleh orang yang kita percayai, yang mana kita memberikan seluruh diri kita untuknya dan merasa yakin bahwa hubungan itu akan berjalan untuk selamanya. Yang jauh lebih penting, kita tidak siap jika tiba-tiba sendirian, kehilangan perhatian yang indah itu dan sentuhan yang menenangkan.
Kita takut semua itu hilang dan membuat kita benar-benar sendirian dan seolah dilempar ke ruang gelap yang kosong tanpa siapa-siapa.
Hari-hari yang tadinya diliputi dengan perasaan tenang dengan orang yang kita cinta, yang begitu siap sedia berada di sisi kita. Melihat dia tak lagi ada, rasanya sangat menyakitkan. Karena semua keindahan dan rasa aman itu mendadak lenyap. Itulah sebabnya, trauma percintaan efeknya seringkali jauh lebih merusak dari sekian banyak trauma yang lainnya.
Banyak orang hancur secara menyedihkan akibat trauma percintaan. Gagal beranjak. Susah percaya dengan pasangan baru. Ketakutan membangun hubungan baru dan kembali berpacaran. Mudah putus dan bercerai. Atau pada akhirnya, tak lagi percaya cinta dan hidup hanya untuk melampiaskan perasaan marah dan frustasi yang didapat di masa lalu. Trauma bisa membuat seseorang berubah menjadi perusak rumah tangga orang lain. Bergonta-ganti pasangan dan melakukan hubungan intim dengan siapa pun atau keluar masuk tempat-tempat mahal guna sekedar mengusir perasaan akan kegagalan cinta yang indah dan romantis.
Trauma percintaan juga bisa membuat seseorang tak ingin menikah, terfokus pada karir, dan pencapaian-pencapaian dunia.
Trauma bisa perlahan-lahan menghilang dan sembuh secara total jika ditangani dengan baik atau mendapatkan pengganti yang jauh lebih hebat dari yang ada di masa lalu. Tapi tak jarang, orang-orang gagal menghapusnya dan segera beranjak dari masa lalu buruknya. Keadaan semacam itu, membuat sisi traumatik kehidupan yang dimilikinya semakin parah, yang mana kebahagiaan pun sulit didapatkan. Tapi banyak juga, ini sisi positifnya, orang-orang yang mampu menjinakkan dan mengimbangi trauma yang dimilikinya serta hidup memuaskan.
Asal semuanya seimbang atau trauma itu tak lebih dominan, kita semua masih bisa bersenang-senang dan menikmati hidup.
Jika sampai hari ini kamu masih memiliki trauma yang parah dan cenderung merusak hidupmu. Mungkin kamu harus segera ke psikiater atau psikolog. Atau paling tidak, mulailah untuk memperhatikan diri sendiri dan segera mencari cara untuk keluar dari trauma itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
PSIKOLOGI, PSIKOTERAPI, DAN MASALAH LAINNYA
NonfiksiEsai-esai yang aku tulis ini, lebih berkaitan dengan dunia psikologi dan bagaimana kita keluar dari jeratan hidup yang menekan. Di sini kau akan menemukan bagaimana memilih psikiater atau psikolog sebelum memutuskan pergi ke klinik mereka. Bagaimana...
