Sakit jiwa meledak di tengah ekonomi yang bertumbuh. Itulah Indonesia. Negara di mana kita hidup dan tumbuh kembang. Tempat di mana hampir setiap hari, terdapat kabar orang tua yang membunuh anaknya. Seorang laki-laki membunuh kekasihnya. Para pengusaha yang membunuh saingannya. Para anggota militer maupun polisi yang marah atau depresi yang tak sengaja membunuh keluarga atau dengan sengaja membunuh orang-orang yang membuatnya marah. Para anak sekolah yang menganiyaya adik-adiknya hingga mati. Hingga anak-anak yang membunuh orang tua atau sesama teman bermainnya.
Inilah dunia yang sangat jelas ada dan nyata berada di depan mata. Yang diabaikan begitu saja, masyarakat yang berjumlah ratusan juta jiwa. Kenyataan yang dianggap tak penting baik oleh pemerintah dan masyarakat itu sendiri.
Di masa-masa ketika orang-orang mulai sering membunuh dan bunuh diri. Kebungkaman masyarakat luas untuk mendorong segera dan secepat mungkin ranah psikologi dan psikiatri agar berkembang dengan cepat, nyaris tak terjadi. Dua lingkup ruang itu tak penting untuk didanai, difasilitasi, dan dikembangkan dengan kecepatan tinggi untuk menanggulangi generasi mileneal yang mudah putus asa dan frustasi ditambah para orang tua mereka yang kebanyakan juga gagal dalam hal kejiwaan atau mental.
Inilah sebuah generasi yang dididik oleh generasi terdahulu yang berpenyakitan yang kelak akan juga lebih dahsyat dalam melahirkan generasi-generasi yang lebih berpenyakitan.
Dan tidakkah kita adalah yang salah satu yang berpenyakit?
KAMU SEDANG MEMBACA
PSIKOLOGI, PSIKOTERAPI, DAN MASALAH LAINNYA
No FicciónEsai-esai yang aku tulis ini, lebih berkaitan dengan dunia psikologi dan bagaimana kita keluar dari jeratan hidup yang menekan. Di sini kau akan menemukan bagaimana memilih psikiater atau psikolog sebelum memutuskan pergi ke klinik mereka. Bagaimana...
