Esai-esai yang aku tulis ini, lebih berkaitan dengan dunia psikologi dan bagaimana kita keluar dari jeratan hidup yang menekan. Di sini kau akan menemukan bagaimana memilih psikiater atau psikolog sebelum memutuskan pergi ke klinik mereka. Bagaimana...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sekarang aku berada di Alun-Alun Simpang Tujuh, Kudus. Menikmati diri sejenak. Membaca. Mengamati kota kecil yang rapi dan indah. Setelah sehari agak sakit dan malas untuk bercerita.
Kebakaran hutan di sekitar Grobogan atau Purwodadi membuat sedikit terpaku, berapa lama hutan di Jawa akan sanggup bertahan? Aku tak tahu. Tapi melihat banyak hutan semakin tersudut oleh api, tanaman pangan, perumahan dan pabrik. Membuatku sediki merenung.
Aku membelokkan sedikit tujuanku. Membatalkan memasuki Sukolilo, Pati dan Rembang. Dan kini, berada di Kudus setelah melewati hutan jati, deretan pegunungan kapur, dan pedesaan yang begitu lapang, rapi, indah, terlihat menyenangkan, dengan banyaknya rerimbunan pepohonan yang teduh dan segar. Seolah bagaikan mengejek kota-kota yang ada di negara ini.
Aku menikmati membaca sebentar My Natural History setelah tadi malam sedikit mengobati diri dengan Ten Million Aliens, dua buah buku milik Simon Barner yang menyenangkan.
Alun-alun ini terlihat tertata rapi. Sejuk. Banyak pepohonan sejenis glodokan, palem, mahoni, bakung, dan sebuah taman mungil yang indah. Sebuah mal berdiri kokoh di sisi timur dan masjid berada di sisi baratnya. Seolah menandakan peradaban yang tak terpisahkan antara agama, pasar, dan alun-alun.
Angin sepoi-sepoi membuatku agak mengantuk. Aku lihat buku di pangkuanku. Menyaksikan jalanan yang ramai tapi lancar dan tak ada kemacetan di siang yang lebih tepat pagi semacam ini.
Seekor burung penyanyi, kutilang melintasi lapangan rerumputan. Aku bangkit dari tempat dudukku. Melangkahkan kaki. Kembali berjalan.
Sebuah terapi untuk diriku sendiri. Terapi perjalanan. Menikmati diriku sendiri.