Dalam psikologi evolusioner, manusia berkembang dalam tahapan Darwinian. Yah, maksudnya, nenek moyang kita sudah ada sejak berjuta-juta tahun yang lalu diikuti dengan mulai berkembangnya kemampuan berbahasa, berkesadaran, dan timbulnya emosi dan munculnya etika. Jelas ini berbeda dengan psikologi yang didasari atas Tuhan, di mana manusia lahir dari dalam surga dan langsung dalam bentuk terbaiknya, tanpa perlu jutaan tahun berevolusi. Yang jelas, peduli kambing dengan sejarah manusia dalam dua bentuk itu. Yang kita tahu, sejarah manusia adalah seperti ini.
Kita lahir. Setidaknya sampai umur 2 tahun kita tak banyak mengingat ini dan itu. Umur 3 tahun, yah banyak paikolog, terlebih psikologi perkembangan mengatakan umur 3 tahun adalah masa sangat rawan. Karena kenangan baik atau buruk di usia itu, akan dibawa seumur hidup dan memengaruhi perkembangan psikologis kita. Setidaknya 3-6 tahun dan sekolah dasar, kita sudah mengenali cemburu, diabaikan, rasa sakit dan marah. Di usia antara itu, penentuan akan bagaimana kita hidup akan lebih terlihat jelas.
Ambil umurmu dari usia di mana kamu nyaris tak ingat dan begitu peduli dengan masa lalu. Entah karena banyak ingatan yang terhapus atau masa itu cukup indah. Lalu hitunglah dari mulai kamu merasakan sakit, marah, kecewa, depresi dan hal yang sampai sekarang kamu ingat dengan jelas, bahwa di usia itu, kamu sudah menunjukkan rasa sakit yang cukup dalam.
Ambil contoh kamu mulai memendam perasaan benci, sakit, kecewa, kesepian, dan hal tak menyenangkan lainnya di usia 6 tahun. Atau bisa kita ambil antara 6-12 tahun. Di mana kadang kita merasa tak memiliki teman, diteror guru, dibully orang sekitar, dimarahi atau dihajar orang tua, dan banyak kesan tak menyenangkan lainnya. Kesan yang sangat tak menyenangkan yang mulai kamu rasakan itulah yang menjadi patokan utama titik hidup kamu yang sebenarnya. Karena di awal itulah, kamu mulai mengenal rasa sakit dan kesepian yang dalam. Yang pada akhirnya akan semakin berkembang di kemudian hari.
Jika di sekolah dasar kamu pernah merasakan perasaan sangat tak menyenangkan itu. Lalu ditambah dengan sekolah menengah lalu saat kuliah lalu saat mencari kerja lalu saat menikah lalu saat menjadi orang tua. Maka, dari mulai usia kamu merasakan kesakitan dan kesepian sangat, apakah kebahagiaan yang lebih mendominasi ataukah kesedihan? Jika kebahagiaan yang mendominasi, dalam artian 75-85 persen kamu merasakan bahagia dari sepanjang hidupmu. Maka kamu cukup lumayan dalam menjalani hidup. Tapi jika 50 persen ke bawah kamu merasakan kesedihan atau 75 persen ke bawah, itu sudah hidup yang tak begitu menyenangkan. Entah kamu juara kelas, punya pacar keren, kaya raya, orang tua penyayang atau apalah itu yang menyenangkan. Tapi kehidupanmu sebagiannya sudah terbentuk oleh perasaan tak menyenangkan hampir sepanjang hidup. Apalagi jika malah kebahagianmu di bawah 50 persen dan kesedihan mendominasi hidupmu?
Saat masa bahagia kurang dari 75 atau 85 persen, ada banyak saat-saat tak menyenangkan yang pernah kita dapatkan. Dari mulai putus dengan pacar, disakiti lagi mantan, gagal move on, gagal dapat nilai memuaskan, gagal dalam mendapatkan sekolah dan universitas kesukaan, di mana semua itu diiringi kerja keras, depresi, frustasi, tidak tidur dan hal-hal yang menyenangkan adanya hanya saat kita masih kecil. Kita sering memang mengenang kembali masa kecil saat kita merasa tak terbebani ini dan itu. Memang benar, saat kamu mulai sekolah hingga menikah, sejarah kehidupanmu berubah jadi tuntutan dan tuntutan. Tuntutan dapat nilai baik, tak dianggap remeh, ingin dipandang, pasangan hidup, cari uang, dan kehormatan diri. Di mana pencarian semua itu, nyaris menyita sebagian besar waktumu selama hidup ditambah perasaan sedih, terasing dan sepi. Kebahagiaan memang ada di sela-sela itu, tapi toh ternyata tak banyak setelah kita merenungkannya dengan dalam.
Orang-orang yang telihat bahagia saat tua, nyaris 50-70 persen usia hidupnya digunakan untuk belajar, bekerja, cari uang, dan tentunya frustasi, depresi, dan merasakan hal-hal yang tak menyenangkan. Sejarah umat manusia, dalam kasarnya sejarah hidup kita ini, sedikit yang pernah merasakan kebahagiaan terus-menerus hampir mendekati 75 persen tanpa ada tekanan, depresi, frustasi, dan apalah itu. Bahkan orang yang punya warisan besar, orang tua kaya, dimanjakan sejak kecil toh saat patah hati, dia akan mengenangkan seumur hidup atau sampai bertahun-tahun. Saat ini, mau kamu anak pejabat, anak dewa atau Tuhan, yang namanya bersekolah dan mencari nilai, karena semua orang dipaksa untuk sekolah. Maka, awal teror kehidupan pun sudah dimulai. Teror pertemanan, guru, hingga prestasi dan belajar tiada henti.
Inilah tepatnya sejarah manusia. Sejarah kita. Di mana kita hidup setiap harinya. Siapa pun yang pernah merasakan kebahagiaan hampir sepanjang usia hidupnya, pastilah kehidupan cukuplah menyenangkan. Jika tidak, sejarah hidup kita, walau mau diselingi oleh kebahagiaan apa pun itu, toh terlalu banyak diselilingi hal-hal yang tak menyenangkan. Itulah sebabnya, kadang kita harus heran, bisa-bisanya kita hidup begitu lamanya kalau memang sejarah hidup kita seperti itu?
KAMU SEDANG MEMBACA
PSIKOLOGI, PSIKOTERAPI, DAN MASALAH LAINNYA
Non-FictionEsai-esai yang aku tulis ini, lebih berkaitan dengan dunia psikologi dan bagaimana kita keluar dari jeratan hidup yang menekan. Di sini kau akan menemukan bagaimana memilih psikiater atau psikolog sebelum memutuskan pergi ke klinik mereka. Bagaimana...
