KAMPUNG BUKU JOGJA: SAKIT KEPALA DI TENGAH BUKU-BUKU

217 8 8
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

MALAM ini aku berada di Universitas Gadjah Mada

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

MALAM ini aku berada di Universitas Gadjah Mada. Tepatnya di PKKH atau lebih jelasnya lagi, aku tengah berada dalam acara KAMPUNG BUKU JOGJA. Kali ini, baru melihat buku-buku saja, kepalaku rasanya sudah berat. Melihat buku yang begitu banyaknya, sudah cukup membuatku kelelahan. Hanya sekedar melihatnya. Belum membacanya.

Sisa dari demamku yang belum tuntas sembuh, membuatku sangat mudah terserang sakit kepala. Sejujurnya, beberapa tahun terakhir ini, aku merasa pusing saat melihat luar biasa banyak buku di depan mataku. Seolah-olah buku-buku yang ada di depan mataku saat ini tengah mengejekku.

Kapan aku bisa menyelesaikannya, semuanya? Yang jelas, itu tak mungkin.

Ada banyak buku menarik tapi aku sedang tak membutuhkannya. Lalu tiba-tiba saja bertemu dengan Bethoveen. Membuatku benar-benar ingin. Apa lagi tak sengaja melihat buku Manusia Jepang, aku nyaris tak kuat menahan diri. Setelah itu aku menemukan The Gay Science dari Nietzsche. Beruntung aku kuat menahan diriku kali ini.

Hanya melihat judul-judul buku saja sudah membuatku lelah dan kepalaku sakit. Terlalu banyak buku. Terlalu banyak. Sementara buku-buki di kamarku sendiri masih luar biasa banyak. Hanya melihat buku. Belum membacanya. Aku sudah kalah.

KAMPUNG BUKU JOGJA kali ini tak terlalu meriah. Bisa dibilang cukup sepi. Lebih menyenangkan saat dulu masih berada di Lembah UGM. Dan, bazar buku, bukanlah kegiatan masyarakat akademik UGM. Orang terpelajar tak membutuhkan banyak buku. Masyarakat universitas ini, mayoritasnya menganggap buku nomor entah ke berapa.

Rindu seseorang. Sangat rindu. Tapi aku coba menahannya. Hanya sekedar percaya padanya, sudah cukup membuatku tak terlalu gelisah. Malahan, buku-bukulah yang membuatku gelisah. Terlalu banyak. Terlalu banyak. Bahkan usia manusiaku tak akan pernah mampu menyelesaikannya.

Aku tak pernah bisa menyanjung universitas ini. Sebuah universitas gagal. Seperti halnya UI sebagai bukti kegilaan dan kebodohan Jakarta atau ITB yang mencerminkan ketololan masyarakat Bandung itu sendiri. Begitu juga Undip. Dan UGM, universitas besar dengan ribuan mahasiswa yang terlampau sedikit menghasilkan sesuatu yang penting. Terlampau sedikit di tengah ribuan mahasiswa di dalamnya. Kondisi yang tak bisa dibanggakan sama sekali.

Dan hanya makhluk keterlaluan tolollah yang masuk Fakultas Sastra dan Filsafat universitas ini. Untuk apa?

Aku bertemu beberapa kenalan. Sama-sama pusing melihat buku-buku. Akhirnya pergi keluar meninggalkan bazar buku yang membuatku sakit kepala.

Dan ah, UGM. Universitas besar yang terlampau kecil. Universitas yang sangat disia-siakan. Lalu apa peduliku?

PSIKOLOGI, PSIKOTERAPI, DAN MASALAH LAINNYACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang